PASER – Cerita soal gasing permainan tradisional di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, kini coba kembali dihidupkan oleh seorang tenaga pendidik yang peduli terhadap kelestarian permainan lokal.
Sidik Abdul Manaf (30) seorang guru yang mengajar di SMAN 1 Long Kali, Kabupaten Paser. Abdul mencoba membuat dan menghidupkan kembali permainan tradisional khas Kalimantan tersebut. Langkah itu berawal dari pengamatannya terhadap tradisi permainan gasing yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda di Paser.
Hanya bermodal alat pembuatan rakitan sederhana di rumahnya dan sepotong kayu, Sidik coba melakukan rekonstruksi ulang terhadap pembuatan gasing.
“Gasing ini di jaman sekarang anak-anak sudah banyak yang tidak mengenal, bahkan tidak banyak yang tahu lagi cara memainkannya, dan juga melihat mulai dikembangkan lagi lomba-lomba permainan tradisional daerah mungkin bisa menjadi peluang,” ujarnya.
Alumni Institut Seni Yogyakarta jurusan Seni Kriya itu menjelaskan dari segi bentuk fisik, gasing buatannya tetap mempertahankan pakem lokal.
“Kalau untuk bentuknya, mengikuti bentuk yang ada di Kalimantan, Jadi kalau untuk perbedaannya terdapat pada motif yang ada di gasingnya saja,” jelasnya.
Terkait peminat, Sidik membeberkan pesanan sejauh ini didominasi oleh instansi sekolah, terlebih menjelang kegiatan ajang olahraga guru kabupaten Paser.
“Untuk sementara sih, baru dari sekolah-sekolah ya, kemudian karena kebetulan Hari Guru nanti Long Kali menjadi tempat untuk tuan rumah, sebagai tuan rumah kegiatan PORSENI jadi sekolah dari beberapa kecamatan di Paser itu memesan gasing sama saya,” tuturnya.
Untuk satu unit gasing buatan tangannya, Sidik mematok harga yang relatif terjangkau, di mana tingkat kesulitan pengerjaan bagian tertentu menjadi penentu harga jual. Bahan utamanya sendiri memanfaatkan jenis kayu khas Kalimantan yang terkenal kokoh.
“Untuk harga satu gasing sendiri, ada dikisaran harga mulai dari Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Yang membuat harganya lumayan itu adalah membuat roller bagian bawahnya, Kalau kayunya sih pakai bahannya dari kayu ulin, Karena yang tersedia di sini kayu ulin yang paling mudah dicari dan bobotnya sesuai dengan kriteria gasing,” terangnya.
Mengenai metode penjualan, ia mengaku saat ini masih bergerak secara mandiri lewat Media Sosial (Medsos).
“Ya, kalau sekarang hanya berbagi lewat sosial media seperti Whatsapp, lewat Instagram, mungkin ke depannya ya akan dijual melalui online shop mungkin bisa,” ucapnya.
Melalui kreativitasnya itu, Sidik menyelipkan pesan kepada generasi muda agar tidak melupakan budaya, mengingat gasing kini sudah mulai dipertandingkan secara profesional.
“Untuk generasi muda mari kita mengenal kembali permainan tradisional, karena olahraga ini juga sudah sampai ke tingkat yang berjenjang tinggi bahkan kalau di daerah lain gasing ini masih jadi permainan yang dilombakan di event-event besar,” imbaunya.
Untuk ke depan, ia berharap ada regenerasi yang kuat dalam merawat permainan lokal ini, bahkan ia berencana menginisiasi sebuah kegiatan khusus.
“Ke depannya mudah-mudahan banyak generasi muda yang mau mengenal dan mau bermain gasing, mungkin ke depannya saya akan coba mengadakan semacam event untuk permainan tradisional seperti gasing, sumpit, ketapel, dan belogo, mulai dari kalangan muda dan kalangan umum, supaya menarik minat para pemuda untuk kembali mengenal permainan tradisional yang ada dan supaya budaya itu tetap terjaga,” ungkapnya.
Pewarta: Abika Ramadhan
Editor: Yahya Yabo





