Jerat Lingkaran Setan Narkoba, Renggut Masa Muda, Harta, hingga Keluarga

BAGI banyak orang, narkotika mungkin hanya terlihat sebagai barang terlarang yang kerap diberitakan aparat kepolisian. Namun di balik setiap paket sabu yang disita atau setiap tersangka yang ditangkap, ada kisah panjang tentang manusia yang terjebak dalam lingkaran ketergantungan.

ZH (49), bukan nama sebenarnya, menjadi salah satu saksi hidup bagaimana narkotika perlahan merenggut masa muda, keluarga, hingga masa depannya. Kini, setelah bertahun-tahun berjuang keluar dari jeratan kecanduan, ia memilih berbagi cerita sebagai peringatan bagi generasi muda.

Perkenalannya dengan narkoba dimulai saat usianya baru menginjak 18 tahun. Kala itu, bukan tekanan atau ancaman yang membuatnya mencoba barang haram tersebut. Justru rasa penasaran dan dorongan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan menjadi pintu masuk yang membawanya ke dunia gelap narkotika.

“Berawal dari rasa penasaran dan keinginan mencoba sesuatu yang baru. Kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi ketergantungan hingga akhirnya harus menjalani rehabilitasi setelah terjaring operasi kepolisian,” tuturnya.

Namun akar persoalannya ternyata muncul jauh sebelum itu. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, ZH mengaku ingin dianggap bagian dari kelompok pertemanannya. Tawaran mengonsumsi obat-obatan terlarang diterimanya tanpa banyak pertimbangan.

Sensasi yang muncul setelah pemakaian pertama membuatnya merasa lebih berani dan percaya diri. Perasaan itulah yang kemudian mendorongnya mencoba berbagai jenis narkoba lainnya, mulai dari ganja hingga narkotika yang lebih berbahaya seperti putau dan heroin.

Apa yang awalnya hanya coba-coba berubah menjadi ketergantungan yang berlangsung selama belasan tahun.

Dalam fase terburuk kehidupannya, hampir tidak ada lagi yang tersisa. Kecanduan membuatnya kehilangan kontrol terhadap diri sendiri. Segala cara dilakukan demi mendapatkan uang untuk membeli narkoba.

“Sudah habis banyak. Khususnya kalau lagi tinggi, apa saja bisa saya jual buat dapat narkoba,” katanya.

Bagi seorang pecandu, narkoba bukan lagi soal mencari kesenangan. Ketika ketergantungan sudah terbentuk, kebutuhan untuk mendapatkan barang tersebut menjadi prioritas utama, bahkan mengalahkan kebutuhan hidup lainnya.

Titik Balik Kehidupan

Perubahan tidak datang secara instan. ZH mengaku membutuhkan waktu sangat lama untuk menyadari bahwa hidupnya sedang menuju kehancuran.

Titik balik itu datang ketika kedua orang tuanya meninggal dunia dalam rentang waktu yang berdekatan. Peristiwa tersebut menjadi pukulan emosional yang mengubah cara pandangnya terhadap hidup.

“Titik baliknya itu pas orang tua meninggal. Ibu dulu, setahun kemudian bapak saya. Semua karena saya. Mungkin pikiran mereka yang membuat sakit. Jadi kakak saya yang paling tua benar-benar marah sama saya dan itu pukulan paling besar yang akhirnya membuat saya sadar,” ujarnya dengan suara lirih.

Rasa kehilangan dan penyesalan yang selama ini tertutupi oleh ketergantungan perlahan muncul ke permukaan. Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan arah hidup yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Penjara dan Rehabilitasi Belum Tentu Menyembuhkan

Perjalanan keluar dari kecanduan tidak berjalan mudah. ZH pernah menjalani rehabilitasi dan bahkan mendekam di penjara selama tiga tahun akibat kasus narkotika.

Namun pengalaman tersebut tidak serta-merta membuatnya berhenti menggunakan narkoba. Ia menilai proses pemulihan tidak cukup hanya dengan menjalani rehabilitasi atau hukuman penjara jika tidak disertai keinginan kuat dari dalam diri.

“Kalau masuk penjara atau rehab itu cuma lewat saja. Justru di situ banyak ketemu teman pemain baru,” ungkapnya.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pecandu narkotika tidak hanya bergantung pada aspek penegakan hukum. Dukungan keluarga, lingkungan sosial yang sehat, serta perubahan pola pikir menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.

Yang paling membuat ZH khawatir adalah kondisi peredaran narkotika saat ini yang menurutnya jauh lebih terbuka dibandingkan saat dirinya masih aktif menggunakan narkoba.

Jika dulu akses terhadap sabu relatif terbatas dan hanya bisa diperoleh melalui jaringan tertentu, kini ia melihat peredaran narkoba semakin mudah menjangkau masyarakat.

“Kalau dulu susah. Mau cari sabu harus orang yang benar-benar dikenal atau langganan. Kalau sekarang hampir di gang-gang itu ada yang jual. Murah-murah lagi,” ujarnya.

Pengakuan mantan pecandu ini menjadi gambaran bagaimana ancaman narkotika terus berkembang. Bukan hanya soal jumlah barang yang beredar, tetapi juga kemudahan akses yang berpotensi menjaring pengguna baru, terutama dari kalangan remaja dan usia produktif.

Karena itu, ia berpesan agar generasi muda lebih berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan. Sebab menurutnya, sebagian besar pecandu tidak pernah membayangkan bahwa satu kali percobaan dapat berubah menjadi ketergantungan yang menghancurkan hidup.

“Saya berharap anak-anak muda sekarang jangan coba-coba. Saya dulu juga berpikir bisa berhenti kapan saja. Ternyata tidak semudah itu,” pungkasnya. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI