KETIKA nilai tukar dolar Amerika Serikat menembus level Rp18 ribu, dampaknya tidak hanya terasa di pasar keuangan atau industri besar yang bergantung pada impor. Di lapisan paling bawah ekonomi daerah, gejolak kurs juga mulai menggerus ruang gerak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Timur.
Harga bahan baku naik. Kemasan melonjak. Biaya distribusi membengkak. Sementara di sisi lain, daya beli masyarakat justru menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Dalam situasi seperti itu, UMKM dipaksa menghadapi dilema klasik: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga dengan mengorbankan margin keuntungan yang semakin tipis.
Bagi Kalimantan Timur yang tengah menikmati geliat investasi dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), kondisi ini menghadirkan paradoks. Di atas kertas, pertumbuhan ekonomi daerah masih terjaga. Namun di tingkat pelaku usaha kecil, tekanan ekonomi global mulai terasa nyata dan menguji daya tahan sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih, mengakui penguatan dolar memberikan tekanan langsung terhadap struktur biaya usaha UMKM.

Menurutnya, sebagian bahan baku dan bahan penolong produksi masih bergantung pada impor. Akibatnya, kenaikan kurs secara otomatis meningkatkan harga pokok produksi yang harus ditanggung pelaku usaha.
“Komponen penyusun harga pokok produksi ikut meningkat karena sebagian bahan baku maupun bahan penolong masih bergantung pada impor. Akibatnya, perhitungan harga pokok produksi tidak lagi bisa menggunakan acuan lama,” ujarnya.
Tidak hanya bahan baku, biaya kemasan yang selama ini dianggap komponen sederhana juga ikut terdampak. Harga plastik dan kertas yang menjadi kebutuhan utama UMKM dilaporkan mengalami kenaikan signifikan bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha harus menghitung ulang strategi bisnis mereka. Sebagian memilih menaikkan harga produk. Sebagian lainnya mengurangi ukuran atau volume produk agar harga tetap terjangkau konsumen.
Namun pilihan itu tidak mudah. Di tengah daya beli yang sedang melemah, kenaikan harga berpotensi menurunkan permintaan pasar.
Daya Beli Melemah, Omzet Menyusut
Tekanan terhadap UMKM tidak hanya datang dari sisi biaya produksi. Di sejumlah daerah, pelaku usaha juga mulai menghadapi perlambatan transaksi akibat masyarakat yang semakin selektif membelanjakan uangnya.
Di Balikpapan, misalnya, kondisi tersebut mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kota Balikpapan, Heru Resandy, menyebut sebagian besar UMKM memang masih mampu bertahan. Namun aktivitas transaksi di sejumlah sektor mengalami perlambatan.
“Masyarakat saat ini lebih selektif dalam membelanjakan uangnya dan lebih mengutamakan kebutuhan pokok,” ujarnya.
Dampak paling besar dirasakan sektor nonprimer seperti fesyen, kerajinan, dan produk gaya hidup yang sangat bergantung pada belanja konsumtif masyarakat.
Siti Rahmawati, salah seorang pelaku UMKM kuliner di Balikpapan, mengaku omzet usahanya turun sekitar 15 hingga 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pelanggan masih datang, tetapi jumlah belanja mereka lebih sedikit daripada biasanya,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan tekanan yang dialami UMKM datang dari dua arah sekaligus. Biaya produksi naik, sementara kemampuan pasar menyerap produk justru melemah.
Kreativitas Jadi Senjata Bertahan
Meski menghadapi tekanan berlapis, sejumlah pemerintah daerah menilai UMKM memiliki keunggulan yang tidak dimiliki sektor usaha besar: kemampuan beradaptasi.
Asisten III Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Ali Fitri Noor, menilai daya tahan UMKM telah terbukti dalam berbagai krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia.

Ali Fitri Noor.
Ia mengingatkan bahwa saat krisis moneter 1998 mengguncang berbagai sektor usaha, UMKM justru menjadi kelompok yang paling cepat bertahan.
“Tahun 1997 kita mengalami badai ekonomi. UMKM tetap bertahan karena UMKM itu kreatif orangnya,” ujarnya.
Menurut Ali, pola adaptasi yang sama kini kembali terlihat.
Ketika harga plastik naik akibat tekanan kurs dolar, sebagian pelaku usaha beralih menggunakan kemasan berbahan kertas atau bahan alami. Saat bahan pewarna impor semakin mahal, sebagian produsen makanan mulai menggunakan pewarna alami dari kunyit dan bahan lokal lainnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi justru memaksa UMKM melakukan inovasi yang sebelumnya tidak terpikirkan.
“Mereka kreatif, mereka mencari ganti dengan daun, dengan kertas, dan sebagainya,” katanya.
Adaptasi tersebut memang belum sepenuhnya menghilangkan tekanan biaya. Namun setidaknya menjadi strategi bertahan agar usaha tetap berjalan tanpa harus membebani konsumen secara berlebihan.
Modal dan Akses Pasar Masih Menjadi Persoalan
Selain persoalan biaya produksi dan daya beli, akses permodalan masih menjadi tantangan utama bagi banyak UMKM.
Meski program Kredit Usaha Rakyat (KUR) tersedia, tidak semua pelaku usaha mampu memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan lembaga keuangan.
Di sisi lain, kemampuan pemasaran dan perluasan pasar juga masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur, Marhadin, menilai persoalan UMKM saat ini tidak lagi semata-mata soal modal.
Menurutnya, akses pasar, peningkatan kapasitas usaha, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi justru menjadi tantangan yang lebih mendesak.
Karena itu, digitalisasi terus didorong agar pelaku usaha memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
“UMKM harus menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Kutai Timur. Tugas kami memastikan pelaku usaha lokal memiliki kesempatan berkembang dan naik kelas,” tegasnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Bank Indonesia Balikpapan yang mendorong digitalisasi sebagai strategi memperkuat daya tahan UMKM menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Kredit Paser TUNTAS Jadi Bantalan UMKM
Di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat dan melemahnya daya beli masyarakat, Pemerintah Kabupaten Paser memilih mempertahankan program Kredit Paser TUNTAS sebagai salah satu instrumen menjaga ketahanan ekonomi kerakyatan.
Program pembiayaan tanpa bunga tersebut dinilai menjadi solusi bagi pelaku usaha kecil yang membutuhkan tambahan modal kerja untuk mempertahankan maupun mengembangkan usahanya di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disprindagkop-UKM) Kabupaten Paser, Yusuf, mengatakan minat pelaku UMKM terhadap program tersebut terus meningkat sepanjang 2026. Hingga pertengahan tahun, tercatat lebih dari 800 pelaku usaha mengajukan pembiayaan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 500 berkas yang telah memenuhi persyaratan administrasi sudah diajukan ke Bank Kaltimtara untuk proses lebih lanjut. Sementara puluhan pelaku usaha telah menerima pencairan pembiayaan setelah melalui tahapan verifikasi.
Menurut Yusuf, seleksi dilakukan secara ketat untuk memastikan bantuan benar-benar diterima oleh pelaku usaha yang aktif dan memiliki prospek usaha yang baik.
“Program pembiayaan ini harus dijalankan secara hati-hati. Karena harus dipastikan juga untuk proses pengembaliannya nanti, dipastikan juga kemampuan penerima menjalankan usahanya, jadi penerima ini akan diseleksi sebaik-baiknya,” ujarnya.
Yusuf menilai keberadaan Kredit Paser TUNTAS menjadi semakin penting ketika pelaku usaha menghadapi tekanan berlapis. Selain dampak penguatan dolar terhadap harga bahan baku, masyarakat juga menghadapi kenaikan biaya hidup, inflasi sejumlah komoditas, hingga perlambatan pada sektor-sektor utama ekonomi daerah seperti pertambangan dan perkebunan.
Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat sekaligus mengurangi kemampuan UMKM untuk melakukan ekspansi usaha apabila tidak didukung akses permodalan yang memadai.
“Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan seperti saat ini, program Kredit Paser TUNTAS menjadi semakin penting untuk membantu pelaku UMKM mempertahankan dan mengembangkan usahanya,” tegas Yusuf.
Meski Pemerintah Kabupaten Paser tengah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran, Yusuf memastikan program tersebut tetap menjadi prioritas karena menyangkut langsung keberlangsungan usaha masyarakat.
Pemerintah daerah bersama Bank Kaltimtara juga terus melakukan sinkronisasi aturan dan petunjuk teknis agar proses pencairan pembiayaan dapat berjalan lebih cepat dan menjangkau lebih banyak pelaku usaha.
Bahkan apabila pada tahun depan kembali terjadi penyesuaian anggaran akibat kebijakan efisiensi, keberlangsungan Kredit Paser TUNTAS dipastikan tetap dipertahankan.
“Meski tahun depan pemerintah daerah kembali mengalami efisiensi anggaran, program ini dipastikan akan terus berjalan, walaupun nantinya akan ada penyesuaian terkait kuota penerima bantuan,” pungkasnya.
Sedikit Harapan Baru dari IKN dan Ekspor
Di tengah berbagai tekanan tersebut, peluang tetap terbuka. Penguatan dolar justru dapat menjadi keuntungan bagi UMKM yang mampu menembus pasar ekspor. Produk yang dijual dalam mata uang asing berpotensi memperoleh margin lebih besar ketika dikonversi ke rupiah.
Melihat peluang itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai memperkuat akses pasar internasional melalui program Business Matching dengan pembeli dari Malaysia.
Sejumlah produk unggulan seperti kopi, cokelat, madu, makanan olahan, dan produk herbal telah diperkenalkan kepada calon pembeli luar negeri.
Beberapa UMKM bahkan telah berhasil menembus pasar Korea Selatan, Australia, Afrika, dan Malaysia.
Di sisi lain, pembangunan IKN juga membuka peluang ekonomi baru yang belum pernah dimiliki Kalimantan Timur sebelumnya.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Conrita Ermanto, menegaskan bahwa penguatan UMKM menjadi bagian penting dalam pembangunan kawasan ibu kota baru.
Berbagai program pelatihan, pendampingan, legalitas usaha, sertifikasi halal, hingga literasi keuangan terus dilakukan agar pelaku UMKM lokal mampu menjadi bagian dari rantai ekonomi IKN.
Otorita juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk mengisi berbagai kawasan komersial dan kegiatan ekonomi yang berkembang di kawasan Nusantara.
Kondisi yang dihadapi UMKM Kalimantan Timur saat ini menggambarkan wajah ekonomi daerah yang sesungguhnya. Di tengah pertumbuhan investasi, pembangunan infrastruktur, dan optimisme menuju pusat pemerintahan baru, sektor usaha kecil tetap harus berjuang menghadapi tekanan paling mendasar: biaya usaha yang meningkat dan daya beli yang melemah.
Namun sejarah menunjukkan UMKM selalu menjadi sektor yang paling tangguh menghadapi krisis. Fleksibilitas, kreativitas, dan kedekatan dengan kebutuhan masyarakat membuat sektor ini mampu beradaptasi ketika kondisi ekonomi berubah.
Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana bertahan dari lonjakan dolar atau perlambatan konsumsi. Lebih dari itu, bagaimana pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha dapat memanfaatkan momentum pembangunan IKN dan peluang ekspor untuk mendorong UMKM naik kelas.
Sebab jika UMKM mampu melewati fase tekanan ini, bukan tidak mungkin mereka justru menjadi pihak yang paling diuntungkan ketika roda ekonomi Kalimantan Timur kembali bergerak lebih cepat. Di tengah badai ketidakpastian global, UMKM tetap menjadi jangkar utama ekonomi daerah meski dikatakan sebagai sektor yang mungkin paling rentan, tetapi juga paling terbukti mampu bertahan. (MK)





