SANGATTA – Sinyal lampu kuning bagi stabilitas ekonomi Kutai Timur (Kutim) ditiupkan parlemen menjelang pertengahan tahun ini. Pemerintah daerah diminta bergerak cepat meredam potensi gejolak harga pangan yang membayangi masyarakat.
Momentum dimulainya awal tahun ajaran baru sekolah dinilai menjadi titik rawan yang bisa memicu lonjakan inflasi apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Peringatan keras tersebut dilontarkan Ketua DPRD Kutim, Jimmi. Politikus itu mewanti-wanti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait agar tidak kecolongan dengan pergerakan harga sejumlah kebutuhan pokok dalam beberapa pekan ke depan.
“Minggu depan anak-anak kita sudah mulai aktif sekolah kembali. Berkaca dari tren tahunan, momentum ini selalu diiringi peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat. Jika pasokan di pasar tidak siap, harga komoditas strategis dipastikan bakal ikut melonjak,” tegas Jimmi usai mengikuti rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat.
Jimmi membeberkan ada sejumlah komoditas sensitif yang pergerakan harganya wajib dipelototi. Mulai dari minyak goreng, daging ayam, tomat, mentimun, hingga sektor perikanan. Lonjakan permintaan domestik pasca-liburan sekolah dinilai menjadi faktor utama penentu dinamika harga tersebut.
Celakanya tantangan tidak hanya datang dari melonjaknya permintaan pasar (demand shock). Dari sisi pasokan (supply), tantangan alam turut mengintai. Fenomena angin selatan yang saat ini sedang berlangsung di perairan Kutim menjadi momok yang berpotensi memangkas hasil tangkapan para nelayan laut.
“Cuaca buruk akibat angin selatan ini jelas membatasi ruang gerak nelayan untuk melaut. Kalau pasokan ikan laut di pasar merosot, otomatis masyarakat akan beralih memburu ikan air tawar. Efek dominonya, harga ikan air tawar pun pasti ikut terseret naik,” urainya secara analitis.
Melihat ancaman ganda tersebut, Jimmi mendesak Pemkab untuk mengaktifkan early warning system pengendalian harga. Ia tidak ingin instansi terkait baru sibuk menggelar operasi pasar saat harga pangan sudah telanjur ugal-ugalan dan membebani daya beli masyarakat.
“Yang terpenting adalah langkah antisipasi dilakukan lebih awal. Jangan menunggu api membesar baru kita sibuk memadamkan. Fokus utama saat ini adalah memastikan kelancaran rantai distribusi dan menjaga ketersediaan stok pangan tetap aman di gudang-gudang logistik,” katanya.
Lebih lanjut, Jimmi menekankan menjinakkan laju inflasi tidak cukup sekadar dengan rutinitas memantau tabel harga di pasar. Diperlukan komitmen dan koordinasi lintas sektor yang solid untuk memastikan pasokan tetap terjaga, terutama dalam menghadapi momentum krusial seperti awal tahun ajaran baru ini.
Pewarta: Ramlah
Editor: Yahya Yabo





