Arus Mudik di Pelabuhan Samarinda, Penumpang Kapal Capai 1.750 Orang

SAMARINDA – Arus mudik melalui jalur laut dari Pelabuhan Samarinda menuju Pelabuhan Parepare mulai menunjukkan grafik peningkatan, Minggu (15/3/2026). Ribuan pemudik memadati terminal penumpang untuk bertolak menuju Sulawesi Selatan menggunakan armada kapal milik PT Bunga Teratai.

Direktur Utama PT Bunga Teratai, Syahril Sarapping, mengungkapkan jumlah penumpang pada hari ini mencapai 1.750 orang. Angka itu mencakup penambahan kapasitas (dispensasi) sebesar 50% untuk mengakomodasi tingginya minat warga.

“Kapasitas kita 1.750, jadi ada penambahan risiko sekitar 50%. Untuk jadwal, Insya Allah hari Rabu dan Kamis nanti ada pemberangkatan lagi dari Samarinda ke Parepare,” ujar Syahril saat ditemui di pelabuhan.

Menariknya keberangkatan kapal hari ini (Minggu) dimajukan dua jam lebih awal dari jadwal semula. Syahril menjelaskan langkah itu diambil murni karena alasan teknis alam.

“Kita berangkatkan lebih cepat 2 jam karena melihat siklus air. Ada pendangkalan di bibir muara sungai, jadi kita harus mengejar air pasang agar perjalanan aman,” tambahnya.

Meski terjadi kepadatan, Syahril menilai volume mudik tahun ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Ia menduga kondisi ekonomi yang fluktuatif membuat sebagian warga memilih untuk tetap tinggal di Samarinda.

Salah satu perubahan signifikan pada 2026 adalah kebijakan sterilisasi kapal sebelum keberangkatan. Penumpang kini diwajibkan menunggu di ruang tunggu yang disediakan Pelindo dan dilarang naik ke kapal sebelum waktunya.

“Ini evaluasi keamanan. Berbahaya kalau penumpang langsung naik, apalagi jika ada yang merokok di dekat kasur, bisa risiko kebakaran. Kami bekerja sama dengan otoritas pelabuhan, KSOP, dan Pelindo untuk memperbaiki sistem ini,” tegas Syahril.

Kondisi pelabuhan yang lebih tertata dirasakan oleh para pemudik. Abdullah Faisal, salah satu penumpang tujuan Makassar, mengaku puas dengan pelayanan tahun ini.

“Mudik tahun ini saya rasa lebih tertib. Sistem yang dipasang Pelindo membuat warga tidak berjubel seperti ‘lepas dari kandang’. Sudah tertata rapi,” kata Abdullah yang bekerja di sektor kehutanan Kalimantan.

Abdullah memilih jalur laut setelah gagal mendapatkan tiket pesawat yang harganya melonjak tinggi dan habis terjual. Dengan tiket kapal seharga Rp500.000, ia merasa biaya mudik jauh lebih terjangkau.

“Kalau tiket pesawat harganya fluktuatif, pas momen penting malah naik. Kalau kapal ini ramah di kantong. Meskipun nanti dari Parepare harus sambung bis lagi ke Makassar yang penting bisa kumpul keluarga,” ungkapnya.

Pewarta: Dimas
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI