TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menilai angka pertumbuhan ekonomi daerah perlu dibaca lebih rinci agar tidak hanya bertumpu pada kondisi sektor pertambangan. Dominasi industri batu bara yang masih sangat besar dinilai kerap memengaruhi gambaran umum perekonomian Kukar.
Hal itu disampaikan Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, usai menghadiri acara pencanangan Sensus Ekonomi 2026. Menurut Aulia, hasil sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) akan menjadi instrumen penting untuk memotret kondisi ekonomi daerah secara lebih utuh.
Sensus Ekonomi 2026 sendiri merupakan kegiatan nasional yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali. Pemerintah daerah berharap data yang dihasilkan nantinya dapat menjadi dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan dan ekonomi di Kukar.
“Keberadaan data dan informasi terkait situasi perekonomian di Kutai Kartanegara juga sangat penting bagi pemerintah daerah untuk pengambilan kebijakan yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara,” kata Aulia, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan selama ini struktur ekonomi Kukar masih didominasi sektor pertambangan dan penggalian. Kondisi tersebut membuat perubahan yang terjadi di sektor tambang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Aulia mengungkapkan hasil diskusinya dengan BPS menunjukkan bahwa sekitar 62 persen struktur ekonomi Kukar masih ditopang sektor pertambangan dan penggalian.
Karena itu, ketika aktivitas tambang mengalami perlambatan, dampaknya langsung terasa terhadap angka pertumbuhan ekonomi daerah. Situasi tersebut terjadi seiring penurunan produksi batu bara dan berkurangnya aktivitas usaha akibat penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
“Nah oleh karenanya tadi kami berdiskusi sebenarnya proses pertumbuhan ekonomi ini harus kita pilah-pilah,” ujar Aulia.
Menurutnya apabila hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi secara umum, kondisi sektor-sektor lain yang justru berkembang berpotensi tidak terlihat.
Ia menyebut sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), perdagangan, serta pertanian menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dalam beberapa waktu terakhir.
“Otomatis ketika hari ini RKAB turun, produksi batu bara turun, terjadi pengurangan tenaga kerja, nah ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang ada di Kukar,” katanya.
Karena itu, Pemkab Kukar menunggu hasil kajian BPS yang akan memisahkan kontribusi masing-masing sektor terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kajian tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran lebih objektif mengenai kondisi ekonomi riil di luar sektor tambang sekaligus menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menentukan arah pembangunan ke depan.
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





