SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menanggapi sikap 117 mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) yang menolak mengikuti program Gratispol. Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Kalimantan Timur, Dasmiah, menegaskan Pemprov tetap membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memanfaatkan program pendidikan gratis tersebut.
Dasmiah menjelaskan berdasarkan data yang diterima Pemprov Kaltim, terdapat ratusan mahasiswa Unmul yang tidak mendaftarkan diri dalam program Gratispol dengan jumlah utama mencapai 117 mahasiswa. Namun demikian, Pemprov tidak mempersoalkan pilihan tersebut.
“Kalau memang mahasiswa tidak mau mendaftar, tentu tidak bisa dipaksa. Tapi kami tetap memberikan kesempatan dan mengakomodasi mereka,” ujar Dasmiah, Senin (2/2/2026) di Samarinda.
Ia menyampaikan meski ada penolakan, pihak kampus tetap mendaftarkan mahasiswa-mahasiswa tersebut hingga batas waktu tertentu. Pemprov Kaltim pun menerima dan mengakomodasi langkah tersebut.
“Mereka tetap didaftarkan oleh kampus, dan itu kita akomodir. Batasnya sampai bulan Juni. Kalau sampai waktu itu mereka tetap tidak mendaftar atau menolak, ya itu pilihan mereka,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dasmiah menekankan program Gratispol merupakan komitmen Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur untuk memberikan akses pendidikan seluas-luasnya bagi masyarakat Kaltim.
“Satu hal yang perlu dicatat, Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Kalimantan Timur untuk memanfaatkan program gratis pendidikan, termasuk untuk berkuliah,” tegasnya.
Pemprov Kaltim tidak menginginkan adanya mahasiswa yang terkendala atau gagal mendapatkan hak pendidikan hanya karena persoalan administrasi maupun kesalahpahaman informasi.
“Kami ingin semua masyarakat Kalimantan Timur bisa mendapatkan pendidikan dengan baik dan tidak ada yang bermasalah,” ujarnya.
Terkait sosialisasi program Gratispol, Dasmiah memastikan Pemprov Kaltim telah melakukan berbagai upaya, termasuk penyediaan panduan dan pemanfaatan teknologi digital.
“Kami sudah memasang barcode informasi di seluruh kampus. Saat launching di Bukit Pintar juga sudah disampaikan. Siapa saja bisa mengakses informasinya,” ungkapnya.
Ia pun mengimbau mahasiswa serta calon mahasiswa di Kalimantan Timur agar lebih proaktif mencari dan memanfaatkan informasi yang telah disediakan.
“Sekarang ini semuanya sudah berbasis teknologi. Barcode sudah tersedia, tinggal bagaimana budaya kita untuk mencari tahu,” pungkas Dasmiah.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





