Berau Ajukan Dukungan Pusat Tangani Dampak Kemarau, Soroti Ancaman Intrusi Air Laut di Lahan Sawah

BERAU – Ancaman musim kemarau panjang tahun ini tak hanya diantisipasi sebagai persoalan kekeringan semata, tetapi juga mulai memunculkan dampak lanjutan di daerah, termasuk intrusi air laut yang mengganggu produktivitas lahan pertanian.

Hal tersebut menjadi salah satu sorotan yang disampaikan Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat menghadiri rapat koordinasi mitigasi kekeringan yang digelar Kementerian Pertanian Republik Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Dalam forum yang dipimpin Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tersebut, Sri Juniarsih menegaskan bahwa Kabupaten Berau menghadapi tantangan spesifik yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah pusat.

“Selain potensi kekeringan, kami juga menghadapi persoalan intrusi air laut di beberapa lahan sawah, sehingga tidak bisa dipanen. Ini tentu berdampak langsung pada produktivitas petani,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut mempertegas bahwa dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya ketersediaan air, tetapi juga perubahan kualitas lahan yang dapat menurunkan hasil pertanian secara signifikan.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Berau telah melakukan berbagai upaya, mulai dari pembangunan dan perbaikan sistem irigasi berbasis pompa dan perpipaan, pembangunan embung, hingga pembuatan parit dam untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.

Selain itu, pemeliharaan jaringan irigasi tersier juga dilakukan secara rutin di empat kecamatan yang menjadi sentra produksi padi. Untuk mendukung pascapanen, pemerintah daerah turut menyiapkan alat panen serta mesin pengering (dryer) berkapasitas hingga 10 ton.

Namun, Sri Juniarsih menekankan bahwa upaya daerah saja belum cukup tanpa dukungan dari pemerintah pusat, mengingat skala tantangan yang dihadapi cukup besar.

Merespons hal tersebut, Kementan disebut telah mengalokasikan anggaran bantuan guna mendukung penanganan permasalahan yang diusulkan oleh daerah. Saat ini, Pemkab Berau tengah melengkapi persyaratan administrasi sebagai bagian dari proses tindak lanjut bantuan tersebut.

Di sisi lain, rakor tersebut juga menekankan pentingnya langkah antisipatif secara menyeluruh, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan hingga penerapan teknologi pertanian adaptif. Penggunaan sistem irigasi efisien dan program pompanisasi menjadi strategi utama untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan.

Sri memastikan bahwa pihaknya siap mempercepat implementasi berbagai langkah mitigasi di lapangan, terutama untuk melindungi petani dari risiko gagal panen.

“Kami berkomitmen untuk menindaklanjuti arahan pemerintah pusat dan memperkuat langkah mitigasi. Harapannya, dampak kemarau panjang bisa ditekan dan ketahanan pangan tetap terjaga,” tegasnya.

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI