BERAU – DPRD Kabupaten Berau mengingatkan potensi kerawanan jalur transportasi laut sebagai pintu masuk peredaran barang terlarang ke wilayah Bumi Batiwakkal.
Pengawasan di sejumlah titik strategis, khususnya rute Tanjung Redeb–Tarakan, dinilai perlu diperketat seiring meningkatnya mobilitas penumpang dan barang.
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menegaskan aktivitas transportasi laut, terutama speedboat yang semakin intens harus diimbangi dengan sistem pengawasan yang lebih ketat dan terintegrasi.
Ia meminta aparat kepolisian bersama instansi terkait untuk hadir langsung di setiap titik singgah guna melakukan pemeriksaan menyeluruh.
“Setiap titik pemberhentian harus diawasi. Pemeriksaan tidak hanya saat keberangkatan, tapi juga ketika penumpang tiba. Ini penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Menurutnya jalur laut memiliki celah yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai akses masuk barang ilegal. Ia menyoroti adanya potensi alur distribusi dari luar negeri, khususnya melalui Tawau yang kemudian masuk ke Tarakan sebelum berlanjut ke Berau. Rantai distribusi tersebut dinilai berisiko tinggi apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Dedy menilai lemahnya pengawasan dapat membuka peluang terjadinya penyelundupan yang berdampak luas, baik terhadap aspek keamanan maupun kondisi sosial masyarakat. Oleh karena itu, ia mendorong penguatan sinergi antara aparat penegak hukum dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam membangun sistem pengawasan terpadu.
Selain itu, ia mengusulkan peningkatan fasilitas keamanan di pelabuhan, termasuk penyediaan alat pemindai (scanner) serta penguatan pos penjagaan di titik-titik strategis sebagai langkah konkret untuk menekan peredaran barang ilegal.
DPRD Berau pun meminta pemerintah daerah segera merespons persoalan itu melalui langkah-langkah strategis dan terukur. Dengan pengawasan yang lebih optimal, diharapkan jalur transportasi laut tetap aman dan tidak dimanfaatkan untuk aktivitas kriminal yang dapat merugikan daerah maupun masyarakat luas.
“Jangan sampai jalur laut justru jadi celah masuknya barang berbahaya. Pencegahan harus dilakukan dari awal dengan melibatkan semua pihak,” tandasnya. (adv)
Pewarta: Aril
Editor: Yahya Yabo





