SAMARINDA – Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda terus mematangkan strategi demi mendongkrak kualitas pelayanan bagi masyarakat di 2026. Berdasarkan sorotan penting dari Komisi II DPRD Kota Samarinda, pemenuhan kualitas dan kelancaran distribusi air bersih kini menjadi titik tekan utama yang dikejar oleh jajaran manajemen badan usaha milik daerah tersebut.
Direktur Teknik Perumdam Tirta Kencana, Kaharuddin, mengungkapkan pihaknya sedang melakukan upaya masif agar keluhan-keluhan klasik pelanggan di lapangan tidak terus berulang.
“Masalah kualitas, kelancaran air di pelanggan itu yang menjadi titik tekan dari Komisi II. Contohnya kualitas air pelanggan, tentunya jangan sampai contohnya kekeruhan, kita upayakan supaya tidak berulang itu ya istilahnya,” ujar Kaharuddin, Rabu (1/7/2026).
Saat ini, cakupan layanan distribusi air bersih Perumdam Tirta Kencana di Samarinda sudah menyentuh angka 85 persen lebih. Di tengah sisa 15 persen wilayah yang belum tersalurkan, pihak legislatif melalui pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) menargetkan Samarinda tuntas 100 persen air bersih pada tahun 2027 mendatang.
Kaharuddin mengakui target tersebut menjadi tantangan besar yang coba diupayakan Perumdam Tirta Kencana, meskipun kondisi geografis di lapangan tidaklah mudah.
“Ya kita upayakanlah, tapi memang banyak juga kendala ‘kan, terutama di perpipaan. Dan kontur ini, dan jarak rumah-rumah penduduk kan berjauhan. Itu butuh anggaran besar untuk perpipaan pasti,” jelasnya.
Menariknya di tengah besarnya kebutuhan anggaran untuk perluasan pipa jaringan, Perumdam Tirta Kencana memastikan tidak ada kenaikan tarif air bersih baru bagi warga Samarinda. Tarif yang saat ini dibebankan masih berjalan sesuai skema penyesuaian berkala dari kebijakan sebelumnya.
“Enggak ada (potensi kenaikan harga air), enggak ada, tetap sama. Sesuai dengan yang berapa persen kemarin, itu masih berjalan sih. Itu pun belum sampai tuntas kan, mungkin di September nanti baru tercakup sampai 9 persen. Kalau sekarang kalau tidak salah di 7 persen,” urai Kaharuddin.
Apabila pada 2025 lalu anggaran Perumdam Tirta Kencana banyak tersedot untuk pembangunan fisik unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru, maka pada 2026 ini arah kebijakan mengalami pergeseran. Manajemen memilih mengerem pembangunan fisik IPA baru dan fokus pada perawatan serta optimalisasi output produksi.
“2025 betul banyak lari ke pembangunan IPA kita. Kalau di 2026 mungkin enggak ada (pembangunan IPA baru). Tinggal mengoptimalkan yang ada dan memperbaiki yang kerusakan-kerusakan di IPA yang lama. Kita optimalkan yang idle (kapasitas menganggur) tadi,” tutur Kaharuddin.
Langkah itu diambil demi memastikan seluruh air bersih yang diproduksi dari instalasi pengolahan benar-benar tersalurkan secara maksimal ke rumah-rumah warga, sekaligus menekan angka kehilangan air atau kendala teknis akibat kerusakan infrastruktur lama.
Pewarta: Abdi
Editor: Yahya Yabo





