SAMARINDA — Aksi unjuk rasa yang berlangsung di Samarinda, Senin (1/9/2025) diwarnai ricuh setelah polisi terpaksa menggunakan gas air mata dan kendaraan taktis water canon untuk membubarkan massa. Pembubaran dilakukan karena massa menolak untuk membubarkan diri meskipun batas waktu yang ditetapkan yaitu pukul 18.00 WITA telah berakhir.
Kerusuhan terjadi selama lebih kurang dua jam dengan belasan gas air mata dilontarkan untuk membubarkan massa. Puluhan korban dilaporkan menderita sesak napas hingga luka-luka. Beberapa ambulans terlihat lalu-lalang untuk mengangkut korban ke rumah sakit terdekat. Dua orang anggota polisi terluka akibat lemparan batu dan dirawat di Rumah Sakit Hermina.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, menjelaskan awalnya demo berjalan dengan tertib. Menurutnya para pengunjuk rasa telah menyampaikan aspirasinya dengan etis. Namun menjelang pukul 18.00 WITA, situasi memanas dengan adanya pelemparan bom molotov dan batu ke arah petugas keamanan.
“Menjelang pukul 18.00 WITA, eskalasi meningkat. Banyak lemparan dilakukan oleh massa ke arah dalam bahkan beberapa kali lemparan itu kami identifikasi sebagai bom molotov,” jelas Kombes Hendri.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, pimpinan Polda Kaltim dan Pangdam memerintahkan untuk segera dilakukan pembubaran massa. Pembubaran berlangsung sekitar satu jam dan massa berhasil dipukul mundur ke arah Jalan MT Haryono dan Jalan Tengkawang.
Kombes Hendri menambahkan saat ini pihaknya belum dapat mengidentifikasi pelaku pelemparan karena situasi yang sangat ramai.
Dua orang anggota polisi, satu dari Satuan Samapta dan satu dari Humas dilaporkan terluka saat proses pembubaran massa unjuk rasa di Samarinda. Kedua anggota tersebut terluka akibat lemparan batu dari massa.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, membenarkan adanya korban luka dari pihak kepolisian.
“Ada dua orang anggota saya yang sekarang dalam proses perawatan. Ya tadi sudah dibawa ke Rumah Sakit Hermina,” ujar Kombes Hendri.
Meskipun kondisi mereka tidak terlalu parah, Kombes Hendri menyatakan keprihatinannya. “Seharusnya dalam aksi ini tidak harus ada korban yang mengakibatkan baik itu luka ringan maupun luka berat,” tambahnya.
Dirinya menambahkan meskipun sempat terjadi pelemparan bom molotov, tidak ada korban luka dari pihak kepolisian akibat insiden tersebut. Saat ini identifikasi pelaku masih dalam proses.
Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo





