BERAU – Upaya pelestarian bahasa daerah terus menjadi perhatian DPRD Kabupaten Berau. Sekretaris Komisi III DPRD Berau, Ratna, menegaskan pentingnya perlindungan sekaligus penerapan Bahasa Berau sebagai muatan lokal di lingkungan sekolah.
Menurut Ratna, pengenalan bahasa daerah sejak usia dini merupakan langkah strategis untuk menjaga identitas budaya masyarakat Berau agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Ratna menilai sekolah menjadi ruang paling efektif untuk menanamkan kesadaran budaya kepada generasi muda. Melalui proses pendidikan formal, bahasa daerah dapat diperkenalkan secara sistematis sehingga siswa tidak hanya mengenalnya, tetapi memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Sekolah adalah ruang paling efektif untuk menanamkan identitas daerah. Jika bahasa daerah tidak diperkenalkan sejak awal, lama-kelamaan bisa ditinggalkan. Kami mendorong agar regulasi terkait segera dirampungkan,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
Ia mengungkapkan keberadaan muatan lokal Bahasa Berau di sekolah nantinya diharapkan mampu memperkuat rasa bangga generasi muda terhadap warisan budaya daerahnya sendiri. Selain itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Namun Ratna menekankan penerapan Bahasa Berau sebagai muatan lokal harus dipersiapkan secara matang. Kesiapan tenaga pendidik, penyusunan materi ajar, hingga metode pembelajaran dinilai menjadi faktor penting agar proses pengajaran dapat berjalan efektif.
“Guru yang akan mengajar harus benar-benar siap, materi pembelajaran juga harus disusun dengan baik, termasuk metode yang menarik agar siswa mudah memahami dan tertarik mempelajarinya,” jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya penyusunan Peraturan Bupati (Perbup) sebagai dasar hukum pelaksanaan pembelajaran Bahasa Berau di sekolah. Regulasi tersebut dinilai penting agar penerapan muatan lokal dapat berjalan seragam di seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Berau.
Menurutnya keberadaan aturan yang jelas akan memberikan kepastian bagi sekolah dalam mengintegrasikan Bahasa Berau ke dalam kurikulum pembelajaran.
“Masuknya Bahasa Berau bukan sekadar tambahan pelajaran. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga jati diri masyarakat,” tambahnya.
Ratna menyampaikan langkah tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pendidikan yang saat ini tengah mematangkan kajian teknis terkait kurikulum, metode pembelajaran, serta regulasi pendukung sebelum Bahasa Berau diterapkan secara menyeluruh di sekolah-sekolah.
Ia berharap setelah diterapkan nanti, pembelajaran Bahasa Berau tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para siswa.
“Saya berharap siswa tidak hanya memahami bahasa di kelas, tetapi juga terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya. (adv)
Pewarta: Aril
Editor: Yahya Yabo





