SAMARINDA — Sejumlah orang tua siswa SMAN 10 Samarinda menyuarakan keresahan mereka terhadap rencana pemindahan kegiatan belajar mengajar untuk siswa kelas X ke Kampus Melati, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir. Mereka menilai lokasi baru tersebut belum layak digunakan dan khawatir akan berdampak pada kualitas pendidikan serta keselamatan siswa.
Pemindahan ini menjadi perhatian besar karena SMAN 10 Samarinda direncanakan menjadi salah satu Sekolah Rintisan Garuda, program unggulan nasional yang hanya diberikan kepada 12 sekolah di Indonesia untuk menjadi model pendidikan menengah yang unggul.
Para orang tua siswa merasa kebijakan pemindahan justru bertolak belakang dengan semangat pembinaan sekolah unggulan.
Salah satu orang tua murid kelas X, Obi, mengungkapkan kekecewaannya. Lebih dari itu, orang tua siswa menyoroti belum selesainya sengketa aset antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Yayasan Melati. Meski pengadilan telah memutuskan kepemilikan lahan dimenangkan Pemprov secara inkrah, namun status bangunan di atas lahan tersebut masih menjadi persoalan.
“Yang diputus inkrah itu hanya lahannya. Bangunan masih diperebutkan. Tapi seolah-olah anak kami dijadikan tumbal agar bangunan bisa segera difungsikan, agar ruang kelas terlihat sudah terisi,” ujar Obi ditemui di Kampus Melati, Jalan HAAM Rifaddin, lokasi SMAN 10 Samarinda, Jumat (11/7/2025).
“Yang bukan unggulan Garuda saja fasilitasnya lebih bagus. Ini malah kami yang sudah masuk dengan harapan besar justru dijadikan seperti tameng konflik antara pemerintah dan yayasan. Padahal kondisi lokasi baru belum siap,” tambah Obi.
Menurutnya, keputusan mendadak itu membuat orang tua merasa dibohongi. “Pendaftaran tutup 22 Mei 2025. Tapi keputusan pemindahan diketok 19 Mei 2025 tanpa disosialisasikan. Kami baru tahu beberapa minggu kemudian. Bahkan anak-anak disuruh bersih-bersih sebelum resmi diterima,” ucapnya.
Fasilitas Belum Siap, Transportasi Jadi Masalah
Dari total 320 siswa baru, 200 merupakan siswa non asrama dan mayoritas berdomisili di Samarinda Kota, bukan di sekitar lokasi baru sekolah. Obi menyebut tidak adanya fasilitas transportasi menjadi masalah serius, terlebih banyak siswa belum cukup umur untuk mengendarai motor.
“Kalau memang niat pindah, ya siapkan bus sekolah. Jangan nanti orang tua lagi yang harus patungan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Mince, orang tua siswa lainnya. Ia menekankan pemindahan ini harus mempertimbangkan keselamatan dan kesiapan infrastruktur.
“Gedungnya belum selesai, konstruksi masih jalan. Anak-anak bagaimana mau belajar dengan nyaman?,” katanya.
Ketua Komite Sekolah, Insan Kamil, menyampaikan pihaknya kini sedang mengumpulkan aspirasi orang tua melalui angket.
“Kami bukan pihak yang memutuskan, tapi akan menyampaikan data ini ke dinas, sekolah, dan pihak terkait agar jadi bahan pertimbangan kebijakan,” jelasnya.
Ia menambahkan karena SMAN 10 masuk dalam program Rintisan Garuda Transformasi, maka diperlukan percepatan pembenahan sarana dan prasarana sesuai standar nasional.
“Sekolah ini punya beban besar, karena status Garuda itu ekspektasinya tinggi. Tapi percepatan itu tidak bisa asal, harus dibarengi kesiapan fasilitas,” ujarnya.
Anggota Komite lainnya, Duyanto Purnomo, menyampaikan kekhawatiran akan potensi konflik aset karena bangunan yang akan digunakan sebagian masih dimiliki pihak lain.
“Kami minta situasi aset ini diselesaikan dulu, jangan sampai proses belajar jadi korban,” ucapnya.
Sebagian besar orang tua berharap agar pemindahan siswa ditunda hingga seluruh sarana siap dan kegiatan konstruksi selesai. Apabila harus pindah, orang tua siswa meminta agar seluruh angkatan kelas X, XI, dan XII dipindah bersama bukan hanya satu angkatan.
“Kalau hanya kelas X yang dipindah, bagaimana kegiatan OSIS, ekskul (ekstrakurikuler), dan interaksi antar angkatan? Ini konsep yang aneh. Kami tidak menolak pindah, tapi inginnya semua dilakukan dengan layak dan terencana,” ujar Mince.
Mereka berharap Gubernur Kaltim dan Dinas Pendidikan mengambil keputusan berdasarkan kelayakan bukan semata-mata desakan administratif.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





