Dongkrak Potensi Desa, Hetifah Ajak Perangkat Desa Gandeng BRIN dan BRIDA

TENGGARONG – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mendorong perangkat desa di Kalimantan Timur (Kaltim) memperkuat kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sinergi tersebut dinilai penting agar pembangunan desa berbasis riset mampu mengoptimalkan potensi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dorongan itu disampaikan Hetifah usai menghadiri pelantikan Pengurus Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Provinsi Kaltim masa bakti 2025-2030, Senin (20/7/2026).

Menurutnya perangkat desa merupakan pihak yang paling memahami kebutuhan, persoalan, dan potensi yang dimiliki wilayahnya.

“Karena menurut kami inovasi dan penggunaan hasil riset itu sangat penting supaya desa bisa mengenali potensi dirinya sekaligus mencari solusi apabila ada hambatan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Hetifah menilai pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan program yang berjalan selama ini.

Perangkat desa perlu diperkuat melalui pendekatan berbasis riset sehingga setiap kebijakan yang diambil sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.

Menurut Hetifah, perangkat desa berada di garis terdepan karena berinteraksi langsung dengan masyarakat setiap hari.

Kondisi itu membuat mereka lebih memahami potensi yang dapat dikembangkan maupun persoalan yang masih menghambat pertumbuhan ekonomi desa.

Karena itu, Komisi X DPR RI mendorong lahirnya kolaborasi antara perangkat desa, BRIDA Kutai Kartanegara, dan BRIN.

Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan solusi yang lahir dari hasil penelitian sekaligus dapat diterapkan secara nyata di lapangan.

Hetifah mengatakan setiap desa memiliki kekuatan yang berbeda. Ada desa yang bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro.

Namun banyak potensi tersebut belum memberikan nilai tambah maksimal karena belum didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Melalui keterlibatan BRIDA dan BRIN, setiap potensi desa dapat dipetakan secara lebih komprehensif.

Hasil kajian itu kemudian menjadi dasar dalam menyusun strategi pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

“Misalnya ada daerah pertanian atau daerah nelayan yang memiliki banyak potensi tetapi belum terolah secara optimal. Di situlah teknologi perlu masuk,” katanya.

Hetifah menjelaskan BRIDA memiliki peran penting dalam melakukan penelitian di tingkat daerah.

Sementara itu, BRIN dapat memberikan dukungan riset, teknologi, hingga inovasi yang lebih luas dari tingkat nasional.

Kolaborasi kedua lembaga tersebut diyakini mampu meningkatkan kualitas produk unggulan desa sehingga memiliki daya saing yang lebih baik di pasar.

Ia mencontohkan produk olahan hasil perikanan seperti kerupuk ikan. Menurutnya produk tersebut sebenarnya telah memiliki cita rasa yang baik, namun masih membutuhkan penguatan dari sisi kualitas, kemasan, kandungan gizi, hingga daya tahan produk.

Dengan dukungan riset, berbagai aspek tersebut dapat ditingkatkan sehingga produk desa tidak hanya diminati di pasar lokal, tetapi mampu bersaing di daerah lain.

Pendekatan berbasis riset tidak hanya menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Langkah itu membuka peluang terciptanya nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa sehingga potensi lokal berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Misalnya bagaimana kerupuk ikan yang sudah enak itu bisa lebih menarik untuk dipasarkan ke luar daerah, mulai dari kandungan gizinya, kemasannya, daya tahannya, hingga komposisi bahan bakunya bisa diteliti sehingga hasilnya lebih optimal,” jelasnya.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI