SAMARINDA – Di tengah derasnya arus informasi yang menuntut kecepatan, banyak media berlomba menjadi yang pertama menyampaikan berita. Namun, bagi Jurnalis Senior sekaligus mentor Media Kaltim Network, Sumurung Basa Silaban, kecepatan tidak boleh mengorbankan kualitas sebuah karya jurnalistik.
Pandangan itulah yang ia rasakan selama mengikuti perjalanan Media Kaltim Network dalam enam tahun terakhir.
Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-6 yang diperingati pada 14 Juli 2026, Sumurung menilai Media Kaltim Network tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan industri media yang semakin ketat, tetapi juga perlahan membangun karakter pemberitaannya sendiri.
“Menurut saya, Media Kaltim memang dibangun untuk berusia panjang. Itu yang paling saya rasakan,” ujarnya.
Pria yang puluhan tahun berkecimpung di dunia jurnalistik itu mengakui kehadiran media digital telah mengubah cara kerja wartawan. Informasi kini dapat diterima masyarakat hanya dalam hitungan menit.
Namun, di balik kecepatan tersebut, ia melihat tantangan baru yang tidak kalah besar. Menurutnya, banyak media saat ini kehilangan ruang untuk menggali persoalan secara lebih mendalam karena terus berpacu dengan waktu.
“Kecepatan memang penting. Tapi kedalaman, ketajaman, dan keberagaman sudut pandang tetap harus dijaga,” katanya.
Bagi Sumurung, Media Kaltim Network berusaha menjaga keseimbangan itu. Pemberitaan tidak berhenti hanya pada peristiwa yang sedang terjadi, tetapi terus dikembangkan melalui liputan lanjutan yang memberikan konteks dan pemahaman lebih utuh kepada pembaca.
Ia menyebut pola tersebut sebagai salah satu kekuatan Media Kaltim Network. “Kalau ada satu peristiwa, media ini biasanya tidak berhenti di situ. Ada kelanjutannya, ada perkembangan berikutnya. Running news-nya direncanakan dengan baik,” tuturnya.
Sumurung tidak menampik setiap media pasti memiliki kekurangan. Bahkan media nasional sekalipun, menurutnya, tidak pernah luput dari kritik.
Namun, kekurangan itu masih dapat diperbaiki selama redaksi memiliki kemauan untuk terus belajar dan melakukan evaluasi.
“Kurang tajam itu kekurangan. Kurang dalam itu kekurangan. Besok bisa diperbaiki. Yang berbahaya justru kalau salah menulis fakta,” katanya.
Sebagai sosok yang pernah menjadi mentor Agus Susanto ketika sama-sama berkiprah di dunia jurnalistik, Sumurung mengaku masih melihat nilai-nilai yang dulu sering mereka diskusikan tercermin dalam perjalanan Media Kaltim Network hingga saat ini.
Mulai dari cara menentukan isu, membangun liputan berkelanjutan, hingga menjaga kualitas tulisan agar tetap memiliki nilai bagi pembaca.
“Saya membaca tulisan-tulisannya, saya membaca perjalanan Media Kaltim, dan saya melihat Agus yang dulu masih ada di situ,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Sumurung, sebuah media akan bertahan bukan karena mengejar sensasi, melainkan karena memiliki visi yang jelas tentang arah pemberitaannya.
Karena itu, ia berharap Media Kaltim Network terus mempertahankan budaya belajar dan tidak cepat puas dengan berbagai capaian yang telah diraih.
Ia juga mendorong agar jangkauan pemberitaan nasional yang mulai dibangun melalui keberadaan jurnalis di Jakarta terus diperkuat.
“Kalau sudah punya jurnalis sendiri di Jakarta, itu harus dimaksimalkan. Jangan kalah dengan media nasional,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Sumurung menyampaikan pesan yang selama ini selalu ia tanamkan kepada para wartawan muda.
Menurutnya, seorang jurnalis tidak boleh mudah menerima begitu saja setiap pernyataan narasumber.
Bukan untuk mencari pertentangan, melainkan harus berani menguji setiap informasi dengan pengetahuan, logika, serta rasa ingin tahu yang kuat.
“Jurnalis itu harus punya semangat berdebat dengan narasumber. Kalau terlalu mudah bilang ‘iya’, berarti ada yang harus diperbaiki,” katanya.
Baginya, kemajuan teknologi justru harus melahirkan jurnalis yang semakin kritis. Dengan akses informasi yang semakin luas, dukungan internet, hingga perkembangan kecerdasan buatan, tidak ada alasan bagi seorang wartawan untuk berhenti belajar.
Di usia keenam, Sumurung melihat Media Kaltim Network berada di jalur yang tepat. Perjalanan masih panjang, tetapi fondasi yang telah dibangun diyakininya menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan industri pers pada masa mendatang.
“Kalau terus menjaga kualitas dan semangat belajar, saya yakin Media Kaltim akan terus bernapas panjang,” tutupnya.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S.





