SAMARINDA – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda membeberkan rentetan kendala sosial dan geografis yang kerap menghambat petugas saat memadamkan api di lapangan. Tantangan itu mulai dari perilaku warga di lokasi bencana, akses jalan, hingga keterlibatan personel di bawah umur.
Kadisdamkar Kota Samarinda, Hendra AH, mengungkapkan masalah sosiologis yang paling sering dijumpai adalah kerumunan warga yang datang ke lokasi kebakaran hanya untuk menonton. Hal tersebut dinilai sangat membahayakan keselamatan publik.
“Utamanya saat terjadi kebakaran besar itu, dari segi manusia dulu ya, banyak yang menonton. Karena kami khawatirkan, apabila terjadi ledakan, maka akan terjadi musibah bagi penonton karena mereka tidak dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD),” urai Hendra, Kamis (18/6/2026).
Selain faktor kerumunan penonton, mobilitas armada pemadam kerap terhambat oleh minimnya ruang jalan di lalu lintas serta karakteristik pemukiman lokal yang rentan.
“Saat perjalanan juga lalu lintas kadang tidak memberi ruang kepada kami untuk mobil pemadam masuk ke akses kebakaran. Selanjutnya jalan-jalan sempit, serta tipologi rumah-rumah di Samarinda yang berbahan dasar kayu sehingga memudahkan terjadinya kebakaran,” tambahnya.
Pada sisi lain, Hendra memberikan catatan kritis mengenai maraknya anak di bawah umur yang ikut terjun ke lokasi kebakaran atas nama solidaritas relawan. Hendra menegaskan secara aturan batas usia minimal untuk relawan pemadam kebakaran adalah 19 tahun.
Ia mengimbau kepada para koordinator atau kepala satuan relawan di Samarinda agar lebih selektif dan tidak melibatkan anak-anak demi menghindari risiko keselamatan yang tidak diinginkan di area bencana.
“Sejatinya relawan kebakaran itu usia minimal 19 tahun. Namun di bawah umur ini kadang-kadang karena euforia mereka, padahal itu tidak dibenarkan. Saya menghimbau kepada kepala satuan-satuan relawan untuk anak di bawah umur tidak dilibatkan menjadi satuan relawan. Karena dari segi usia belum cukup, dan dikhawatirkan malah akan menimbulkan masalah dengan kehadiran mereka,” tegasnya.
Pewarta: Abdi
Editor: Yahya Yabo





