BERAU – Pembangunan fisik Balai Latihan Kerja (BLK) milik Pemerintah Kabupaten Berau telah selesai dibangun.
Namun gedung yang diproyeksikan menjadi pusat pengembangan keterampilan dan pencetak tenaga kerja terampil tersebut belum dapat langsung beroperasi karena masih memerlukan sejumlah fasilitas pendukung serta persiapan sumber daya manusia yang memadai.
Pemerintah Kabupaten Berau menegaskan tidak ingin terburu-buru mengoperasikan BLK sebelum seluruh kebutuhan pelatihan terpenuhi. Langkah itu dilakukan untuk memastikan lembaga tersebut benar-benar mampu menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan saat ini pemerintah daerah tengah melakukan pemetaan kebutuhan sarana pelatihan yang akan ditempatkan di dalam gedung. Berbagai peralatan praktik, mesin pelatihan, hingga instrumen pendukung lainnya menjadi fokus pembahasan agar program pelatihan yang nantinya dijalankan dapat berjalan secara maksimal.
Menurutnya keberadaan gedung yang representatif harus didukung dengan fasilitas pelatihan yang memadai. Tanpa dukungan alat praktik yang sesuai standar, tujuan utama pembentukan BLK untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal tidak akan tercapai secara optimal.
“Insya Allah, untuk anggaran APBD 2027 akan dianggarkan untuk fasilitas di BLK,” ujarnya.
Gamalis menjelaskan keberadaan BLK memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Berau. Lembaga tersebut diharapkan mampu menjadi wadah peningkatan kompetensi bagi para pencari kerja, lulusan sekolah, maupun masyarakat yang ingin meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja.
Saat ini di tengah perkembangan sektor industri, perkebunan, pertambangan, jasa, hingga pariwisata yang terus tumbuh di Berau, kebutuhan tenaga kerja terampil menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pemerintah daerah menilai operasional BLK harus dipersiapkan secara matang agar mampu menjawab kebutuhan tersebut.
“Kita terus berjuang untuk percepatan operasionalnya karena itu menyangkut kesiapan tenaga kerja kita,” katanya.
Selain melengkapi fasilitas pelatihan, pemerintah daerah juga memberikan perhatian serius terhadap kesiapan tenaga instruktur. Kualitas pengajar dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program pelatihan yang akan dijalankan nantinya.
Meski begitu, Gamalis memastikan ketersediaan instruktur lokal saat ini masih cukup untuk mendukung pelaksanaan sejumlah program pelatihan dasar yang direncanakan. Para tenaga pelatih yang ada dinilai memiliki kompetensi yang dapat dimanfaatkan pada tahap awal operasional BLK.
Namun apabila di kemudian hari terdapat kebutuhan pelatihan khusus yang memerlukan keahlian tertentu, pemerintah daerah tidak menutup kemungkinan untuk mendatangkan instruktur dari luar daerah maupun bekerja sama dengan lembaga pelatihan dan sertifikasi profesional.
“Untuk pelatih bisa saja didatangkan dari luar, tapi saat ini yang di Berau masih cukup. Kalau memang masih kurang, ya dari luar juga tidak apa-apa,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Berau berharap BLK dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam menekan angka pengangguran terbuka sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal. Dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, masyarakat Berau diharapkan mampu mengisi berbagai peluang kerja yang terus berkembang di daerah sendiri.
Untuk ke depan, BLK diharapkan menjadi pusat pengembangan kompetensi yang mampu menjembatani kebutuhan dunia usaha dengan ketersediaan tenaga kerja lokal.
“Ke depan, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya. (rm/adv/dez)
Editor: Yahya Yabo





