SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya dikenal sebagai wilayah kaya sumber daya alam, tetapi sebagai mozaik kebudayaan Nusantara. Sejak masa kerajaan Kutai hingga berdirinya Kesultanan Pasir dan Berau, tanah Benua Etam telah menjadi persinggahan berbagai peradaban, tempat bertemunya masyarakat lokal dengan pendatang dari berbagai penjuru.
Sejarawan Kaltim, Safardy Bora, menuturkan keragaman di Kaltim terbangun seiring perjalanan sejarah panjang.
“Wilayah ini sejak lama terbuka pada pertemuan budaya. Dari jalur laut, sungai, hingga hutan, orang datang membawa tradisi, berdagang, hingga akhirnya bermukim,” ujar Safardy, penulis buku tentang Sultan Aji Muhammad Idris.
Masyarakat asli seperti Kutai, Dayak, Paser, dan Berau sejak awal hidup berdampingan dengan para pendatang. Gelombang migrasi besar datang dari Banjar, Bugis, Makassar, Mandar, Jawa, Toraja, Batak, Minahasa, Madura, Bali, hingga Melayu, dan Tionghoa. Mereka membentuk jaringan sosial, ekonomi, sekaligus memperkaya identitas budaya Kaltim.
Khusus komunitas Sulawesi Selatan, jejaknya begitu kuat. Bugis, Makassar, dan Mandar datang melalui jalur laut, bukan hanya membawa rempah dan hasil bumi, melainkan membuka permukiman, melaut di pesisir, serta memperluas jaringan perdagangan. Kota-kota besar seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bontang masih menyimpan bukti kehadiran panjang mereka.
Kini, keberagaman tersebut menemukan babak baru dengan hadirnya Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan sebagian Kutai Kartanegara (Kukar). Safardy menyebut perpindahan ini sebagai ‘kembali ke asal’, mengingat Kalimantan sejak lama menjadi rumah pertemuan berbagai suku bangsa.
“Tidak berlebihan kalau Kalimantan Timur disebut Indonesia mini. Di sini semua ada dari Banjar, Dayak, Kutai, Bugis, Mandar, Jawa, Batak, hingga Tionghoa. Mereka hidup berdampingan, saling menyapa tanpa sekat di pasar, sekolah, rumah ibadah, maupun ruang kerja,” ungkapnya.
Menurutnya kekuatan Kaltim justru lahir dari kerukunan tersebut. Perbedaan bukan pemisah, tetapi simpul perekat yang menjaga kedamaian.
“Kaltim memberi pelajaran bahwa kemajemukan bukan beban, melainkan rahmat. Dan semoga hadirnya Nusantara sebagai ibu kota negara membawa semangat kerukunan ini menjadi teladan bagi seluruh Indonesia,” sebutnya.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





