SENJA terakhir sebelum Ramadan di sejumlah kampung tua Kutai Kartanegara, selalu memiliki aura berbeda. Saat matahari perlahan tenggelam, langit jingga keunguan, para warga menata lilin, beras, pinang, gambir, kapur sirih, dan daun sirih di depan pintu rumah. Cahaya lilin kecil berpendar di redup senja, mengundang ketenangan dan perenungan.
Bukan sekadar adat, tradisi ini merupakan penegasan niat, membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.
Penggiat budaya Kutai, Awang M Rifani, menegaskan tradisi ini bukan simbol kosong yang dijalankan tanpa makna. Tetapi pertanda untuk membersihkan hati sebelum memasuki bulan puasa.
“Ini bukan hanya simbol adat, tetapi pengingat bahwa sebelum memasuki Ramadan, hati harus dibersihkan dan diterangi,” ujarnya.
Prosesi dilakukan tepat saat Magrib terakhir sebelum puasa. Waktu ini dipilih karena dianggap momen transisi dari terang ke gelap, dari aktivitas duniawi menuju perenungan batin.
Di depan pintu, perlengkapan adat ditata rapi. Lilin dinyalakan, cahayanya kecil tapi tegas. Dalam tradisi Melayu-Kutai, api atau nur melambangkan petunjuk hidup, penerangan hati sebelum Ramadan tiba.
Beras yang disusun di depan pintu bukan sekadar bahan pokok. Ia menjadi simbol rezeki dan kehidupan, sekaligus ajakan bersyukur atas kecukupan yang diberikan Tuhan. Puasa bukan tentang kekurangan, tetapi kesadaran.
Irisan pinang memiliki kedudukan penting dalam budaya Melayu-Kutai. Dalam ritual ini, pinang dimaknai sebagai lambang kejujuran dan keteguhan niat.
“Puasa itu soal niat. Niatnya harus lurus dan sungguh-sungguh,” kata Rifani.
Gambir, dengan rasa pahit dan sepatnya, menjadi simbol pengendalian diri. Ia merepresentasikan kemampuan manusia menahan gejolak, amarah, dan berbagai “rasa pahit” kehidupan selama berpuasa.

Kapur sirih dimaknai sebagai perekat. Filosofinya jelas, sebelum Ramadan, hubungan yang renggang harus diperbaiki. Silaturahmi diperkuat agar ibadah dijalani dalam suasana damai.
Sementara daun sirih, yang lekat dengan tradisi Nusantara, menjadi simbol kesucian dan penghormatan.
Peletakan seluruh perlengkapan di depan pintu rumah bukan tanpa makna. Dalam pemahaman simbolik masyarakat Kutai, pintu adalah batas antara luar dan dalam antara dunia dan ruang batin.
“Maknanya kita menolak hal buruk masuk ke rumah, sekaligus mengundang keberkahan dan ketenangan,” jelas Rifani.
Tradisi ini, bagi masyarakat adalah deklarasi sunyi bahwa Ramadan bukan sekadar perubahan kalender, melainkan perubahan sikap hidup. Dari kebiasaan biasa menuju kesadaran spiritual yang lebih dalam.
Di tengah modernitas dan kemudahan informasi, tradisi ini tetap bertahan di kampung-kampung tua Kutai. Ia menjadi pengingat bahwa puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga.
“Ramadhan itu momentum membersihkan hati. Rumah dan jiwa harus sama-sama diterangi,” tutup Rifani.
Di tengah modernitas dan kemudahan informasi, tradisi ini tetap hidup di kampung-kampung tua Kutai, meski semakin jarang dijumpai. Ia menjadi pengingat sederhana namun mendalam bahwa Ramadan adalah momentum perubahan sikap hidup.
Sebuah cahaya kecil di depan pintu, ternyata bukan sekadar cahaya fisik, melainkan cahaya untuk jiwa, penanda kesiapan batin menyambut bulan suci. (Tim MK)





