SAMARINDA — Setelah menanti selama dua tahun sejak proyek pembongkaran dan rekonstruksi dimulai pada 2024, kemegahan bangunan baru Pasar Pagi Samarinda akhirnya berdiri tegak di tahun 2026. Proyek mega renovasi yang digadang-gadang Pemerintah Kota Samarinda sebagai simbol modernisasi pusat perbelanjaan rakyat ini telah rampung seratus persen. Namun kemilau arsitektur baru tersebut rupanya belum berbanding lurus dengan geliat ekonominya.
Proyek revitalisasi Pasar Pagi Samarinda yang menelan anggaran daerah sekitar Rp468,5 miliar kini berada dalam sorotan tajam. Alih-alih sukses bertransformasi menjadi pusat perbelanjaan modern yang representatif, megaproyek itu justru memicu polemik mengenai kualitas perencanaan, efisiensi fungsi bangunan, hingga transparansi anggaran menyusul banyaknya keluhan pedagang, kendala teknis di lapangan, serta kritik dari pengamat ekonomi.
Hingga pertengahan tahun ini (2026), lorong-lorong pasar legendaris itu justru diselimuti pemandangan yang kontradiktif, sepi dan lesu. Transaksi jual beli yang dulunya menjadi urat nadi perekonomian warga Kota Tepian kini melambat drastis. Pertanyaan besar pun menyeruak ke permukaan. Mengapa pusat perbelanjaan historis yang kini tampil lebih bersih dan modern ini justru kehilangan daya tariknya? Apa variabel mendasar yang membuat aktivitas ekonomi di sana seolah ‘mati suri’ pasca renovasi?
Tim redaksi Radar Media melakukan penelusuran mendalam mengenai dampak pasca proyek Pasar Pagi dari berbagai sudut pandang otoritas, pelaku usaha, hingga pengamat.

Komitmen Pemkot dan Visi Modernisasi yang Menghadapi Realita

Pemerintah Kota Samarinda kini tengah mematangkan rencana strategis dan regulasi berbasis risiko demi mengembalikan geliat ekonomi di sektor pasar terkhusus untuk Pasar Pagi.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menjelaskan fenomena sepinya pembeli di pasar tradisional saat ini merupakan gejala ekonomi makro yang terjadi secara meluas, tidak hanya di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur saja.
“Gejala umum kita, tidak hanya di Samarinda, di semua daerah. Saya itu jalan-jalan di Jakarta lihat ya, malah lebih parah pasar-pasar tradisional itu. Banyak pedagang yang saling ngobrol saja karena pembelinya kurang. Artinya memang daya beli masyarakat kita karena inflasi, karena akses,” ujar Andi Harun.
Menindaklanjuti situasi ekonomi tersebut, Pemkot Samarinda bergerak cepat dengan menggelar rapat koordinasi internal. Andi Harun mengungkapkan pemerintah kota tidak ingin tergesa-gesa dalam mengeksekusi kebijakan tanpa adanya perhitungan matang mengenai dampak dan kendala di lapangan. Setiap rencana yang disusun wajib melewati uji manajemen risiko (risk management).
“Seindah apa pun perencanaan strategis, tetap harus ada ujinya. Ada uji pada manajemen risiko atau risk management ya. ‘Oh, ini kita di atas kertas begini, tapi belum tentu, kita harus hitung kira-kira kalau ini yang kita jalankan kira-kira potensi kendalanya apa? Potensi masalahnya di mana?’” urai Andi Harun.
Ia menambahkan pengujian tersebut harus melibatkan analisis fungsional dari berbagai sektor penunjang kota agar formula yang diluncurkan benar-benar tepat sasaran.
“Kemudian institusi yang mendukungnya kira-kira cukup efektif enggak? Lalu, kira-kira budaya masyarakatnya kira-kira sejalan enggak dengan apa yang kita rencanakan? Jadi faktor-faktor itu harus kita perhitungkan. Kita enggak boleh Cuma lihat indahnya perencanaan, tapi kita tidak hitungkan kemungkinan-kemungkinan faktor yang bisa membuat perencanaan itu gagal kita laksanakan,” tambahnya Andi Harun.
Sembari mematangkan regulasi kedewanan dan skema teknis kota yang ditargetkan rampung pada akhir bulan ini (Juli), Andi Harun mengetuk hati seluruh warga Samarinda. Ia menyerukan gerakan moral untuk kembali meramaikan pasar tradisional, sekaligus memaknainya sebagai bentuk kepedulian sosial dan ladang ibadah.
“Ayo kembali belanja di pasar tradisional. Ya karena semua pedagang yang jualan, yang berdagang di pasar tradisional itu adalah pedagang yang memang membutuhkan, membutuhkan partisipasi kita. Sebagian besar itu adalah faktor ibadah lo itu. Nah, kalau kita tolong orang yang lemah, janji Tuhan akan ditambahkan rezeki kita dari arah yang tidak kita sangka-sangka,” ajaknya.
Sepi Peminat, Disdag Samarinda Minta Pedagang Pasar Pagi Segera Isi Lapak Kosong

Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda memberikan batas waktu yang jelas bagi para pedagang yang telah menerima hak lapak untuk segera menempati tempat berjualan mereka agar roda perekonomian di pasar tersebut dapat berjalan maksimal.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani, mengungkapkan dari total kapasitas yang ada, sebagian besar lapak sebenarnya sudah terbagi. Namun kendala utama yang dihadapi saat ini adalah kebiasaan pedagang yang saling menunggu untuk mulai berjualan.
“Sebenarnya kita belum mencoba untuk mengusahakan penuh dululah kan. Karena kalau menurut saya, psikologi pedagang itu biasanya nunggu. ‘Aku kalau nunggu ramai baru aku mau masuk.’ Sebenarnya kalau saling menunggu kan tidak ada titik temunya,” kata Nurrahmani.
Nurrahmani membeberkan data sisa lapak yang benar-benar belum memiliki pemilik di Pasar Pagi jumlahnya sangat sedikit. Ironisnya, ada ribuan lapak yang statusnya sudah terbagi namun sampai saat ini belum ditempati oleh para pedagang yang berhak.
“Sekitar 1.500-an (lapak yang masih kosong). Iya, yang tidak ditempati. Sebenarnya sudah dibagi tapi belum ditempati. Kalau yang pasti sisa lapak itu yang tidak tertempati (belum terbagi) Cuma 10 sisanya. Berarti kalau 2.500-an sudah terbagi. Cuma yang 1.500-an itu yang masih belum menempati,” jelasnya.
Ia menegaskan kios atau lapak yang disediakan oleh pemerintah daerah esensinya adalah untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, bukan sebagai instrumen investasi pribadi yang bisa didiamkan begitu saja tanpa aktivitas perdagangan.
“Karena sesuai dengan perjanjian penggunaan kios, itu sebenarnya 3 bulan setelah ditandatangani harus mereka sudah masuk ke situ. Seperti ditekankan dan patut kita ketahui bersama bahwa itu bukan untuk investasi, tapi untuk kegiatan ekonomi,” urai Nurrahmani.
Untuk mengatasi masalah ini, Disdag Samarinda telah merancang serangkaian langkah, mulai dari sosialisasi, pengumuman resmi, hingga pemberian batas waktu terakhir. Apabila hingga waktu yang ditentukan lapak tetap dibiarkan kosong, pemerintah tidak segan-segan untuk mencabut hak guna lapak tersebut.
Proyek Pasar Pagi Tuai Masalah, Komisi II Minta Ubah Paradigma Pembangunan

Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, meminta Pemerintah Kota Samarinda untuk segera mengubah paradigma dalam menyusun program pembangunan daerah. Kritik itu mencuat setelah legislatif menyoroti berbagai proyek infrastruktur yang justru memicu penolakan dan masalah di lapangan karena dinilai dipaksakan tanpa melihat kebutuhan riil masyarakat bawah, salah satunya adalah proyek pembongkaran Pasar Pagi.
Menurut Iswandi, sebuah program atau proyek daerah idealnya lahir dari apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, bukan sekadar memaksakan ego atau kemauan sepihak dari pemerintah kota. Ketika program dipaksakan atas dasar kemauan birokrasi, maka proyek tersebut dipastikan akan selalu berhadapan dengan konflik sosial dan resistensi dari warga terdampak.
“Jangan sampai, program-program atas kemauan kita. Kalau kemauan kita, pasti banyak masalah. Contoh Pasar Pagi dah! Itu kemauan pemerintah kota, bukan kemauan masyarakat untuk membongkar itu. Pasti banyak masalah!” tegas Iswandi.
Politisi PDI Perjuangan itu membandingkan dinamika sosial dan penolakan dari pedagang serta masyarakat akan jauh lebih minim apabila pemerintah mau turun ke bawah dan mendengarkan apa yang sebenarnya menjadi aspirasi pasar.
“Kalau maunya masyarakat, Insya Allah kecil itu masalah. Tapi kalau bukan maunya masyarakat, kita paksakan, kita lakukan, pasti bermasalah. Itu bukan maunya masyarakat. Itu maunya pemerintah,” cecar Iswandi.
Pihak legislatif mendesak agar setiap anggaran yang digelontorkan memiliki indikator perubahan yang jelas dan membawa dampak kesejahteraan yang langsung dirasakan oleh pedagang dan masyarakat, bukan justru menyisakan persoalan baru.
“Nah sekarang kita ubah sedikit paradigma kita. Apa maunya masyarakat, cocok enggak dengan OPD kita? Oke laksanakan, Insya Allah itu enggak ada masalah nantinya karena memang dibutuhkan masyarakat, bukan mau-maunya kita. Nah ini, ini saya minta ke depannya begitu,” tegasnya.
Jeritan dari Balik Meja Dagang, Modal Menipis di Tengah Sepinya Pembeli

Kondisi Pasar Pagi Samarinda pasca renovasi kini menuai keluhan dari para pedagang, khususnya yang menempati sektor lantai atas seperti penjualan sepatu dan komoditas tekstil. Alih-alih membawa angin segar bagi perekonomian warga, wajah baru pasar dinilai justru membuat omset penjualan menurun drastis akibat sepinya pengunjung yang datang.
Menurut penuturan salah seorang pedagang sepatu yang telah bertahan sejak sebelum pasar direnovasi, perbedaan situasi penjualan sangat kontras. Ia mengungkapkan konsep bangunan baru yang dibuat bertingkat menjadi salah satu pemicu utama enggannya masyarakat untuk naik dan berbelanja. Hal itu tidak hanya memukul pedagang alas kaki, tetapi para pedagang pakaian, kain, dan produk tekstil lainnya yang berada di zona lantai atas.
“Dari segi penjualan, dari pasar pagi yang lama ke yang baru ini memang menurun drastis. Soalnya dari segi bangunan aja dia bertingkat-tingkat. Sedangkan kebanyakan konsumen di sini itu dari kalangan orang tua. Dengan kondisi tangga yang seperti itu, orang kebanyakan malas untuk naik ke atas,” ujar salah satu pedagang.
Akibat penurunan jumlah pengunjung itu, suasana pasar pada hari Sabtu yang biasanya menjadi puncak keramaian kini tampak lengang. Sepinya pembeli di sektor sandang (sepatu dan tekstil) itu berdampak langsung pada pendapatan harian, sehingga pedagang terpaksa membatasi jumlah pasokan barang dagangan yang baru.
Mereka mengaku tidak berani menyetok barang dalam jumlah banyak karena perputaran modal yang sangat lambat. Bahkan tanda-tanda peningkatan pembeli menjelang musim tahun ajaran baru yang biasanya menjadi ladang rezeki bagi pedagang sepatu dan seragam/tekstil hingga saat ini belum terlihat.
Terkait status lapak, pedagang tersebut menjelaskan dirinya tidak menyewa tempat melainkan memiliki Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB). Sehingga ia tidak dikenakan biaya sewa pasca renovasi dan langsung mendapatkan haknya kembali untuk berjualan.
Melihat kondisi pasar yang kian sepi, para pedagang di sektor tersebut menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kota Samarinda selaku pemangku kebijakan. Mereka berharap pemerintah tidak hanya fokus pada fungsi penindakan dan penertiban aturan, tetapi harus mampu melahirkan solusi nyata serta inovasi program yang bisa meramaikan kembali lantai-lantai atas pasar.
“Harapan saya, pemerintah harus membuat sesuatu kebijakan yang memang memicu masyarakat lain untuk berkunjung ke Pasar Pagi. Mungkin bisa membuat ide-ide atau program semacam apa agar pengunjung berminat lagi untuk datang ke sini,” tuturnya.
Akses Membingungkan dan Kios Masih Sepi, Pengunjung Pasar Pagi Samarinda Mengeluh

Respons beragam datang dari masyarakat terkait wajah baru Pasar Pagi Samarinda. Meski menawarkan perubahan signifikan dari segi kebersihan dan tata letak, sejumlah pengunjung mengaku masih harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinilai belum seramai dulu serta akses jalan yang cukup membingungkan.
Bagi pengunjung yang pernah mendatangi bangunan lama, perubahan fisik pasar saat ini memang terasa sangat kontras. Aspek kenyamanan menjadi poin plus yang paling dirasakan oleh masyarakat.
“Kalau dari vibes-nya, yang baru ini lebih tertata, lebih rapi, dan lebih bersih. Kalau dibanding yang lama ‘kan dia sempit dan terkesan berantakan gitu,” ujar salah seorang pengunjung.
Meski kondisi bangunan jauh lebih representatif, pasar baru itu dinilai masih sepi dari aktivitas jual beli. Beberapa pengunjung merasakan adanya pengurangan kelengkapan barang dibandingkan dengan pasar lama.
“Jujur kalau dari Pasar Pagi yang baru ini menurut aku lebih sepi sih daripada ketimbang yang lama kemarin. Yang lama kemarin itu menurut aku kayak semua ada,” tuturnya.
Ia menambahkan saat ini berbelanja terasa sedikit lebih sulit.
“Yang baru ini sepi dan agak susah nyari barang yang dicari gitu, pilihannya juga sedikit. Mungkin karena masih banyak kios yang belum terisi,” tambahnya.
Selain masalah internal pasar, akses menuju lokasi menjadi sorotan, terutama bagi warga pendatang yang belum akrab dengan perubahan arus lalu lintas di sekitar area tersebut. Kebijakan jalan satu arah di area belakang pasar kerap membuat pengunjung kebingungan untuk mencari pintu masuk.
“Sebagai pendatang yang berkuliah di Samarinda, aku agak pusing dengan jalan masuknya karena di belakang itu kan kebetulan satu arah. Jadi aku agak bingung nih ini masuknya lewat mana. Kalau yang lama ‘kan kita bisa parkir di pinggir-pinggirnya,” keluhnya.
Perubahan lain yang dirasakan masyarakat adalah fluktuasi harga. Citra Pasar Pagi yang dulu dikenal sebagai pusat barang murah berkualitas, kini dinilai sedikit bergeser karena adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas. Kondisi tersebut memicu sebagian masyarakat untuk lebih memilih berbelanja secara Dalam Jaringan (Daring/online).
“Menurut aku pribadi, ada beberapa barang yang harga jualnya lebih tinggi daripada waktu di pasar lama,” ungkapnya.
Faktor harga dan kepraktisan inilah yang membuat alternatif belanja online kini lebih diminati.
“Melihat kondisi sekarang sih mending beli online. Karena ya lebih praktis dan tidak ribet gitu, dan harganya juga lumayan lebih murah,” ungkapnya.
Masyarakat berharap Pemerintah Kota Samarinda tidak tinggal diam melihat kondisi pasar yang masih sepi. Langkah promosi yang masif serta pembinaan terhadap para pedagang dinilai menjadi kunci utama agar roda perekonomian di Pasar Pagi kembali bergairah.
“Harapannya buat pemerintah lebih dipromosikan lagi sih. Soalnya ini ‘kan sebenarnya adalah terobosan yang cukup baik untuk di ekonomi masyarakat,” harapnya.

Analisis Struktural: Proyek Pasar Pagi Dinilai Lebih Mengejar Estetika Ketimbang Fungsi Ekonomi

Penurunan jumlah pengunjung serta merosotnya omzet pedagang di Pasar Pagi Samarinda pasca renovasi mendapat sorotan tajam dari Akademisi dan Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (FEB Unmul), Hairul Anwar.
Menurutnya gejolak ekonomi yang terjadi di pasar legendaris tersebut merupakan dampak dari perencanaan pembangunan yang keliru dan salah kaprah.
Hairul Anwar menjelaskan dalam kebijakan fiskal, terdapat perbedaan mendasar antara pembangunan untuk rakyat atau pembangunan atas nama rakyat. Ia menilai kebijakan pembangunan yang diambil Pemerintah Kota Samarinda saat ini cenderung lebih menonjolkan aspek fisik dan keindahan (estetika) demi mendapat pujian, namun abai terhadap pemenuhan fungsi utama bagi masyarakat bawah.
“Satu hal yang esensial, fungsi bisnisnya harus dipenuhi dulu, baru tampangnya. Jangan dibalik. Akibatnya apa? Fungsinya tidak terpenuhi, manajemennya kalang kabut. Pasar Pagi itu jadinya monumen untuk dilihat atau tempat bertemu penjual dan pembeli secara nyata? Pembeli itu butuh kenyamanan, bukan estetika yang bikin biaya sewa atau parkir jadi mahal,” ujar Hairul.
Ia menyayangkan sikap Pemkot Samarinda yang terkesan abai terhadap suara para pelaku usaha di Pasar Pagi. Berdasarkan keluhan pedagang yang mengaku tidak pernah disurvei atau dilibatkan dalam rencana renovasi, Hairul menegaskan hal tersebut membuktikan adanya ego birokrasi.
Ia menambahkan apabila proyek renovasi fisik justru memicu kenaikan biaya operasional (cost) seperti tarif parkir dan sewa, hal itu akan langsung memukul daya saing pasar tradisional. Apalagi saat ini pasar retail konvensional harus bersaing ketat dengan pasar digital (online) yang menawarkan efisiensi tinggi.
“Kita tidak menanggung risikonya selama penyesuaian, pedagang yang menanggung risiko itu. Selama menunggu itu dibangun, mereka sudah tergerus semua, baik keuntungan maupun pendapatan,” tambahnya.
Sebagai komparasi (perbandingan), Hairul mencontohkan pengelolaan pasar modern di Jakarta yang berhasil. Menurutnya pasar modern di sana tidak dibangun secara mewah layaknya monumen, melainkan didesain lapang, terbuka dengan sirkulasi udara yang bersih.
“Konsep sederhana itu berkontribusi pada murahnya biaya sewa bagi pedagang, sehingga harga barang yang dibebankan ke pembeli yang sensitif terhadap harga juga tetap murah. Kita harus memelihara keunggulan itu. Kalau mau beli yang mahal, orang tidak ke pasar pagi,” jelasnya.
Guna memulihkan kembali denyut nadi perekonomian di Pasar Pagi, Hairul menyarankan dua langkah taktis yang harus segera dilakukan Pemkot Samarinda yaitu di antaranya:
- Benahi Manajemen Fungsi dengan memastikan seluruh fasilitas dasar pasar dapat memenuhi kebutuhan transaksi jual-beli dengan baik dan nyaman, tanpa membebani biaya tambahan yang tinggi bagi pedagang maupun pengunjung.
- Kembalikan ke Khitah Pasar Rakyat, sadari bahwa Pasar Pagi adalah tempat belanja masyarakat menengah ke bawah. Pemkot harus fokus menghidupkan kembali fungsi ekonominya, misalnya dengan menggelar acara (event) khusus, alih-alih langsung menjadikannya sebagai target pusat pendapatan (revenue center) daerah. (rm)
Tim Laporan:
Pengarah: Adhi Abdian
Perancang News: Yahya Yabo
Pewarta: Muhammad Abdi
Editor: Yahya Yabo
Infografis: Wahyu Risky
Uploader: Refi Fahreza





