Bertutur dari Mihrab, Satu Napas Keberagaman di Kota Tepian

AZAN menggema dari empat penjuru Kota Samarinda, menembus riuh aktivitas pasar, kawasan pemerintahan, hingga tepian tenang Sungai Mahakam. Di kota ini, masjid bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan ruang perjumpaan sejarah, kebijakan publik, dan kehidupan sosial yang terus bergerak mengikuti denyut zaman.

Di kawasan eks Lapangan Kinibalu, Masjid Nurul Mu’minin Samarinda berdiri megah di antara kompleks pemerintahan dan rumah ibadah lintas agama, menjadi simbol harmoni yang tumbuh di tengah masa pandemi.

Tak jauh dari hiruk pikuk Pasar Pagi Samarinda, Masjid Raya Darussalam Samarinda hadir dengan wajah baru yang lebih terang, lebih nyaman, dan kembali menjadi oase bagi pedagang, musafir, serta warga kota.

Di Samarinda Seberang, Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda tetap berdiri kokoh dengan rangka kayu ulin yang menua bersama waktu, menyimpan jejak dakwah lebih dari satu abad.

Sementara di tepian Sungai Mahakam, Islamic Center Samarinda (Masjid Baitul Muqarrabin) menjulang sebagai pusat dakwah modern, pendidikan, dan kegiatan sosial keagamaan bagi masyarakat Kota Tepian.

Empat masjid ini lahir dari konteks berbeda. Ada yang dibangun dengan anggaran puluhan miliar rupiah di era modern, ada yang direvitalisasi demi kenyamanan jemaah, dan ada pula yang berdiri sejak abad ke-19, melewati masa kerajaan, kolonial, hingga Indonesia merdeka. Namun semua berbagi peran yang sama. Menjadi simpul spiritual sekaligus ruang publik yang mengikat warga Samarinda dalam satu nafas kebersamaan.

Di antara gereja dan kantor gubernur, di tengah pasar yang tak pernah tidur, dan di kampung tua tepian Mahakam, azan terus berkumandang. Samarinda tumbuh, berubah, dan bergerak maju. Namun di empat masjid inilah jejak iman, toleransi, dan sejarahnya tetap terjaga.

Lahir di Tengah Pandemi, Berdiri di Simpul Keberagaman

Potret Masjid Nurul Mu’minin saat siang hari.

Masjid Nurul Mu’minin berdiri megah di kawasan eks Lapangan Kinibalu, Jalan Gunung Arjuna (kini dikenal juga berada di sekitar Jalan Semeru), tak jauh dari Kantor Gubernur Kalimantan Timur. Posisinya strategis di antara pusat pemerintahan dan lingkungan permukiman yang majemuk.

Masjid milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur itu resmi digunakan pada Kamis, 20 Agustus 2020, bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijriah. Momentum peresmian yang bersamaan dengan Tahun Baru Islam memberi makna simbolik, sebuah awal baru di tengah situasi pandemi Covid-19 yang kala itu masih mencekam.

Peresmian sejatinya telah lama direncanakan. Namun pandemi memaksa agenda itu ditunda dua kali, yakni pada 20 Maret dan 24 Juli 2020. Kepala Biro Humas Setprov Kaltim saat itu, HM Syafranuddin, memastikan jadwal baru ditetapkan pada 20 Agustus 2020. Prosesi digelar sederhana, di luar ruang utama masjid, dengan undangan terbatas dan protokol kesehatan ketat setelah berkoordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Kaltim dan Kota Samarinda.

Wakil Gubernur Kaltim saat itu, Hadi Mulyadi, memimpin langsung prosesi peresmian. Sejak hari itu, masjid mulai difungsikan, termasuk untuk pelaksanaan salat Jumat berjamaah.

Namun pembangunan masjid ini bukan proyek instan. Perencanaan dimulai sejak 2017 dengan anggaran perencanaan Rp860 juta dari APBD. Tahap pembangunan fisik pertama dilakukan pada 2018 dengan anggaran sekitar Rp27 miliar, mencakup struktur utama, rumah imam dan kaum, serta tempat wudu pria. Pengawasan tahap itu menghabiskan Rp428 juta.

Tahap kedua pada 2019 menelan anggaran sekitar Rp55 miliar untuk penyelesaian konstruksi, dengan biaya supervisi Rp877 juta. Secara keseluruhan, pembangunan mencapai sekitar Rp83,3 miliar. Dua kontraktor terlibat: PT Bangun Cipta Kontraktor pada tahap awal dan PT Jaya Kedaton pada tahap akhir.

Bangunan tiga lantai seluas 5.000 meter persegi itu berdiri di atas lahan 16.281 meter persegi, dengan kapasitas maksimal 3.500 jemaah. Area parkir mampu menampung sekitar 150 mobil dan 400 sepeda motor.

Dari sisi desain, arsitekturnya terinspirasi rumah ibadah Timur Tengah. Kubah besar berlapis aluminium dengan detail emas mendominasi interior, diapit empat menara di setiap sudut. Kepala Dinas PUPR-Pera Kaltim saat itu, M Taufik Fauzi, menyebut desain tersebut merupakan hasil masukan sejumlah tokoh Kaltim.

Namun pesan terkuat masjid ini justru terletak pada lokasinya. Ia berdampingan dengan Sekretariat MUPEL-GPIB 2 Kaltim dan TK Immanuel Samarinda, serta sekitar 500 meter dari Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi. Lanskap ini menghadirkan simbol toleransi yang nyata.

“Amanah gubernur, warga sekitar harus dilibatkan untuk cleaning service, security dan parkir,” ujar Hadi Mulyadi dalam rapat persiapan peresmian pada 8 Juli 2020.

Warga juga diprioritaskan mengelola kantin masjid. Pemprov Kaltim bahkan mengalokasikan subsidi operasional air dan listrik, dengan pesan agar lingkungan tetap dirawat dan diperbanyak pohon perindang.

Masjid ini tak hanya mengusung kemegahan fisik, tetapi juga adaptif terhadap zaman. Pengelola menyediakan opsi penggunaan untuk akad nikah dan foto pra-nikah, serta sistem donasi digital melalui QRIS Bank Kaltimtara Syariah.

Enam tahun sejak direncanakan, Masjid Nurul Mu’minin berdiri sebagai simbol kemajuan sekaligus keberagaman yang lahir di tengah pandemi, tumbuh di simpul toleransi.

Revitalisasi Ikon Lama di Jantung Perdagangan

Pintu masuk Masjid Raya Darussalam.

Berbeda dengan Nurul Mu’minin yang relatif baru, Masjid Raya Darussalam menyimpan jejak panjang sejarah Samarinda. Terletak di Jalan KH Abdullah Marisie, Kelurahan Pasar Pagi, masjid ini telah lama menjadi pusat ibadah di kawasan perdagangan tersibuk kota.

Pemerintah Kota Samarinda memulai revitalisasi besar-besaran pada 2024 dengan nilai kontrak awal Rp19,9 miliar. Pekerjaan mencakup perbaikan atap waterproofing, fasad GRC menara, hingga pengecatan interior. Pada 2025, tambahan anggaran Rp4,79 miliar digelontorkan untuk penyempurnaan interior, pencahayaan kubah, toilet, dan tempat wudu.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, saat meninjau progres pada Juli 2025, menekankan pentingnya estetika dan kenyamanan. Ia ingin jamaah merasakan suasana aman, bersih, dan terang.

Masjid kemudian diresmikan kembali pada Jumat, 13 Februari 2026. Hasilnya terasa nyata. Interior yang dahulu cenderung gelap kini benderang dengan tata cahaya modern. Area parkir diperluas dan ditata dengan paving block. Rencana penambahan membran peneduh dan trotoar di sepanjang parit masjid juga masuk agenda 2026.

Ramadan 1447 H menjadi momentum kebangkitan masjid ini. Berdasarkan pantauan di lapangan pada akhir Februari 2026, sejak Dzuhur jemaah sudah memadati ruangan. Usai salat, tausiyah rutin diisi ustaz-ustaz lokal. Para pedagang Pasar Pagi memanfaatkan selasar untuk beristirahat, bahkan tertidur sejenak sebelum kembali berdagang.

Tradisi penyediaan takjil dan sahur bagi musafir serta warga sekitar tetap berjalan. Kepala Bagian Tata Usaha Yayasan Masjid Raya Darussalam, Abrari Muttaqin, menyebut partisipasi donatur terus meningkat setiap tahun. Menjelang Magrib, kurma, kue tradisional, dan minuman segar berdatangan dari warga.

Selepas Isya, salat Tarawih berjamaah melimpah ruah. Masjid ini bukan sekadar bangunan yang direvitalisasi, tetapi ruang publik religius yang kembali hidup.

Warisan Kayu Ulin dan Dakwah Abad ke-19

Bangunan dan interior Masjid Shiratal Mustaqiem di kawasan Samarinda Seberang yang menjadi saksi
bisu penyebaran syiar Islam di bekas kampung perjudian.

Di Samarinda Seberang, suasana berbeda terasa di Masjid Shiratal Mustaqiem. Berdiri sejak 1881 dan rampung sekitar 1891, masjid ini dibangun oleh Said Abdurachman bin Assegaf, kelak dikenal sebagai Pangeran Bendahara yang merupakan seorang pedagang Muslim dari Pontianak yang datang ke Kesultanan Kutai.

Sekretaris Pokdarwis Amanah Masjid Shiratal Mustaqiem, Mazdar, menuturkan sejarah yang diwariskan turun-temurun. Konon, sebelum azan berkumandang lima waktu, kawasan itu dikenal sebagai pusat perjudian dan sabung ayam. Dakwah perlahan mengubah wajah sosial kampung.

Masjid dibangun secara gotong royong. Empat soko guru disumbangkan para dermawan dari berbagai wilayah, termasuk Karang Mumus, Dondang, Kutai Lama, dan Loa Haur. Ukurannya yang besar membuat warga kesulitan menegakkannya. Hingga kini, kisah tentang sosok misterius yang membantu mendirikan tiang-tiang itu tetap hidup dalam ingatan kolektif warga.

Masjid diresmikan pada 27 Rajab 1311 Hijriah oleh Sultan Kutai Kartanegara. Awalnya bernama Masjid Jami, kemudian dikenal sebagai Shiratal Mustaqiem—“jalan yang lurus”.

Hampir seluruh bagian bangunan masih menggunakan kayu ulin asli. Renovasi hanya dilakukan untuk menjaga ketahanan dari air dan rayap tanpa mengubah bentuk. Kayu ulin yang semakin kuat seiring usia menjadi metafora syiar Islam yang kian kokoh.

Setiap Ramadan, tradisi bubur peca menarik warga dan wisatawan. Namun tantangan regenerasi tetap ada.

“Tugas kami bukan sekadar menjaga bangunan, tetapi merawat cerita di dalamnya,” ujar Mazdar.

Merawat Syiar dan Ekonomi Umat di Islamic Center Samarinda

Masjid Islamic Center Samarinda

Islamic Center Samarinda menjadi penanda penting perjalanan religius dan peradaban Islam di Kalimantan Timur. Kawasan yang dahulu merupakan lahan eks penggergajian kayu milik PT Inhutani I di Teluk Lerong Ulu itu kini berubah menjadi pusat kegiatan ibadah dan sosial masyarakat.

Gagasan pembangunan Islamic Center berawal dari era kepemimpinan gubernur Kalimantan Timur saat itu, Suwarna Abdul Fatah. Pembangunan dimulai pada 2001 dan rampung secara bertahap hingga diresmikan pada 16 Juni 2008 oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Kini, masjid dengan tujuh menara ikonik tersebut menjadi salah satu pusat ibadah terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas jamaah mencapai puluhan ribu orang. Lebih dari fungsi keagamaan, Islamic Center dirancang sebagai ruang dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial masyarakat.

Memasuki Ramadan, kawasan Islamic Center kembali hidup melalui Festival Ramadan yang menghadirkan bazaar UMKM serta berbagai lomba keagamaan bagi anak dan remaja.

Imam Besar Islamic Center Samarinda, KH Muhammad Rasyid, mengatakan bazaar Ramadan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi umat. Puluhan pedagang menjajakan takjil, makanan khas Ramadan, hingga busana muslim dan perlengkapan ibadah.

“Kita membuka bazaar Ramadan di halaman kompleks. Ini bukan sekadar jual beli, tetapi bagian dari pemberdayaan masyarakat agar masjid juga memberi dampak ekonomi,” ujarnya.

“Yang berjualan tetap ada, walau tidak sebesar tahun-tahun tertentu. Kita tetap dukung agar ekonomi umat terus bergerak,” tambahnya.

Selain aktivitas ekonomi, festival juga diisi lomba adzan, tartil Al-Qur’an, kaligrafi, hingga seni islami yang bertujuan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap masjid.

“Masjid harus hidup, bukan hanya saat salat, tapi juga dengan kegiatan positif yang membangun karakter,” kata KH Muhammad Rasyid.

Hal ini pun dapat dibuktikan, tadarus Al-Qur’an tetap berlangsung setiap malam, sementara salat tarawih dan iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan dipadati jamaah dari berbagai wilayah Samarinda.

Melalui sejarah panjang dan aktivitas Ramadan yang terus berkembang, Islamic Center Samarinda menegaskan perannya sebagai pusat ibadah, ekonomi umat, dan ruang tumbuhnya generasi Islam yang berkarakter di Kalimantan Timur.

KH Muhammad Rasyid berharap Ramadan tahun ini menjadi momentum perbaikan diri, penguatan persaudaraan, serta semakin memakmurkan masjid dan masyarakat.

“Kita masih punya kekurangan yang harus dibenahi. Harapannya, semakin hari semakin baik, masyarakat semakin tertib, dan masjid semakin makmur,” tutupnya.

Satu Kota, Beragam Simbol Zaman

Di tengah arus pembangunan dan perubahan wajah kota, keempat masjid ini menunjukkan bahwa kemajuan tak selalu berarti meninggalkan akar. Justru di sanalah identitas dirawat di ruang sujud yang sama, dari generasi ke generasi. Samarinda bertumbuh sebagai kota modern, namun tetap menyisakan ruang bagi tradisi, sejarah, dan nilai-nilai yang mengikat warganya.

Keempatnya menghadirkan wajah Islam yang berbeda namun saling melengkapi, modern sekaligus historis, representatif sekaligus membumi. Ada kebijakan publik yang terlibat, ada partisipasi warga yang tumbuh, dan ada dakwah yang berjalan pelan namun pasti. Masjid-masjid ini menjadi ruang temu, tempat kelas sosial melebur tanpa sekat, diikat oleh saf yang lurus dan doa yang sama.

Lebih dari sekadar ikon arsitektur, mereka adalah cermin perjalanan Samarinda itu sendiri. Kota yang pernah menjadi simpul perdagangan sungai, tumbuh menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi, kini terus menata diri di tengah tantangan zaman. Namun di balik dinamika itu, suara azan tetap menjadi penanda arah dan mengingatkan warganya pada nilai yang lebih hakiki.

Dan ketika senja turun di atas Mahakam, cahaya lampu dari kubah-kubah masjid memantul lembut di langit Kota Tepian. Di sanalah iman, toleransi, dan sejarah bertemu menjadi fondasi yang tak terlihat, tetapi paling menentukan dalam menjaga Samarinda tetap kokoh melangkah ke masa depan. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI