Dr. Sani Bin Husain Gunakan Aplikasi Digital dan Buku Laporan Saat Gelar Reses

SAMARINDA – Anggota Komisi II sekaligus Wakil Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Samarinda, Dr. Sani Bin Husain, membuat terobosan baru dalam metode penyerapan aspirasi masyarakat. Pada puncak Penyerapan Aspirasi (Reses) Masa Persidangan II yang digelar di Sekolah Alam, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, Dr. Sani mendobrak cara lama dengan menggunakan aplikasi digital dan membagikan buku laporan kinerja.

Langkah inovatif tersebut diambil untuk memastikan komunikasi antara wakil rakyat dan konstituennya dapat berjalan tanpa sekat geografis dan waktu.

Suasana di lokasi kegiatan tampak begitu hidup dan dinamis. Kendati wilayah Samarinda Ulu sempat diguyur hujan deras sesaat sebelum acara dimulai, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan antusiasme publik. Kurang lebih 200 warga berbondong-bondong memadati area Sekolah Alam untuk berdialog langsung dengan wakil mereka di parlemen.

Dalam sambutannya di hadapan peserta yang hadir, Dr. Sani kembali memperkenalkan aplikasi bernama ‘Sani Mendengar’ yang kini sudah bisa diunduh secara bebas melalui Google Play Store.

“Saya sudah membuat aplikasi pertama se-Indonesia yaitu aplikasi ‘Sani Mendengar’. Warga bisa menyampaikan aspirasi apa pun di situ, 24 jam selama 7 hari. Sambil baring-baring di rumah bisa mengetik yang penting punya handphone,” ujar Dr. Sani disambut antusias gemuruh warga yang hadir, Minggu (24/5/2026).

Menurutnya di era perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, pola serap aspirasi tidak boleh mandek pada pertemuan fisik yang hanya terjadwal beberapa kali dalam setahun.

“Saya ingin selalu tersambung dengan masyarakat di Dapil saya. Dengan aplikasi ini, masyarakat di Dapil Samarinda Ulu bisa mengajukan aspirasinya secara cepat, mudah, dan praktis, kapan saja dan di mana saja. Ini jalan komunikasi kita di era digital,” tambahnya.

Tidak hanya menyediakan wadah untuk mendengar, Politisi PKS tersebut menjunjung tinggi asas transparansi dan akuntabilitas publik. Ia melaporkan seluruh progres dan hasil kerja nyatanya di parlemen melalui sebuah buku berjudul ‘Sani Bersuara’ yang dibagikan secara gratis kepada warga dan pimpinan DPRD.

Dirinya menambahkan menceritakan bagaimana buku laporan tersebut menjadi bukti pertanggungjawabannya yang autentik.

“Ada Sani Mendengar, ada Sani Bersuara. Kalau peribahasa, ibaratnya saya sudah kasih kolam, pimpinan masih minta pancuran airnya. Maksudnya, kolam laporan sudah saya kasih dalam bentuk buku, tapi masih diminta laporan tertulis lagi. Ya tidak apa-apa, tetap kita penuhi,” kata Dr Sani.

Dari hasil penggalian aspirasi yang dilakukannya selama lebih kurang satu pekan penuh, Dr. Sani memetakan dua persoalan utama yang paling dikeluhkan oleh masyarakat Kecamatan Samarinda Ulu.

“Dari hasil lapangan, ada dua porsi besar yang diinginkan warga. Pertama, banyak warga yang menginginkan penyelesaian infrastruktur, terutama jalan dan drainase yang belum tuntas di Kecamatan Samarinda Ulu. Kedua, ada keluhan mengenai pelayanan instalasi air bersih,” jelasnya.

Ia menegaskan seluruh keluhan tersebut tidak akan sekadar menjadi catatan di atas kertas, melainkan dikawal ketat agar selaras dengan arah pembangunan jangka menengah daerah.

“Dua porsi besar ini akan saya tindaklanjuti, terutama sesuai dengan arah RPJMD Kota Samarinda. Satu kalimat dan tekad saya, akan saya perjuangkan semua aspirasi masyarakat. Saya akan terus berjuang agar semua aspirasi ini dapat direalisasikan demi kesejahteraan masyarakat Kota Samarinda,” tegasnya.

Selain memperjuangkan urusan fisik kota, Dr. Sani menunjukkan kepeduliannya pada sektor kesehatan masyarakat secara langsung. Di tengah kehangatan interaksi sore itu, ia secara simbolis membagikan paket berisi 30 butir telur gratis per orang kepada seluruh warga yang memadati lokasi.

“Saya ingin bantu Wali Kota dan Kota Samarinda melawan stunting. Ini aksi nyata kita untuk kesehatan anak-anak kita,” tambahnya.

Acara yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan dengan cara yang unik. Menolak berlama-lama memberikan sambutan formal yang kaku, Dr. Sani mengakhirinya dengan sebuah pantun jenaka. (rm/adv)

Pewarta: Abdi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI