KENAIKAN harga tiket pesawat dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh dunia usaha di Kota Balikpapan. Kota yang selama ini tumbuh sebagai pusat jasa, perdagangan, logistik, dan pintu gerbang utama Kalimantan Timur itu sangat bergantung pada konektivitas udara untuk menjaga perputaran ekonomi tetap berjalan.
Di tengah kenaikan tarif penerbangan yang dipicu penerapan fuel surcharge akibat melonjaknya harga avtur global, kalangan pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian. Perjalanan dinas dikurangi, agenda bisnis dipadatkan, hingga efisiensi operasional dilakukan untuk menekan pengeluaran.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan, Noval Asfihani, menilai kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, mahalnya tiket pesawat berpotensi memberikan efek domino terhadap aktivitas ekonomi di Balikpapan maupun Kalimantan Timur secara umum.
“Kalau tiket pesawat terus naik, tentu berdampak terhadap mobilitas pelaku usaha. Balikpapan ini bertumpu pada sektor jasa dan perdagangan, sehingga konektivitas udara sangat penting untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak,” ujarnya.
Ia mengatakan sektor usaha di Balikpapan memiliki ketergantungan tinggi terhadap transportasi udara. Tidak hanya untuk perjalanan bisnis, tetapi juga mendukung distribusi barang, koordinasi proyek, kunjungan investor, hingga pergerakan tenaga kerja profesional.
Menurut Noval, pelaku usaha kini mulai lebih selektif mengatur perjalanan. Beberapa perusahaan memilih mengurangi frekuensi kunjungan kerja, memanfaatkan rapat daring, atau menggabungkan beberapa agenda sekaligus dalam satu perjalanan untuk menekan biaya.
“Biaya operasional jelas ikut naik. Ini dirasakan sektor perdagangan, jasa, hotel, restoran, sampai UMKM yang rutin bepergian atau mendatangkan mitra usaha dari luar daerah,” katanya.
Efek Berantai ke Sektor Jasa
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu perlambatan di sektor-sektor penopang ekonomi perkotaan. Balikpapan selama ini dikenal sebagai kota jasa yang hidup dari mobilitas tinggi pelaku usaha, pekerja migas, kontraktor, tamu bisnis, hingga kegiatan pemerintahan.
Tingginya harga tiket dikhawatirkan membuat frekuensi perjalanan ke Balikpapan menurun. Dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai penerbangan, tetapi juga hotel, transportasi lokal, restoran, pusat perbelanjaan, hingga penyelenggara kegiatan dan pertemuan bisnis.
Di sisi lain, Kalimantan Timur masih memiliki keterbatasan moda transportasi alternatif antarkota maupun antarprovinsi. Jalur udara menjadi pilihan utama karena faktor jarak dan efisiensi waktu, terutama bagi pelaku usaha yang membutuhkan mobilitas cepat.
Situasi itu membuat harga tiket pesawat menjadi faktor sensitif terhadap aktivitas ekonomi daerah.
“Kalau biaya mobilitas meningkat, otomatis dunia usaha akan menghitung ulang pengeluaran. Dalam jangka panjang ini bisa mempengaruhi iklim investasi dan kunjungan bisnis,” jelas Noval.
Momentum IKN dan Tantangan Konektivitas
Kenaikan tarif penerbangan juga terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Balikpapan selama ini menjadi pintu masuk utama menuju kawasan IKN karena memiliki infrastruktur transportasi paling lengkap di wilayah tersebut.
Mobilitas investor, konsultan, kontraktor, hingga pejabat pemerintahan menuju Balikpapan dan IKN diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Namun di saat bersamaan, tingginya harga tiket dinilai bisa menjadi tantangan tersendiri bagi upaya menjaga daya saing daerah.
Pelaku usaha berharap momentum pembangunan IKN justru diikuti penguatan konektivitas penerbangan, bukan sebaliknya.
Kadin Balikpapan meminta pemerintah pusat bersama maskapai penerbangan menjaga stabilitas tarif agar aktivitas ekonomi tidak terganggu. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah menambah frekuensi penerbangan pada rute-rute strategis menuju Balikpapan sehingga persaingan harga menjadi lebih kompetitif.
“Kami berharap ada kebijakan yang bisa menjaga keterjangkauan tiket. Karena konektivitas udara bukan hanya soal transportasi, tetapi menyangkut keberlangsungan ekonomi daerah,” tegas Noval.
Sebelumnya, sejumlah maskapai menerapkan fuel surcharge menyusul kenaikan harga avtur global akibat dinamika geopolitik internasional. Kenaikan tarif penerbangan dari dan menuju Balikpapan disebut berada di kisaran 9 hingga 13 persen.
Meski belum berdampak signifikan terhadap pergerakan penumpang secara keseluruhan, dunia usaha menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius agar tidak berkembang menjadi hambatan baru bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur. (MK)





