SAMARINDA — Dinas Perkebunan Kalimantan Timur semakin serius mengangkat potensi perkebunan khas daerah dengan mengandalkan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) sebagai kunci peningkatan nilai jual.
Program tersebut menitikberatkan pada kekuatan komunitas lokal yang selama ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses produksi hingga karakteristik produk.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Disbun Kaltim, Taufiq Kurrahman, menegaskan IG bukan sekadar label, melainkan bentuk pengakuan resmi terhadap keunikan produk berbasis lingkungan dan budaya masyarakat.
“Produk yang mendapatkan Indikasi Geografis memiliki ciri khas yang tidak bisa ditiru, karena melekat dengan alam dan masyarakatnya,” ujarnya di Samarinda, Jumat (3/4/2026).
Sejak digulirkan pada 2018 dengan dukungan Kementerian Pertanian, program itu terus diperkuat melalui edukasi kepada petani. Salah satu tahap pentingnya adalah pembentukan Kelompok Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis sebagai wadah resmi pengelolaan.
Hasilnya mulai terlihat. Tiga komoditas unggulan Kaltim kini telah mengantongi sertifikat IG yakni Lada Malonan Muara Badak–Loa Janan, Kakao Berau, dan Gula Aren Tuana Tuha.
Dampak ekonomi dari sertifikasi itu cukup signifikan. Harga Kakao Berau, misalnya melonjak lebih dari dua kali lipat dari sekitar Rp60 ribu menjadi Rp130 ribu per kilogram.
Tidak hanya meningkatkan harga, produk tersebut berhasil memperluas pasar hingga ke Yogyakarta, Bali, bahkan menembus ekspor ke Prancis.
Lebih dari itu, IG berfungsi sebagai tameng hukum untuk melindungi produk lokal dari klaim sepihak maupun pemalsuan oleh pihak luar.
Saat ini, Disbun Kaltim tengah menyiapkan sejumlah komoditas lain untuk mendapatkan pengakuan serupa. Kopi Prangat dari Kutai Kartanegara sudah memasuki tahap akhir administrasi, termasuk pemetaan wilayah dan uji laboratorium.
Di sisi lain, Kakao Kutai Timur dari Kecamatan Karangan terus dipersiapkan melalui kolaborasi dengan pihak swasta.
” Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar kami untuk memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani berbasis komunitas di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





