Laju Ekonomi Berau Turun Signifikan, Pemkab Siapkan Strategi Pemulihan

BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau menghadapi tantangan serius dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Berau mengalami penurunan cukup tajam yang dipengaruhi oleh melemahnya sektor pertambangan, efisiensi anggaran pemerintah, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Berau pada tahun 2025 tercatat turun signifikan dari 7,82 persen menjadi 2,48 persen. Kondisi tersebut menempatkan Berau sebagai daerah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terendah kedua di Kalimantan Timur.

“Pada 2025 pertumbuhan ekonomi tercatat turun dari 7,82 persen menjadi 2,48 persen. Penurunan itu menempatkan Kabupaten Berau sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi terendah kedua di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Menurut Gamalis, perlambatan ekonomi yang terjadi tidak terlepas dari struktur ekonomi Berau yang masih sangat bergantung pada sektor pertambangan dan penggalian. Selama ini sektor tersebut menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Berau.

Ketika aktivitas pertambangan mengalami perlambatan, dampaknya langsung dirasakan hampir seluruh sektor ekonomi daerah. Mulai dari sektor jasa, perdagangan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat secara umum ikut mengalami penurunan.

“Sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung ekonomi Berau. Ketika sektor ini mengalami penurunan, dampaknya langsung terasa pada pertumbuhan ekonomi daerah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu sektor ekonomi menyimpan risiko yang cukup tinggi. Saat sektor utama mengalami tekanan, maka stabilitas ekonomi daerah turut terganggu.

Selain kontraksi di sektor tambang, faktor lain yang turut memengaruhi perlambatan ekonomi adalah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah. Penyesuaian belanja negara maupun daerah menyebabkan sejumlah program pembangunan dan kegiatan ekonomi yang selama ini bergantung pada anggaran pemerintah mengalami perlambatan.

Menurut Gamalis, kondisi tersebut memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor usaha yang selama ini memperoleh manfaat dari perputaran anggaran pemerintah.

“Ketika terjadi penurunan belanja pemerintah, sektor jasa, kontraktor, hingga perdagangan ikut terdampak,” katanya.

Tekanan ekonomi diperparah oleh gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di sejumlah sektor industri pada akhir tahun 2025. Berkurangnya jumlah pekerja berdampak langsung pada kemampuan belanja masyarakat yang kemudian memengaruhi aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

“Gelombang PHK tersebut membuat daya beli masyarakat menurun, sehingga perputaran ekonomi di daerah ikut melambat,” jelasnya.

Saat ini di tengah kondisi tersebut, sektor pariwisata yang selama ini diharapkan menjadi salah satu alternatif penggerak ekonomi daerah dinilai belum mampu memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mengimbangi penurunan dari sektor pertambangan.

Padahal Berau memiliki potensi wisata kelas dunia dengan destinasi unggulan seperti Kepulauan Derawan, Maratua, Kakaban dan sejumlah objek wisata alam lainnya yang dikenal hingga mancanegara.

“Pariwisata memiliki potensi besar, tetapi pertumbuhannya saat ini belum mampu mengimbangi penurunan dari sektor tambang,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Berau mulai mengarahkan strategi pemulihan ekonomi dengan memperkuat sektor ekonomi kerakyatan. Salah satu fokus utama adalah mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinilai memiliki kemampuan lebih cepat dalam menciptakan aktivitas ekonomi dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Menurut Gamalis, UMKM memiliki keunggulan karena mampu bergerak fleksibel di tengah berbagai kondisi ekonomi serta langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“UMKM ini yang paling cepat bergerak dan langsung menyentuh masyarakat. Ini yang harus kita dorong agar ekonomi bisa kembali bangkit,” tegasnya.

Selain penguatan UMKM, Pemkab Berau mulai menyiapkan langkah jangka panjang melalui diversifikasi ekonomi. Strategi tersebut dilakukan dengan mengurangi ketergantungan terhadap sektor tambang dan memperkuat sektor-sektor produktif lainnya seperti pertanian, perikanan, perkebunan, serta pariwisata.

Menurutnya sektor-sektor tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih berkelanjutan dan tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

“Kalau kita ingin ekonomi lebih stabil, kita tidak bisa terus bergantung pada tambang. Sektor lain harus menjadi penopang baru,” tegasnya.

Gamalis optimistis, apabila upaya transformasi ekonomi tersebut dijalankan secara konsisten dan berkesinambungan, Kabupaten Berau akan mampu keluar dari tekanan perlambatan ekonomi saat ini.

Tidak hanya memulihkan pertumbuhan ekonomi, langkah tersebut diharapkan dapat membangun struktur ekonomi daerah yang lebih kuat, seimbang, dan tahan terhadap berbagai tantangan di masa mendatang.

“Kalau ini berjalan konsisten, Berau dapat bangkit kembali dan menjadi lebih kuat ke depannya,” jelasnya. (rm/adv/dez)

Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI