TENGGARONG — Warga Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengeluhkan kerusakan jalan sepanjang sekitar 16 kilometer yang selama ini menjadi jalur alternatif andalan. Kondisi tersebut dinilai mengancam fungsi akses vital dan menghambat mobilitas warga, terutama saat hujan.
Ruas jalan yang sebagian besar masih berupa tanah itu berubah menjadi lintasan berlumpur. Kendaraan tetap bisa melintas, namun dengan risiko tinggi dan waktu tempuh yang jauh lebih lama.
Kepala Desa Rantau Hempang, Maman Sulaiman, menyebut titik kerusakan paling parah berada di jalur penghubung menuju Desa Selerong, tepatnya dari wilayah Benua Puhon hingga mendekati Selerong sepanjang sekitar 6 kilometer.
“Kalau hujan, jalan masih bisa dilewati, tapi harus dipaksakan dan kondisinya sangat parah,” ujarnya.
Jalan tersebut bukan sekadar akses biasa. Bagi warga ruas tersebut merupakan jalur vital yang memangkas jarak tempuh menuju Tenggarong hingga hampir separuhnya.
“Kalau lewat sini hanya sekitar 50 kilometer, sedangkan kalau memutar lewat Kota Bangun bisa sampai 97 kilometer,” kata Maman.
Secara historis, jalan itu dibuka secara swadaya oleh masyarakat pada awal 2000-an, saat akses antar wilayah belum tersedia. Pemerintah daerah kemudian mulai melakukan pembangunan bertahap.
Pada periode 2005–2006, pembangunan awal sepanjang sekitar 16,5 kilometer dilakukan dengan anggaran Rp8,7 miliar. Peningkatan jalan dengan agregat dilanjutkan pada 2008–2009 dengan nilai Rp23 miliar. Namun hingga 2013–2014, semenisasi belum menjangkau seluruh ruas.
Kondisi yang belum sepenuhnya permanen membuat jalan tersebut rentan rusak, terlebih dengan tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas. Jalur tersebut kerap digunakan perusahaan, termasuk untuk angkutan kelapa sawit.
Kombinasi antara beban kendaraan dan kondisi cuaca mempercepat degradasi jalan, terutama saat hujan turun.
Pemerintah desa sebenarnya telah mengimbau agar kendaraan berat tidak melintas saat kondisi jalan basah. Namun imbauan tersebut belum berjalan efektif.
“Kami sempat berencana menutup sementara, tapi tidak bisa karena ini akses umum,” sebut Maman.
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





