SAMARINDA – Program Raya Budaya Etam 2026 dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem budaya di Kalimantan Timur melalui pendekatan kolaboratif, bukan kompetisi. Hal tersebut disampaikan salah satu kurator Raya Budaya Etam 2026, Galih Sedayu, sekaligus merupakan praktisi ekonomi kreatif, kurator event, dan aktivis kota kreatif.
Raya Budaya Etam 2026 menghadirkan tim kurator dari berbagai latar belakang seni, budaya, ekonomi kreatif, hingga penyelenggaraan event. Tim tersebut terdiri atas Syafruddin Pernyata sebagai tokoh budayawan Kalimantan Timur, Putri Khaira Ansuri sebagai event strategist, Dwie Arum Meynina sebagai event planner, Muhammad Ami selaku Tenaga Ahli Komisi X DPR RI dan Kurator Nasional Galih Sedayu yang merupakan figur dan tokoh kreatif asal Bandung yang aktif sebagai konsultan dan pendiri jejaring kota kreatif.
Galih menjelaskan program Raya Budaya Etam 2026 dirancang untuk memfasilitasi ide-ide masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan di Kalimantan Timur melalui penyelenggaraan berbagai event berbasis budaya.
“Program Raya Budaya Etam ini memfasilitasi ide-ide pengembangan budaya di Kalimantan Timur melalui program atau event berbasis budaya,” ujar pria yang meniti karier profesional di bidang industri kreatif sejak tahun 1999.
Ia memaparkan tahapan program diawali dengan sosialisasi di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Setelah itu, masyarakat dan komunitas budaya mengirimkan proposal kegiatan untuk mengikuti proses seleksi.
Sebanyak 115 proposal event budaya diterima panitia. Seluruh proposal kemudian melalui proses kurasi tahap awal hingga terpilih 30 proposal terbaik yang mengikuti wawancara secara daring.
Peserta yang lolos kemudian menjalani tahap pendampingan dan mentoring bersama para mentor serta kurator untuk menyempurnakan konsep kegiatan yang diajukan.
“Peserta mendapatkan pembekalan materi dari masing-masing mentor dan kurator, kemudian menyempurnakan proposalnya hingga tahap presentasi akhir,” jelas Galih.
Dari proses tersebut akhirnya dipilih 10 event budaya yang berhak memperoleh dukungan pendanaan dengan nilai maksimal Rp5 juta untuk masing-masing kegiatan.
Meski terdapat bantuan pendanaan, Galih menegaskan Raya Budaya Etam bukanlah ajang perlombaan.
“Ini bukan program kompetisi, tetapi program kolaborasi. Sepuluh event budaya yang terpilih nantinya diharapkan saling bersinergi sehingga mampu memberikan dampak positif bagi Kalimantan Timur,” katanya.
Menurutnya budaya merupakan fondasi utama yang mampu melahirkan berbagai dampak positif, mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga lingkungan.
Ia mengibaratkan budaya sebagai akar sebuah pohon yang menjadi penopang tumbuhnya ekosistem. Dari akar tersebut akan tumbuh batang, ranting, hingga menghasilkan buah berupa manfaat bagi masyarakat.
“Buahnya adalah dampak, baik dampak ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Karena itu budaya harus menjadi fondasi utama pembangunan,” ungkapnya.
Galih mengapresiasi tingginya kualitas gagasan yang muncul dari para peserta. Menurutnya berbagai ide yang diangkat menunjukkan besarnya potensi objek pemajuan kebudayaan di Kalimantan Timur.
Ia berharap Raya Budaya Etam dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
“Program ini merupakan praktik baik. Harapannya bisa terus konsisten dan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mereplikasi pengembangan ekosistem budaya berbasis kolaborasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Galih menilai Kalimantan Timur memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dan layak menjadi salah satu contoh pengembangan budaya di Indonesia.
Selama melakukan pendampingan di berbagai daerah, ia melihat Kalimantan Timur memiliki karakteristik yang berbeda karena program ini benar-benar berfokus pada penguatan budaya, bukan semata sektor pariwisata.
“Kalimantan Timur memiliki budaya yang luar biasa. Isu yang diangkat sangat beragam, mulai dari gastronomi, tradisi, adat istiadat, hingga berbagai potensi budaya lainnya. Keberagaman ini justru menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan melalui budaya,” sebutnya.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





