DI BALIK ramainya perdagangan hewan kurban di Paser tahun ini, para pedagang justru menghadapi tekanan yang tidak ringan. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya solar, memicu lonjakan biaya distribusi sapi dari daerah pemasok. Dampaknya langsung terasa pada harga jual hewan kurban yang meningkat hingga jutaan rupiah per ekor.
Kondisi tersebut tidak hanya membebani pedagang, tetapi juga mulai menggerus daya beli masyarakat. Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya berbagai kebutuhan pokok, sebagian warga memilih mengurangi jumlah hewan kurban yang dibeli, bahkan ada yang menunda berkurban tahun ini.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Paser melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) juga dihadapkan pada tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni ancaman penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hingga temuan parasit cacing pita pada organ sapi kurban.
Situasi itu membuat Iduladha tahun ini tidak hanya berbicara soal ibadah dan tradisi tahunan, tetapi juga tentang rantai distribusi ternak, tekanan ongkos logistik, pengawasan kesehatan hewan, hingga daya tahan ekonomi masyarakat di daerah.
Salah seorang pedagang sapi kurban di Desa Tepian Batang, Kecamatan Tanah Grogot, Masran, mengaku kenaikan harga BBM menjadi faktor utama melonjaknya harga sapi kurban pada tahun ini.
Menurutnya, biaya pengiriman ternak dari daerah asal kini jauh lebih mahal dibanding tahun sebelumnya. Akibatnya, harga jual sapi ikut mengalami kenaikan sekitar Rp1 juta per ekor.

“Kalau untuk tahun ini kenaikan harga sapi lumayan tinggi, maka dari itu memang agak berkurang Shohibul Qurban tahun ini. Sapi yang tahun kemarin dijual Rp18 juta, di tahun ini dijual Rp19 juta. Ada kenaikan sekitar Rp1 juta dari tahun kemarin,” kata Masran, Jumat (15/5/2026).
Masran mengatakan dampak kenaikan harga langsung terasa terhadap penjualan. Sejumlah pembeli yang sebelumnya berencana membeli lebih dari satu ekor sapi akhirnya mengurangi jumlah pembelian karena keterbatasan anggaran.
“Pernah ada pembeli yang awalnya mau membeli sapi sebanyak tiga ekor, tapi karena harga naik akhirnya hanya bisa membeli dua ekor,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dialami hampir seluruh pedagang sapi kurban di Kabupaten Paser. Bahkan pedagang berskala kecil disebut paling merasakan dampaknya.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya dua pekan menjelang Iduladha pedagang bisa menjual puluhan ekor sapi, tahun ini banyak pedagang yang baru mampu menjual beberapa ekor saja.
“Menurunnya penjualan ini dialami oleh hampir seluruh pedagang di Paser, seperti teman saya di Desa Sempulang, punya 40 ekor sapi sekarang baru laku lima ekor,” ungkapnya.
Meski demikian, Masran mengaku penjualannya masih relatif stabil karena telah memiliki pelanggan tetap dan kerja sama dengan sejumlah perusahaan yang rutin membeli sapi kurban setiap tahun.
Ia juga telah mengantisipasi kenaikan harga dengan memberikan informasi lebih awal kepada para pelanggan. Dari total sekitar 90 ekor sapi yang dimiliki, sebanyak 70 ekor disebut sudah terjual hingga awal Mei ini.
Rantai Distribusi Panjang dari NTT ke Paser
Masran menjelaskan sapi yang dijualnya merupakan jenis sapi Bali yang didatangkan langsung dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam sekali pengiriman, sekitar 30 ekor sapi dikirim menuju Kabupaten Paser.
Menurutnya, distribusi ternak dari luar pulau kini semakin berat karena biaya transportasi ikut melonjak seiring kenaikan harga BBM.
Meski harus menempuh perjalanan lebih jauh, Masran tetap memilih mendatangkan sapi dari Kupang karena dinilai memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik dibanding beberapa daerah lain.
“Kalau sapi dari Kupang kesehatannya lebih terjamin, sementara kalau dari Sulawesi saya engga bisa jamin kesehatannya. Kalau sapi Kupang ini dari gerak tubuhnya aja sudah kita bisa lihat ini sapi sehat,” tuturnya.
Secara fisik, lanjut dia, sapi yang dipasarkan sebenarnya memiliki jenis yang sama, yakni sapi Bali. Perbedaannya hanya terletak pada lokasi pembibitan dan pola pemeliharaan.
“Ada yang ambil dari Bali, NTB, NTT, sampai Sulawesi. Tapi sejauh pengalaman saya, sapi dari Kupang lebih aman dan dari sisi harga juga masih lebih murah dibanding sapi dari Sulawesi,” jelasnya.
Ia mengatakan hingga kini belum ada solusi konkret yang dirasakan pedagang terkait dampak kenaikan harga BBM terhadap distribusi hewan kurban.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Kabupaten Paser, tetapi juga dirasakan pedagang dan peternak di berbagai daerah lain di Indonesia.
“Bukan cuma di Paser, tapi di Jawa juga merasakan hal yang sama. Bahkan peternak tempat kami biasa mengambil pun mengeluh, karena permintaan menurun akibat biaya pengiriman yang naik,” katanya.
Pemkab Perketat Pengawasan Hewan Kurban
Di tengah meningkatnya distribusi ternak menjelang Iduladha, Pemerintah Kabupaten Paser memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban untuk mencegah masuknya ternak yang terindikasi penyakit menular.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, mengatakan setiap hewan kurban yang masuk ke wilayah Paser wajib memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur.
Menurutnya, syarat tersebut berlaku tidak hanya bagi ternak dari luar provinsi, tetapi juga hewan yang berasal dari kabupaten lain di Kalimantan Timur.
“Jadi kalau ada hewan kurban nanti masuk, paling tidak itu sudah dapat SKKH dari Dinas Peternakan Provinsi. Terus nanti Pejabat Otoritas Veteriner Kabupaten Paser melakukan verifikasi di lapangan,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (14/5/2026).
Djoko menegaskan langkah tersebut dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang beredar di masyarakat benar-benar sehat, layak disembelih, dan aman dikonsumsi.
Selain kewajiban SKKH, hewan kurban yang berasal dari luar pulau juga diwajibkan telah menjalani proses karantina di daerah asal serta dinyatakan bebas PMK oleh Balai Besar Karantina Hewan Kalimantan Timur.
“Kita juga akan menerjunkan tim UPTD bersama Disbunak ke semua titik-titik penyembelihan hewan kurban untuk melakukan pemantauan,” katanya.
Ancaman PMK dan Cacing Pita Jadi Perhatian
Djoko mengungkapkan ancaman penyakit hewan masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah menjelang Iduladha tahun ini. Selain PMK, petugas juga mewaspadai penyakit parasit yang kerap ditemukan saat proses penyembelihan, salah satunya cacing pita pada organ hati sapi.
Menurutnya, apabila dalam pemeriksaan ditemukan organ yang terinfeksi parasit, maka bagian tersebut wajib dimusnahkan agar tidak dikonsumsi masyarakat.
“Hati yang ada cacing pitanya nggak boleh dikonsumsi, jadi harus dimusnahkan. Tapi yang lainnya kan aman, jadi dagingnya masih bisa dikonsumsi,” jelasnya.
Untuk memastikan proses pemotongan berjalan sesuai standar kesehatan, Disbunak bersama UPTD Kesehatan Hewan akan melakukan pemeriksaan langsung di titik-titik penyembelihan.
Pemeriksaan dilakukan mulai dari kondisi fisik hewan sebelum disembelih hingga pengecekan organ dalam setelah pemotongan berlangsung.
Meski pengawasan diperketat, Disbunak Paser mengakui keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi kendala dalam pengawasan hewan kurban di lapangan.
Djoko mencontohkan kondisi di UPTD Kesehatan Hewan Long Ikis yang hanya memiliki tujuh petugas untuk mengawasi dua kecamatan sekaligus, yakni Kecamatan Long Ikis dan Long Kali.
“Kayak Long Ikis itu kan dia meng-cover dua kecamatan, Long Kali sama Long Ikis. Sementara jumlah petugasnya hanya ada tujuh orang, jadi paling enggak keliling itu nanti, tapi insyaallah selesai kok seperti tahun sebelumnya,” tuturnya.
Selain pengawasan kesehatan, Disbunak juga mencatat adanya kenaikan harga sapi kurban pada tahun ini. Untuk sapi ukuran standar, harga termurah kini berkisar Rp18 juta hingga Rp20 juta per ekor.
Djoko menyebut kenaikan tersebut dipicu meningkatnya biaya transportasi akibat naiknya harga BBM.
“Ada kenaikan harga sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta pada tahun ini. Biasa, pengaruh biaya angkut lah, kenaikan harga BBM,” pungkasnya.
Fenomena kenaikan harga sapi kurban di Kabupaten Paser memperlihatkan bagaimana rantai distribusi ternak sangat bergantung pada stabilitas biaya logistik dan transportasi. Ketika harga BBM naik, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi menjalar hingga pedagang kecil dan masyarakat sebagai pembeli akhir.
Di saat yang sama, pemerintah daerah juga dituntut menjaga kesehatan hewan kurban agar masyarakat tetap memperoleh daging yang aman dikonsumsi di tengah ancaman penyakit hewan menular.
Iduladha tahun ini akhirnya menjadi gambaran tentang dua tekanan yang berjalan bersamaan: harga hewan kurban yang terus meningkat akibat ongkos distribusi, serta kewaspadaan tinggi terhadap ancaman penyakit ternak yang masih membayangi. (MK)





