SAMARINDA – Isu dugaan makanan basi yang sempat viral di SMAN 13 Samarinda akhirnya terjawab. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memastikan makanan yang dibagikan kepada siswa dalam program Makanan Bergizi (MBG) bukanlah basi melainkan terjadi kesalahpahaman dalam penilaian.
Kepastian tersebut diperoleh setelah tim Dinkes melakukan investigasi dan klarifikasi langsung di sekolah.
Tenaga Sanitasi Lingkungan Dinkes Kaltim, Carla, menyebut pihaknya sempat mencicipi makanan yang dipermasalahkan. Menurut penjelasan guru pengawas pembagian makanan, rasa yang muncul kurang enak dengan bau tertentu, namun tidak bisa dikategorikan sebagai makanan basi.
“Menu yang disajikan adalah ayam asam manis yang direbus, bukan digoreng. Kombinasi itu bisa menimbulkan aroma kurang sedap, apalagi bila masih panas dan tertutup rapat. Itu berbeda dengan ciri makanan basi,” terang Carla saat di kunjungi wartawan Media Kaltim Network, Jumat (19/9/2025).
Dinkes Kaltim membandingkan temuan di dua sekolah lain yang menerima program serupa, baik SMA maupun SMP. Hasilnya, tidak ada keluhan serupa dan tidak ditemukan kasus siswa sakit setelah mengonsumsi makanan.
Sementara itu, laporan dari salah satu orang tua murid yang disampaikan pada hari Minggu, padahal makanan dibagikan Kamis, dinilai tidak relevan.
“Proses pengelolaan makanan hanya berlangsung singkat, kurang dari empat jam. Jadi sangat kecil kemungkinan makanan basi,” tambahnya.
Selain memeriksa langsung ke sekolah, tim melakukan inspeksi ke Sentra Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) Sungai Pinang selaku penyalur. Hasilnya fasilitas tersebut telah memenuhi standar keamanan pangan.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan pihaknya tetap mencatat adanya kelemahan, terutama terkait penundaan pelatihan penjamah makanan di Samarinda.
“Kami mendorong pelatihan ini segera dilakukan agar kualitas pengelolaan makanan lebih baik ke depan. Kami tidak ingin kasus serupa menimbulkan keresahan di masyarakat,” tegasnya.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





