Harga Sapi Kurban Tembus Rp70 Juta, Biaya BBM Tekan Peternak Bontang

MENJELANG Hari Raya Iduladha 2026, arus distribusi hewan kurban ke Kota Bontang mulai meningkat. Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang memperketat pengawasan di seluruh titik masuk dan lokasi penjualan untuk memastikan seluruh hewan kurban yang beredar aman, sehat, dan layak disembelih.

Hingga pertengahan Mei 2026, ribuan ekor hewan kurban tercatat telah masuk ke wilayah Kota Taman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Data DKP3 menunjukkan kebutuhan hewan kurban tahun ini mencapai 1.134 ekor sapi, 1.007 ekor kambing, dan 47 ekor domba.

Fungsional Ahli Muda Medik Veteriner DKP3 Bontang, drh Riyono, mengatakan sebagian kecil kebutuhan tersebut masih dipenuhi dari peternak lokal, namun porsinya relatif terbatas.

“Ini termasuk ternak lokal yang dipelihara peternak, tapi hanya kisaran 10 persen,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah masih cukup tinggi, terutama dari wilayah Sulawesi yang selama ini menjadi pemasok utama sapi kurban ke Bontang. Kondisi ini membuat sistem pengawasan menjadi krusial, mengingat jalur distribusi yang panjang berpotensi membawa risiko kesehatan hewan jika tidak dikendalikan dengan baik.

Pengawasan di 57 Titik Pantau dan Pemeriksaan Fisik Hewan

DKP3 Bontang tahun ini memperkuat sistem pengawasan dengan menempatkan pemeriksaan di 57 titik pantau yang tersebar di lokasi peternak dan pedagang hewan kurban. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengecekan fisik hingga pengambilan sampel laboratorium secara acak.

“Dicek secara fisik dan ada diambil sampel feses untuk sampling saja. Hewan yang sudah diperiksa kemudian diberi stiker sehat,” kata Riyono.

Stiker sehat tersebut menjadi penanda bahwa hewan telah melalui proses pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan layak untuk dikurbankan. Langkah ini sekaligus menjadi upaya pemerintah daerah dalam memberikan jaminan keamanan pangan kepada masyarakat menjelang Iduladha.

Selain pemeriksaan langsung, DKP3 juga mulai menerapkan sistem digital dalam pengawasan lalu lintas ternak. Penggunaan aplikasi khusus tersebut bertujuan untuk mempermudah pelacakan asal-usul hewan serta memantau pergerakan ternak yang masuk dari luar daerah.

“Pakai aplikasi lalu lintas ternak,” tambahnya.

Penerapan sistem digital ini menjadi bagian dari upaya modernisasi pengawasan sektor peternakan, terutama dalam mencegah masuknya hewan yang tidak memenuhi standar kesehatan atau tidak memiliki dokumen lengkap.

Pasokan Dominan dari Luar Daerah dan Tahap Pengiriman Akhir

Di lapangan, pasokan hewan kurban di Bontang masih didominasi oleh ternak yang didatangkan dari luar daerah. Salah satu peternak di Jalan Mawar, Kelurahan Tanjung Laut, Wahono, menyebut mayoritas sapi kurban berasal dari Sulawesi.

Menurutnya, pengiriman hewan kurban untuk Iduladha tahun ini sudah memasuki tahap akhir, dengan kemungkinan masih ada tambahan dalam jumlah terbatas.

“Hewan kurban kemungkinan sudah terakhir. Kalau nanti ada lagi paling sapi potong,” ujarnya.

Ketergantungan pada pasokan luar daerah ini sekaligus menunjukkan bahwa rantai distribusi hewan kurban di Bontang masih panjang, mulai dari peternak di daerah pengirim hingga pedagang lokal sebelum sampai ke konsumen akhir.

Dari sisi harga, sapi kurban tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Wahono menyebut harga sapi berada pada kisaran Rp20 juta hingga Rp50 juta per ekor, sementara untuk ukuran besar dapat mencapai sekitar Rp70 juta dan telah dipesan pembeli.

Kenaikan harga ini tidak terlepas dari meningkatnya biaya logistik, terutama transportasi dan bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak langsung pada ongkos pengiriman ternak dari daerah asal.

“Namanya BBM naik, transport juga nambah semua, jadi harga ikut naik,” katanya.

Meski mengalami tekanan biaya, ia mengaku permintaan sapi kurban di tingkat peternak masih relatif stabil. Dalam satu tahun, ia dapat menjual sekitar 100 ekor sapi kepada pelanggan tetap yang sudah terbangun selama bertahun-tahun.

“Kita langganan-langganan saja. Sekitar 100-an tiap tahun,” ujarnya.

Kondisi Kesehatan Lebih Stabil Dibanding Masa PMK

Dari aspek kesehatan hewan, peternak menyebut kondisi tahun ini jauh lebih baik dibandingkan periode merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa waktu lalu. Tidak adanya kasus signifikan membuat proses distribusi berjalan lebih lancar.

“Kalau tahun lalu banyak yang sakit karena musim PMK. Tahun ini tidak ada,” kata Wahono.

Hal ini juga memperkuat keyakinan pelaku usaha bahwa sistem pengawasan dan vaksinasi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil positif terhadap kesehatan populasi ternak.

Di sisi konsumen, pola pembelian hewan kurban secara kolektif masih menjadi pilihan utama, terutama untuk jenis sapi. Salah satu warga, Abdul, mengaku telah menjadi pelanggan tetap di peternakan yang sama selama beberapa tahun terakhir karena dinilai konsisten dalam kualitas.

“Kami tidak mengkhawatirkan kualitas hewan kurban. Dari tahun ke tahun tidak mengecewakan,” ujarnya.

Tahun ini, Abdul bersama kelompoknya kembali melakukan pembelian sapi dengan sistem patungan tujuh orang untuk satu ekor sapi. Masing-masing peserta menyetor sekitar Rp24,5 juta.

Hingga saat ini, kelompoknya telah memesan sekitar tujuh hingga delapan ekor sapi untuk kebutuhan kurban Iduladha tahun ini, dan masih membuka kemungkinan penambahan jumlah peserta.

“Ini sementara, siapa tahu ke depan masih ada tambahan lagi yang mau ikut sumbangan,” katanya.

Pengawasan Diperketat di Tengah Tantangan Distribusi

Dengan meningkatnya arus masuk hewan kurban, DKP3 Bontang menegaskan bahwa pengawasan akan terus diperketat hingga hari penyembelihan tiba. Fokus utama tidak hanya pada kesehatan hewan, tetapi juga kelengkapan dokumen, asal-usul ternak, serta distribusi yang kini semakin terintegrasi melalui sistem digital.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan kurban di Bontang tidak hanya menjadi aktivitas keagamaan tahunan, tetapi juga bagian dari sistem rantai pasok pangan hewani yang kompleks melibatkan peternak, distributor, pedagang, hingga pemerintah sebagai pengawas utama.

Di tengah tekanan biaya logistik dan ketergantungan pasokan luar daerah, stabilitas distribusi hewan kurban menjadi tantangan yang terus dihadapi setiap tahun, sekaligus indikator penting ketahanan pangan menjelang hari besar keagamaan. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI