SAYA kembali memulai perjalanan dengan menggunakan transportasi massal. Kali ini, transportasi massal yang saya gunakan yakni kapal laut. Kapal menjadi transportasi massal yang kerap disukai dan banyak digunakan masyarakat, terlebih transportasi ini lebih banyak memuat orang dan lebih terjangkau untuk moda transportasi massal.
6 Januari 2026, kali ini perjalanan dimulai dari Barru ke Parepare menggunakan transportasi darat menuju Pelabuhan Ajatappareng, Parepare. Jarak perjalanan Barru-Parepare menggunakan roda empat (mobil) lebih kurang satu jam. Menuju pelabuhan Parepare untuk menggunakan moda transportasi kapal laut. Sesampai pelabuhan, saya kemudian menuju loket tiket. Memperlihatkan bukti booking tiket yang telah dibeli melalui aplikasi Pelni Mobile. Cukup memperlihatkan booking tiket ke petugas, kemudian boarding pass kapal akan dicetak di mesin pencetak dan diberikan ke penumpang. Beberapa penumpang tetap antre bersama.
Jadwal kapal yang tertera di boarding pass pukul 20.00 WITA. Namun kapal terlambat bersandar di Pelabuhan Parepare dan baru berlabuh pukul 20.30 WITA.
Saya dan penumpang lainnya memasuki are ruang tunggu pelabuhan. Semua barang bawaan penumpang diperiksa di pintu masuk ruang tunggu. Ada sekuriti menjaga di depan pintu, di sebelah alat pendeteksi barang yang dipergunakan sama seperti di Bandara, mesin X-ray.

Barang penumpang dimasukkan dan diperiksa. Petugas sigap memeriksa semua perlengkapan barang bawaan penumpang, tidak terkecuali saya turut diperiksa. Alat X-ray baru ditempatkan di Pelabuhan Parepare pada Desember 2024 atau Januari 2025 bersama barrier gate sebagai alat pendeteksi guna memperketat pengamanan di pelabuhan penumpang. Perbaikan pelayanan terus dilakukan pihak Pelindo Parepare.
Setelah melewati pemeriksaan dan masuk di ruang tunggu, saya dan penumpang lainnya menunggu hingga 30 menit lamanya hingga akhirnya menaiki kapal KM Binaiya tujuan Loktuan, Bontang pada pukul 20.30 WITA.
Di dalam kapal, suasana penuh, banyak penumpang yang menempati tempat tidur di lantai dan menyewa kasur ke petugas kapal. Saya sendiri menempati kasur nomor 86, deck 2 yang terletak di bagian agak bawah kapal. Kapal memiliki lima deck. Ada musala di bagian belakang kapal sebagai fasilitas ibadah bagi kaum Muslim. Satu lantai di atas musala, ada kantin dan tempat bersantai penumpang untuk menikmati perjalanan kapal. Untuk konsumsi penumpang, kapal memberikan pelayanan makan tiga kali selama perjalanan hingga sampai ke tujuan Pelabuhan Loktuan, Bontang. Pelayanan Pelni yang cukup bagus dalam perjalanan kapal milik pemerintah tersebut. Namun tetap mengantre saat mengambil makanan.
Sementara di kapal, ada pula penjual, entah penjual ini diperbolehkan atau tidak, namun itu bagian dari usaha warga mencari penghidupan. Beberapa kali, penjual itu saling bersembunyi, menghindari petugas dan menyembunyikan barang dagangannya. Tapi ada pula dagangan pedagang yang diamankan petugas. Biasanya saat kapal sebelum berangkat, ada satu dua hingga beberapa penjual yang menawarkan dagangannya, tapi saat itu tidak ada.

“Biasa ada penjual di kapal saat kapal sudah jalan, ini tidak ada. Itu membantu juga penumpang saat ingin membeli kebutuhan asal tidak mengganggu penumpang lainnya,” kata salah satu penumpang di deck 2.
Kapal berlayar selama hampir 26 jam di perairan Selat Makassar. Parepare-Bontang ditempuh selama satu hari satu malam lebih hingga berlabuh di Pelabuhan Loktuan, Kota Bontang. Saat berlabuh, cuaca sedang hujan deras. Kapal mencoba memperlambat bersandar karena cuaca hujan hingga akhirnya merapat di pelabuhan pada 7 Januari 2026, pukul 22.45 WITA.
Saya dan penumpang lainnya menunggu hujan berhenti. Namun beberapa lama, hujan masih berlangsung hingga akhirnya saya menerobos hujan dan turun ke pelabuhan melewati pintu tangga samping kapal. Kapal KM Binaiya akan kembali berlayar pada dini hari pukul 02.00 WITA dini hari, 8 Januari 2026.
Saat saya menuruni kapal dan menuju pintu keluar pelabuhan, terlihat penumpang lainnya telah bersiap di ruang tunggu pelabuhan yang telah bersiap menaiki kapal yang akan berlayar pada dini hari. Terlihat berdesakan, hujan saat itu menambah keadaan dramatis penumpang menunggu.

Namun di Pelabuhan Loktuan, Bontang tidak ada alat pendeteksi X-ray atau barrier gate bagi penumpang yang akan berangkat. Ini menjadi kelemahan dan celah pengamanan di Pelabuhan Loktuan, Bontang. Pemeriksaan barang bawaan penumpang tidak dilakukan dengan alat pendeteksi atau X-ray.
Beberapa waktu lalu di 2025, BNNK Bontang telah memberikan saran kepada pengelola pelabuhan untuk memberikan alat sistem early warning atau deteksi dini. Alat ini disarankan untuk digunakan saat penumpang naik dan turun kapal.
“Waktu pengecekan kemarin, penumpang kapal maupun barang bawaannya tidak dilakukan pengecekan, semuanya lalu lalang begitu saja,” ujar Lulyana Ramdhani beberapa waktu lalu dikutip dari berita Media Kaltim, 27 Desember 2025.
Tidak ada yang dapat memastikan semua barang bawaan penumpang. Cara yang diusulkan BNNK Bontang setidaknya memberikan ruang pemberian keamanan bagi barang bawaan penumpang yang datang dari berbagai daerah dari dan menuju Kota Bontang. Pengawasan kecil seperti itu, namun dampaknya dapat membentengi masuknya celah kejahatan dari jalur pelabuhan.
Upaya perbaikan harus sinergi dengan semua pihak terkait. Dari pemerintah kota, pengelola pelabuhan, Pelindo hingga mitra pengelola pelabuhan agar pelabuhan tidak dijadikan pintu masuk kejahatan.

“Pemerintah sangat menyadari pelabuhan kita, masih sangat kurang dari aspek standar pengamanan untuk mendeteksi obat-obatan terlarang,” kata Agus Haris, Wakil Wali Kota Bontang beberapa waktu lalu, dikutip dari Media Kaltim.
“Tidak bisa kita pungkiri, pelabuhan itu salah satu akses masuk barang apa pun, termasuk barang haram. Baik pelabuhan laut maupun darat, semuanya berpotensi,” sebutnya, dikutip dari berita 29 Desember 2025, Media Kaltim.
Upaya perbaikan akan dilakukan pemerintah, pelayanan akan dilakukan maksimal. Transportasi massal seperti kapal laut akan masih menjadi primadona bagi masyarakat ketika pelayanan semakin bagus dan keamanan masyarakat saat menaiki transportasi massal dapat terlindungi atau diprioritaskan bagi para pemegang kebijakan.
Akhirnya, perjalanan saya dari Parepare menuju Loktuan, Bontang sampai dengan selamat. Menaiki transportasi massal seperti kapal laut pada akhirnya menjadi pilihan ketika pelayanan dan keamanan penumpang menjadi prioritas saat menggunakan transportasi massal.
Penulis, Yahya Yabo, S.Pd
Redaktur Radar Media Network/Media Kaltim Network





