SAMARINDA – Gubernur Rudy Mas’ud menyebut ketersediaan energi menjadi salah satu harapan besar pembangunan Kalimantan Timur di tengah melimpahnya potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut.
Hal itu disampaikan Rudy saat menghadiri Groundbreaking Ceremony proyek PLTA Batoq Kelo dan Access Road Kaltara di Pendopo Odah Etam, Senin (25/5/2026).
Menurut Rudy, Kalimantan Timur memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari batu bara hingga emas. Namun potensi tersebut belum dapat dimaksimalkan karena keterbatasan infrastruktur, khususnya akses energi listrik.
“Energi menjadi harapan utama kami. Kalimantan Timur masih memiliki banyak sekali potensi sumber daya alam, mulai dari batu bara sampai emas. Tetapi potensi-potensi itu belum bisa diolah maksimal karena minimnya infrastruktur,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rudy menyampaikan apresiasi kepada Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo atas upaya percepatan elektrifikasi di Kalimantan Timur. Ia juga menyampaikan salam hormat kepada Presiden RI melalui Hashim Djojohadikusumo.
“Atas nama masyarakat Kalimantan Timur, kami mengucapkan terima kasih kepada PLN dan kepada Pak Hashim sebagai utusan langsung Bapak Presiden. Salam hormat kami untuk Bapak Presiden, semoga beliau sehat dan dimudahkan dalam menjalankan tugas,” katanya.
Rudy mengungkapkan hingga saat ini masih terdapat 72 desa di Kalimantan Timur yang belum menikmati aliran listrik. Dari total 110 desa sebelumnya, sebagian telah berhasil dialiri listrik, namun masih banyak wilayah terpencil yang memerlukan perhatian serius.
“Hari ini masih ada 72 desa yang belum teraliri listrik. Harapan kami, mudah-mudahan segera bisa diselesaikan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan wilayah yang belum terjangkau listrik tidak hanya berada di Mahakam Ulu, tetapi tersebar di Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau. Menurutnya luas wilayah Kalimantan Timur menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan pembangunan infrastruktur energi.
“Khususnya di Kutai Timur dan Berau, masih ada beberapa wilayah yang belum teraliri listrik. Wilayah kami sangat luas, mencapai 127 ribu kilometer persegi, hampir setara dengan Pulau Jawa,” jelas Rudy.
Ia menyebut luas Kaltim hanya terpaut sekitar 500 kilometer persegi dibandingkan luas Pulau Jawa, sementara jumlah penduduknya jauh lebih sedikit yakni sekitar 4 juta jiwa. Kondisi itu membuat pembangunan infrastruktur membutuhkan pendekatan dan strategi khusus.
Menanggapi hal tersebut, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, memastikan akan menindaklanjuti kebutuhan elektrifikasi desa-desa di Kalimantan Timur bersama PLN dan Kementerian ESDM.
“Nanti saya akan follow up dengan Pak Dirut PLN agar 72 desa itu bisa dipenuhi listriknya. Nanti kita akan lobi Pak Menteri ESDM,” ujar Hashim.
Adik kandung Presiden Prabowo itu menegaskan dukungannya terhadap pengembangan energi bersih di Kalimantan Timur, termasuk proyek-proyek pembangkit listrik yang dinilai mampu mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada investor dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan proyek energi hijau di Kaltim.
“Selamat kepada investor, Pemprov Kaltim, dan PLN. Semoga masyarakat bisa mendapatkan listrik murah dan bersih,” katanya.
Menurut Hashim, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, dan investor menjadi kunci penting dalam mewujudkan pemerataan energi hingga ke wilayah terpencil di Indonesia.
“Saya berharap Kalimantan Timur akan semakin maju dan berjaya untuk rakyat Kalimantan Timur,” jelas Hashim.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





