SAMARINDA – Di tengah polemik pengembalian mobil dinas Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) senilai Rp8,5 miliar dengan spesifikasi Range Rover 3000 cc, nama CV Afisera mendadak ikut tersorot. Perusahaan komanditer lokal berbasis di Samarinda itu bukan pemain baru dalam ekosistem pengadaan barang dan jasa Pemprov Kaltim. Namun saat ini sorotan datang dari komoditas yang jauh dari sembako dan ATK yakni kendaraan mewah.
Direktur CV Afisera, Subhan, memastikan proses pengembalian unit berjalan atas dasar kesepakatan bersama.
“Setelah saya menerima surat pengembalian, saya langsung komunikasi dengan keluarga dan manajemen. Kami sepakat menerima pengembalian unit ini,” ujar Subhan, Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan secara bisnis tidak ada kerugian yang dialami perusahaannya.
“Tidak ada kerugian. Mobil ini belum dipakai dan masih bisa dimanfaatkan. Kami juga mengambil unit dari Indomobil, sehingga secara bisnis aman,” jelasnya.
Subhan membantah adanya tekanan dalam proses tersebut.
“Pengembalian ini murni atas dasar kesepakatan bersama. Tidak ada tekanan atau paksaan,” tegasnya.
Bahkan, ia menyebut unit tersebut tetap memiliki nilai ekonomis.
“Kalau nanti belum ada yang ambil, bisa kami gunakan saat Lebaran atau kami sewakan,” ucapnya.
Dari penelusuran Media Kaltim Network, CV Afisera tergolong Usaha Kecil/Menengah (UKM) dengan bidang usaha perdagangan umum dan jasa. Spesialisasi utamanya justru berada pada penyediaan barang konsumsi dan pendukung operasional kantor mulai dari Alat Tulis Kantor (ATK), bahan pokok/pangan atau Sembako, hingga barang cetakan.
Dalam praktiknya, perusahaan tersebut cukup aktif dalam skema E-Purchasing (E-Katalog) maupun pengadaan langsung di lingkungan Pemprov Kaltim.
Jejak transaksinya menunjukkan fokus kuat pada sektor ketahanan pangan. CV Afisera kerap terlibat dalam penyediaan paket sembako atau bahan pangan untuk kebutuhan dinas sosial, bantuan kemasyarakatan, hingga operasional Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Beberapa instansi yang tercatat pernah menjalin kontrak dengan perusahaan tersebut antara lain Dinas Sosial Provinsi Kaltim, Sekretariat Daerah (Setda) Kaltim, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta sejumlah badan dan biro di lingkup kantor gubernur.
Selain sembako, CV tersebut menyuplai kebutuhan rutin kantor seperti kertas, tinta printer, hingga alat tulis untuk berbagai dinas. Pada sektor barang cetakan, CV Afisera mengerjakan formulir, penggandaan dokumen, brosur, hingga spanduk untuk program kerja pemerintah daerah.
Dalam beberapa tahun anggaran terakhir, perusahaan itu memperluas diversifikasi barang. Dari data pengadaan, mereka masuk ke pengadaan pakaian dinas atau seragam hingga perlengkapan olahraga untuk instansi tertentu. Fleksibilitas izin usaha (KBLI) yang dimiliki membuat ruang geraknya relatif luas.
Di atas kertas, profil CV Afisera identik dengan kebutuhan rutin dan bantuan sosial. Namun kasus pengembalian mobil dinas senilai Rp8,5 miliar dengan spesifikasi Range Rover 3000 cc membawa perusahaan itu ke ruang diskusi yang berbeda yakni pengadaan barang bernilai tinggi dengan sensitivitas politik besar.
Subhan menyatakan unit kendaraan tersebut diambil dari Indomobil dan belum sempat digunakan. Artinya dari sisi barang, statusnya masih baru dan dapat dimanfaatkan kembali.
Secara administratif, fleksibilitas bidang usaha memungkinkan perusahaan berdagang lintas komoditas. Tetapi secara persepsi publik, pergeseran dari paket bahan pokok untuk masyarakat rentan ke kendaraan premium seharga miliaran rupiah jelas kontras.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Yahya Yabo





