TANGERANG — Dukungan terhadap Saiful Mujani terus mengalir, khususnya dari kalangan akademisi dan aktivis di Ciputat. Dukungan tersebut muncul setelah kritik keras yang disampaikan Saiful Mujani terhadap jalannya pemerintahan Prabowo Subianto.
Momentum tersebut terlihat dalam acara halal bihalal bertajuk ‘Sebelum Halal Bihalal Ditertibkan!’ yang digelar Komunitas Ciputat pada Kamis (16/4/2026). Kegiatan itu menjadi ruang ekspresi bagi para tokoh untuk menegaskan pentingnya kebebasan berpendapat serta penolakan terhadap segala bentuk represi terhadap akademisi dan aktivis.
Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menyebut acara tersebut dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas terhadap Saiful Mujani yang dinilai berpotensi menghadapi proses hukum atas kritiknya.
“Acara ini untuk senior kita, dosen kita, intelektual kita, Professor Saiful Mujani, yang dilahirkan dari Ciputat untuk kuat atas kemungkinan proses hukum yang dihadapinya,” kata Ray.
Sementara itu, mantan Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah, menegaskan kritik terhadap kekuasaan merupakan bagian dari praktik demokrasi yang tidak boleh dibungkam.
“Kritik pada kekuasaan bukanlah dosa yang harus berakhir di penjara. Jangan mau disandera untuk menjadi takut menyampaikan kebenaran,” tegasnya.
Ketua YLBHI, Muhammad Isnur, menilai kondisi demokrasi saat ini sedang menghadapi tekanan serius yang memicu rasa takut di masyarakat.
“Kita sedang hidup dalam ketakutan. Kalau betul demikian, apakah kita masih bisa dibilang hidup di alam demokrasi? Sebenarnya kita tidak lagi hidup di alam demokrasi, kita hidup di dalam ilusi demokrasi,” tegas Isnur.
Ia mengkritisi proses legislasi yang dinilai tidak transparan dan berpotensi menimbulkan persoalan serius.
“Undang-undang dibahas di hotel tanpa jelas dari mana biayanya. Berarti ada sponsornya. Itu bahaya,” kata Isnur.
Lebih lanjut, Isnur turut menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memiliki landasan hukum yang kuat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut menggunakan anggaran besar.
Di sisi lain, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, memberikan apresiasi terhadap inisiatif komunitas Ciputat dalam menjaga ruang diskusi publik.
“Jangan lelah mengawal cita-cita kemerdekaan sampai terwujud masyarakat yang cerdas, sehat, sejahtera, adil, dan bahagia,” pesan Komaruddin.
Acara tersebut dihadiri lebih dari seratus peserta yang mayoritas merupakan alumni UIN Jakarta, terdiri dari akademisi, praktisi hukum, aktivis, hingga jurnalis. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Musdah Mulia, Burhanuddin Muhtadi, Ali Munhanif, Moqsith Ghozali, Nong Darol Mahmada, Syafiq Hasyim, hingga Saidiman Ahmad.
Pewarta: Fajri
Editor: Yahya Yabo





