Bumi Etam Bersiap Menanti Takbir

MALAM Ramadan di Samarinda Seberang belum benar-benar sunyi ketika dentingan alat musik sederhana mulai terdengar dari gang-gang kampung. Tabuhan ritmis dipadukan dengan lantunan syair religi menggema hingga menjelang Subuh. Puluhan pemuda berjalan berkelompok, memainkan alat musik seadanya sambil membangunkan warga untuk makan sahur.

Tradisi itu dikenal sebagai Mattedu Subuh, sebuah kebiasaan lama yang diwariskan masyarakat Bugis di kawasan tersebut. Dahulu dilakukan secara sederhana dengan berkeliling kampung, kini tradisi itu berkembang menjadi festival yang melibatkan puluhan kelompok pemuda.

Di sudut lain Samarinda Seberang, suasana berbeda terlihat di Kampung Ketupat. Seorang perempuan paruh baya duduk bersila di teras rumah kayu yang menghadap gang sempit. Jemarinya bergerak pelan namun teratur, melipat daun nipah hingga membentuk anyaman kotak kecil.

Anyaman itu akan menjadi ketupat, hidangan yang hampir selalu hadir di meja makan saat Hari Raya Idulfitri.

Setiap menjelang Lebaran, aktivitas menganyam ketupat di kawasan ini meningkat tajam. Pesanan datang dari berbagai wilayah kota, bahkan hingga luar daerah.

Dua potret kecil tersebut menjadi gambaran bagaimana Ramadan dan Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai momentum ibadah, tetapi juga sebagai ruang hidupnya berbagai tradisi di Kalimantan Timur.

Di berbagai daerah, masyarakat merawat kebiasaan yang telah diwariskan turun-temurun, mulai dari tradisi sahur keliling, tadarus dan khotmil Quran di langgar dan masjid, hingga ragam kuliner khas yang mencerminkan keberagaman budaya masyarakat.

Di saat yang sama, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga pengelola infrastruktur juga mulai mematangkan berbagai persiapan untuk menghadapi arus mudik dan meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Idulfitri.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Perubahan

Di Samarinda Seberang, festival Mattedu Subuh menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal terus bertahan melalui kreativitas generasi muda.

Puluhan kelompok pemuda dari berbagai wilayah Kota Samarinda hingga Kabupaten Kutai Kartanegara setiap Ramadan berkumpul untuk menampilkan kreasi musik sahur mereka. Mereka memadukan tabuhan bedug, alat musik sederhana, hingga aransemen modern yang disertai pesan-pesan keagamaan.

Tradisi serupa juga masih hidup di sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur. Di Desa Loa Duri Ilir, Kutai Kartanegara, serta Kelurahan Harapan Baru di Samarinda, masyarakat rutin menggelar pagelaran bedug sahur yang melibatkan pawai kendaraan berhias ornamen Ramadan.

Mobil-mobil dihias dengan lampu warna-warni, miniatur masjid, hingga kaligrafi. Kendaraan tersebut kemudian berkeliling kampung sambil membunyikan bedug untuk membangunkan warga sahur.
Di sisi lain, kehidupan religius masyarakat juga tercermin melalui berbagai kegiatan ibadah kolektif yang menjadi tradisi Ramadan.

Di Desa Suka Raja, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, misalnya, jemaah Langgar Darul Ulum menggelar khotmil Quran sebagai penutup rangkaian tadarus selama bulan suci.

Tradisi tersebut telah berlangsung lama di lingkungan setempat dan tetap dijalankan hingga kini, meskipun wilayah tersebut kini masuk dalam kawasan pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Bagi masyarakat setempat, tradisi itu bukan sekadar kegiatan ibadah, tetapi juga bagian dari identitas sosial yang memperkuat kebersamaan warga.

Ragam Rasa Lebaran dari Berbagai Suku

Selain tradisi keagamaan, perayaan Lebaran di Kalimantan Timur juga diperkaya oleh keberagaman budaya masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, misalnya, meja makan warga saat Lebaran dipenuhi ragam hidangan khas dari berbagai suku.

Masyarakat Bugis biasanya menyajikan buras dan bebek palekko yang kaya rempah. Keluarga Jawa menghadirkan ketupat dan opor ayam sebagai menu utama, sementara masyarakat Banjar menyiapkan masakan habang yang bercita rasa manis gurih.

Tak jarang pula keluarga asal Palembang menghadirkan pempek sebagai sajian tambahan bagi tamu yang datang bersilaturahmi.

Keberagaman kuliner tersebut mencerminkan wajah Kalimantan Timur sebagai daerah tujuan migrasi yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang budaya.

Dalam satu rumah, tamu yang datang bersilaturahmi bisa menemukan berbagai hidangan khas dari daerah yang berbeda.

Persiapan Menghadapi Arus Mudik

Di tengah kehidupan tradisi yang masih kuat, persiapan menyambut arus mudik juga mulai dilakukan di berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Pengelola Jalan Tol Balikpapan–Samarinda memperkirakan jumlah kendaraan yang melintas selama periode mudik tahun ini mencapai sekitar 23 ribu kendaraan.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, jumlah lajur transaksi di gerbang tol ditambah dari tiga menjadi lima lajur guna mempercepat proses transaksi kendaraan.

Selain itu, ruas tol menuju kawasan Ibu Kota Nusantara juga dibuka secara fungsional selama periode mudik untuk membantu mengurai kepadatan di jalur utama.

Di sisi lain, aparat kepolisian di berbagai daerah juga mulai menyiapkan pengamanan melalui Operasi Ketupat Mahakam 2026.

Pos pengamanan didirikan di sejumlah titik strategis, sementara layanan penitipan kendaraan disediakan bagi masyarakat yang hendak mudik agar dapat meninggalkan rumah dengan lebih tenang.
Pemerintah daerah juga meningkatkan pengawasan terhadap distribusi bahan pangan menjelang Lebaran, termasuk melalui bazar pangan murah dan pemantauan harga di pasar tradisional maupun ritel modern.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga serta mencegah lonjakan harga yang dapat memberatkan masyarakat.

Di Kalimantan Timur, Ramadan dan Lebaran selalu menghadirkan lebih dari sekadar perayaan keagamaan.

Di balik takbir yang akan berkumandang saat Idulfitri, ada berbagai cerita yang hidup di tengah masyarakat: tradisi sahur yang diwariskan turun-temurun, tangan-tangan perajin yang menyiapkan ketupat untuk hari raya, ragam hidangan dari berbagai budaya, hingga kesiapan berbagai pihak memastikan perjalanan mudik berjalan aman.

Di tengah perubahan besar yang terjadi di wilayah ini termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara, tradisi dan kebersamaan masyarakat tetap menjadi bagian penting dari wajah Lebaran di Bumi Etam.

Liputan khusus ini akan menelusuri berbagai cerita tersebut, dari kampung-kampung di Samarinda hingga kawasan Sepaku, dari dapur-dapur rumah warga di Sangatta hingga jalur-jalur mudik yang mulai dipadati kendaraan.

Sebab di Kalimantan Timur, Lebaran tidak hanya tentang pulang kampung atau perayaan hari raya. Ia juga tentang bagaimana masyarakat menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan menyambut masa depan tanpa melupakan akar budaya yang telah lama hidup di tanah ini. (Tim MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI