Berikan Ruang Ekspresi ke Pelajar Kaltim, Teater Yupa Gelar Apsetra XIII

SAMARINDA – Apresiasi Seni dan Sastra (Apsetra) XIII kembali digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Yupa Universitas Mulawarman (Unmul).

Pembukaan berlangsung di Gedung Auditorium Unmul, pada Senin (10/11/2025) malam, menandai dimulainya ruang ekspresi bagi para pelajar dan komunitas teater di Kalimantan Timur.

Pada 2025, Apsetra mengusung tema ‘Mengukir Prasasti Baru untuk Nusantara’. Tema tersebut dimaknai sebagai upaya pelajar untuk tidak hanya berkarya, tetapi meninggalkan jejak kebudayaan yang relevan dengan zaman.

Acara yang dipandu MC Subhan Askori dan Sarah Salsabila tersebut dibuka dengan penampilan musik Yupa Etnika, diikuti sambutan dari panitia dan tamu undangan.

Pimpinan produksi Apsetra XIII, Feby Febriana, mengungkapkan penyelenggaraan tahun ini melalui proses panjang. Mulai dari pergantian pengurus UKM, penyusunan ulang struktur panitia, hingga komunikasi dengan peserta lintas daerah.

“Perjalanannya panjang, hampir satu tahun. Karena ada pergantian kepengurusan, kami harus membangun ulang pondasi kerja panitia. Tantangan muncul saat menjangkau peserta dari luar daerah. Tapi semangat untuk kembali menghadirkan Apsetra justru tumbuh dari situ,” ujar Feby.

Apsetra XIII dijadwalkan berlangsung selama sepekan, meliputi technical meeting, pementasan pada 12 November hingga 13 November, dan closing ceremony pada 14 November 2025.

“Kami ingin Apsetra menjadi ruang tumbuh teater pelajar di Kaltim. Generasi muda perlu ruang untuk bicara, merespon zaman, dan mengekspresikan budaya melalui tubuh dan panggung,” lanjutnya.

Pembina UKM Teater Yupa, Sigit Hadi Suyitno, menekankan Apsetra telah lama menjadi titik temu komunitas teater pelajar di Kalimantan Timur dan bahkan di tingkat nasional.

“Apsetra bukan sekadar kompetisi. Ia ruang silaturahmi, ruang berbagi proses, dan ruang tumbuh. Teater pelajar punya hak untuk membangun jaringan kreatif di Indonesia. Harapannya ruang ini tidak berhenti hanya sebagai event, tapi menjadi budaya,” katanya.

Sigit menyebut dua tahun sekali Apsetra menjadi momentum untuk mengukur perkembangan kualitas teater pelajar dari waktu ke waktu.

Rektor Universitas Mulawarman Abdunnur, diwakili Ariyanto Budi Setyawan, Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Kemahasiswaan Universitas Mulawarman, menyatakan institusi perguruan tinggi perlu memberi ruang bagi ekspresi seni.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya menampilkan karya, tetapi menumbuhkan karakter, keberanian, dan kepekaan sosial. Kreativitas pelajar harus dirawat. Kampus memiliki tanggung jawab menyediakan wadahnya,” ujar Ariyanto.

Ia menegaskan Unmul akan terus mendukung kegiatan seni, termasuk penguatan jejaring antar sekolah dan komunitas teater.

Acara ditutup dengan penampilan deville masing-masing peserta Apserta XIII diantaranya yakni Teater Karang dari SMAN 3 Samarinda, Teater Mahardika dari SMAN 8 Samarinda, Teater Warna dari SMK TI Labbaika Samarinda, dan Teater Oase dari SMAN 4 Berau.

Dipanggung yang sama dengan peserta, Eka Yusriansyah, selaku salah satu dewan juri menyebut kehadiran Apsetra adalah wujud nyata pemajuan kebudayaan di daerah.

“Ruang seperti ini sangat penting bagi pelajar. Ia membuka pengalaman, pertemuan, dan proses belajar. Apsetra bukan hanya panggung, tetapi ruang dialog kebudayaan,” ungkapnya.

Para peserta dijadwalkan menampilkan repertoar terbaik masing-masing dalam dua hari pementasan yang terpusat di Gedung Auditorium Unmul.

Pewarta: Nuzul Saputra
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI