IKN Miliki Cadangan Air Baku Dari Intake Sepaku

NUSANTARA – Ketersediaan air baku untuk suplai Ibu Kota Nusantara (IKN) dipastikan aman. Saat ini, di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN baru disuplai dari Intake Sepaku, 300 liter/detik. Di delineasi IKN, punya cadangan air baku tidak sedikit. Baik dari embung yang jumlahnya puluhan sampai potensi bendungan debit jumbo ada.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memastikan soal ketersediaan air baku untuk suplai IKN tidak ada masalah.
“Potensinya banyak. Oke. Kami ada Bendungan Sepaku-Semoi. Kami punya potensi Bendungan di Batu Lepek. Belum lagi nanti ada dari Arsari Group yang bakal bangun bendungan di wilayah ITCI,” jelasnya di auditorium kantor Otorita IKN, Rabu (29/10/2025).

Untuk di lapangan, Alfian Brahmana, salah seorang petugas operasional pompa di Intake Sepaku menjelaskan untuk Intake Sepaku, produksi saat ini menyesuaikan kebutuhan IKN yang baru 300 liter per detik paling minimum.

“Sementara sejumlah itu. Tahap pertama. Kami menyesuaikan permintaan pemakaian rata-rata di IKN,” ucapnya di lokasi.

Intake Sepaku sebenarnya sudah memiliki pompa yang mampu produksi kapasitas 600 liter per detik, sebanyak 4 unit atau total 2.400 liter per detik.

“Hanya saja sementara, pengelolaannya sementara ini hanya 300 sampai 400 liter per detik saja,” jelasnya.

Sementara itu, Abdul Halim, koordinator petugas Bendungan Sepaku-Semoi mengungkapkan Bendungan Sepaku-Semoi menyimpan 16 juta meter kubik air. Daya suplai 2.500 liter per detik. Rencana ke depan, sebanyak 1.500 sampai 2.000 liter per detik bakal untuk suplai kebutuhan kawasan IKN. Sisanya, untuk suplai ke Balikpapan.
“Tapi saat ini belum dilakukan karena jaringan perpipaan interkoneksi dari bendungan ke Intake Sepaku pembangunannya tengah berjalan,” jelasnya di lokasi.

Paparan Basuki dan informasi dari petugas Intake Sepaku serta Bendungan Sepaku-Semoi cukup mematahkan stigma IKN minim air yang ramai diperbincangkan di sejumlah media nasional atas riset BRIN yang didasarkan pada citra satelit. Penelitian itu dilakukan 2022 lalu sebelum dua sarana tersebut rampung.

Sekadar informasi, sebelumnya Peneliti Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Laras Toersilowati, menjelaskan berdasarkan analisis artificial neural network berbasis citra satelit, air permukaan di IKN hanya 0,51 persen. Sedangkan air vegetasi 20,41 persen, dan area non air mencapai 79,08 persen.

Laras menjelaskan hasil penelitian BRIN tersebut dalam paparannya terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia dalam acara Ocean Indonesia and Atmosphere Training Workshop, Selasa (16/9/2025) lalu di BRIN Bandung.

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI