BERAU – Menjelang libur Idulfitri 2026, kawasan wisata Mangrove Tanjung Batu kembali dibuka untuk umum dan siap menjadi salah satu destinasi singgah bagi wisatawan yang hendak berangkat menuju Pulau Derawan maupun Pulau Maratua.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sri Kumalasari, mengatakan pembukaan kembali kawasan mangrove tersebut memberikan alternatif wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi nilai edukasi lingkungan bagi para pengunjung.
Menurutnya keberadaan wisata mangrove tersebut sangat strategis karena berada di jalur keberangkatan wisatawan menuju destinasi unggulan di Kepulauan Derawan. Sehingga waktu menunggu jadwal kapal dapat dimanfaatkan untuk berwisata sekaligus belajar mengenai ekosistem pesisir.
“Waktu menunggu kapal ke Derawan atau Maratua bisa dimanfaatkan dengan berkunjung ke Mangrove Tanjung Batu. Selain menikmati pemandangan, pengunjung juga bisa belajar tentang fungsi mangrove sebagai pelindung pantai dan habitat berbagai biota laut,” ujar Sri Kumalasari, Selasa (10/3/2026).
Ia menilai momentum libur Lebaran yang biasanya diikuti peningkatan jumlah wisatawan harus dimanfaatkan dengan menghadirkan pilihan destinasi tambahan, khususnya di wilayah pesisir Berau. Hal tersebut dinilai dapat membantu menyebarkan arus kunjungan wisata agar tidak hanya terpusat di satu lokasi.
Diketahui kawasan wisata Mangrove Tanjung Batu sebelumnya sempat ditutup lebih dari dua tahun akibat kerusakan pada selasar kayu yang lapuk dan tidak lagi aman dilalui pengunjung.
Melalui program revitalisasi yang dilakukan pemerintah daerah pada periode 2024 hingga 2025, kawasan itu kembali dibenahi secara menyeluruh. Jalur selasar kayu kini diperpanjang hingga mendekati bibir laut, sekaligus dilengkapi dengan sejumlah titik spot foto yang menghadap langsung ke panorama laut dan gugusan Kepulauan Derawan.
Dengan penataan tersebut, kawasan mangrove diharapkan tidak hanya menjadi lokasi transit wisatawan, tetapi destinasi wisata tersendiri yang mampu menarik minat pengunjung.
“Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bukan hanya menjadi tempat singgah wisatawan, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk olahan maupun kerajinan khas daerah,” tuturnya.
Meski begitu, Sri Kumalasari menekankan pengelolaan kawasan wisata tersebut harus tetap memperhatikan keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan upaya konservasi lingkungan.
Menurutnya ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota laut, serta mendukung keberlanjutan lingkungan pesisir.
Karena itu, ia mengingatkan agar pengembangan wisata tidak sampai mengorbankan kelestarian ekosistem mangrove yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
“Wisata boleh berkembang, tetapi ekosistem mangrove harus tetap dijaga. Pengelolaannya harus memperhatikan kelestarian lingkungan agar ekowisata dapat berjalan secara berkelanjutan,” sebutnya. (adv)
Pewarta: Aril
Editor: Yahya Yabo





