Dari Terpencil Jadi Viral, Muara Enggelam Buktikan Desa Mandiri Lewat Wisata Digital

TENGGARONG – Siapa sangka, desa yang dulu hanya dikenal lewat jalur air kini menjelma jadi ikon wisata digital Kutai Kartanegara (Kukar). Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, kini menjadi simbol transformasi desa terpencil menjadi destinasi wisata terapung yang mendunia, dikelola mandiri oleh warganya sendiri.

Camat Muara Wis, Fadhli Annur, menjelaskan perubahan besar tersebut dimulai dari pembangunan infrastruktur dasar. Pemerintah membangun jalan sepanjang dua kilometer yang mempersingkat waktu tempuh menuju desa, membuka peluang baru bagi masyarakat dan wisatawan.

“Sekarang waktu tempuh sudah jauh lebih cepat, walaupun sebagian jalurnya masih lewat sungai. Tapi dengan adanya tambahan jalan ini, pergerakan masyarakat dan wisatawan jadi lebih mudah,” ujarnya, Senin (6/10/2025).

Akses yang lebih mudah itu menjadi titik balik bagi Muara Enggelam. Lanskap danau luas dengan rumah kayu di atas air kini menjadi magnet wisata baru di Kukar. Uniknya, promosi wisata desa ini tidak datang dari pemerintah, melainkan dari inisiatif digital warga sendiri.

Warga aktif mengunggah foto dan video suasana desa ke media sosial dari panorama matahari terbit di atas danau hingga aktivitas nelayan di pagi hari. Konten-konten tersebut dengan cepat viral di Instagram dan YouTube, menjadikan Muara Enggelam dikenal luas sebagai ‘desa terapung di tengah danau’ yang memesona.

“Pokdarwis bukan hanya promosi, tapi juga mengatur bagaimana potensi wisata ini bisa berkelanjutan,” terang Fadhli.

Kesadaran warga terhadap potensi desanya melahirkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang kini berperan sebagai motor utama penggerak ekonomi lokal. Pokdarwis mengatur kegiatan wisata, menjaga kebersihan lingkungan, dan memastikan wisata tetap berjalan tanpa mengganggu keseimbangan ekologi dan kehidupan masyarakat.

Meski fasilitas wisata masih terbatas seperti gazebo dan area istirahat yang sederhana, dampak ekonominya sudah terasa. Warga mulai membuka warung kecil, menyediakan jasa sewa perahu, dan menawarkan paket wisata jelajah danau. Setiap kunjungan wisatawan berarti tambahan pendapatan bagi masyarakat desa.

Pemerintah kini mulai melirik potensi kawasan sekitarnya seperti Danau Marawis dan gugusan pulau kecil di wilayah Kenohan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam baru. Menurut Fadhli, arah pembangunan ke depan adalah pariwisata yang berwawasan lingkungan.

“Pembangunan di sini tidak hanya soal infrastruktur, tapi juga bagaimana memberi nilai tambah tanpa merusak lingkungan,” tegasnya.

Muara Enggelam menjadi contoh nyata pariwisata berbasis masyarakat dan digitalisasi lokal bisa menjadi mesin ekonomi baru bagi desa. Dari desa yang dulu terisolasi, kini Muara Enggelam menjadi destinasi unggulan yang membawa nama Kukar ke kancah nasional dan internasional.

“Desa ini membuktikan bahwa keterpencilan bukan hambatan, tapi justru potensi yang bisa mengangkat nama daerah,” pungkas Fadhli. (adv)

Pewarta : Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI