SAMARINDA – Bukan sekadar slogan, transformasi digital di dunia pendidikan benar-benar dijalankan oleh SMA Negeri 16 Samarinda. Sekolah ini kini menjadi salah satu pionir di Kalimantan Timur dalam menerapkan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara menyeluruh.
Inisiatif ini diapresiasi langsung oleh Kepala UPTD Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Tekkom dan Infodik) Kaltim, Muchamad Awaludin. Dirinya menilai penerapan TIK di sekolah tersebut tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif, tapi berpotensi mencetak generasi emas Kaltim yang adaptif dan kompetitif di era digital.
“Kami berharap langkah SMAN 16 ini bisa menjadi contoh bagi sekolah lain. Digitalisasi pembelajaran harus terus dikembangkan untuk menciptakan pendidikan yang relevan dengan zaman,” ujar Awaludin di Samarinda, Kamis (11/7/2025).
Kepala SMA Negeri 16 Samarinda, Abdul Rozak Fahrudin, menjelaskan seluruh ruang kelas (sebanyak 30 kelas) telah dilengkapi Smart TV dari Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim, menggantikan proyektor LCD konvensional. Selain itu, 10 ruang kelas untuk siswa kelas 10 sudah berpendingin udara (AC) mendukung suasana belajar yang nyaman.
“Penggunaan Smart TV memungkinkan guru menyajikan materi secara lebih visual dan menarik. Ini tentu membantu meningkatkan semangat belajar siswa,” kata Abdul Rozak.
Pihak sekolah pun tidak asal-asalan dalam mengelola perangkat digital ini. Setiap kelas memiliki penanggung jawab yang ditunjuk untuk menjaga dan memastikan perangkat berfungsi baik, lengkap dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah disiapkan.
Transformasi digital yang dijalankan SMA Negeri 16 Samarinda membuktikan teknologi di dunia pendidikan bukan lagi hal yang jauh, tapi telah menjadi kebutuhan yang mampu mengubah cara belajar mengajar ke arah yang lebih dinamis dan relevan.
Salah satu guru sejarah, Nurul Aini, merasakan dampak positif digitalisasi ini. Ia menyebut siswa jauh lebih antusias mengikuti pembelajaran, terutama ketika materi disampaikan dengan gambar dan video interaktif.
“Dulu kalau kita ceramah, anak-anak gampang mengantuk. Sekarang, saat belajar sejarah, saya bisa langsung menampilkan video candi Borobudur atau infografis zaman kerajaan. Anak-anak jadi lebih fokus,” ungkap Nurul.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





