BULUKUMBA – Pelatihan Gambus Akademy Kindang resmi dimulai sebagai salah satu agenda strategis dalam Program Inovasi Seni Nusantara 2025. Kegiatan tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mendukung pelestarian dan pengembangan seni budaya lokal di berbagai daerah Indonesia. Pelatihan dipusatkan di Komunitas Tandabaca Kindang dan diharapkan menjadi ruang penting bagi regenerasi pelaku seni Gambus Kindang.
Acara pembukaan berlangsung khidmat dan hangat dengan dihadiri Kepala Desa, perwakilan PBD, tokoh masyarakat, mahasiswa, serta masyarakat umum dan para peserta pelatihan.
Ketua Komunitas Tandabaca, Idris, menegaskan Gambus Kindang bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi representasi identitas dan sejarah sosial budaya masyarakat setempat. Ia menilai pelatihan tersebut sebagai langkah konkret untuk mencegah pudarnya tradisi di tengah derasnya arus modernisasi.
“Pelatihan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang pewarisan. Generasi muda tidak hanya diajak mahir bermain gambus, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai yang hidup di balik setiap petikan nadanya. Kami berharap ke depan lahir pemain-pemain gambus baru yang bangga pada akar budayanya,” ujar Idris.
Pelaksanaan program itu digerakkan tim pengabdian dari Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universitas Negeri Makassar. Tim tersebut diketuai Soekarno Buchary Pasyah dengan anggota Irsan Kadir, Abdul Wahid, dan Muhammad Zia Ulhaq. Kolaborasi perguruan tinggi dengan komunitas tersebut memperkuat dimensi akademik dan metodologis dalam pelatihan, sehingga kegiatan tidak hanya bersifat praktis, tetapi memiliki landasan pendidikan yang kuat.

Sebanyak 16 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang terdaftar sebagai peserta pelatihan. Selama satu bulan penuh, peserta akan mendapatkan pendampingan intensif dari tiga maestro Gambus Kindang. Para maestro akan membimbing peserta mulai dari pengenalan instrumen, teknik dasar dan lanjutan, hingga penghayatan musikal yang menjadi ciri khas Gambus Kindang. Selain itu, peserta diajak memahami konteks sejarah dan budaya yang melatarbelakangi lahir dan berkembangnya seni gambus di wilayah tersebut.
“Pendekatan pembelajaran dirancang tidak hanya menekankan aspek keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepekaan budaya. Melalui sesi praktik, diskusi, dan dialog antar generasi, peserta diharapkan mampu memosisikan diri bukan sekadar sebagai pemain, melainkan juga sebagai pewaris dan duta budaya Gambus Kindang di masa depan,” jelas Idris.
Sebagai puncak kegiatan, program tersebut akan ditutup dengan penyelenggaraan Festival Mini Gambus Kindang. Dalam festival tersebut, tiga peserta terbaik akan diberi kesempatan tampil khusus untuk menunjukkan hasil pembelajaran peserta sepanjang pelatihan. Festival itu sekaligus menjadi ruang apresiasi publik serta sarana memperkenalkan kembali Gambus Kindang kepada masyarakat luas.
Dengan dukungan DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Pelatihan Gambus Akademy Kindang diharapkan menjadi model pengembangan seni tradisi yang berkelanjutan. Program tersebut tidak hanya memperkuat posisi Gambus Kindang sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara, tetapi memberi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan inovasi pelestarian seni tradisi berbasis komunitas dan perguruan tinggi. (rls)
Editor: Yahya Yabo





