Kasus PTM Menguat, Peringatan Dini dari Lonjakan Kunjungan Puskesmas

SELEPAS perayaan Idulfitri, geliat layanan kesehatan di Kutai Timur justru memasuki fase sibuk. Di balik suasana yang kembali normal, puskesmas di Sangatta mencatat tingginya kunjungan masyarakat dengan pola keluhan yang relatif seragam: penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan asam urat.

Fenomena ini bukan sekadar rutinitas pasca Lebaran, melainkan cerminan perubahan pola hidup yang belum sepenuhnya terkendali.

Di Puskesmas Teluk Lingga, Sangatta Utara, jumlah kunjungan harian berada di kisaran 100 hingga 200 pasien. Angka tersebut terbilang tinggi, namun tidak sepenuhnya merepresentasikan lonjakan kasus baru. Sebagian besar pasien merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang melakukan kontrol rutin.

Kepala BLUD Puskesmas Teluk Lingga, drg Sri Endrayati, menegaskan bahwa tren PTM tetap menjadi perhatian utama, terutama karena mulai menyasar kelompok usia produktif.

“Sebagian besar pasien memang berusia di atas 50 tahun dan rutin melakukan kontrol kesehatan. Namun sekarang, usia muda juga mulai terdampak. Ini berkaitan dengan pola hidup yang kurang sehat,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

Lonjakan kunjungan pasca Lebaran hampir selalu berulang setiap tahun. Pola konsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan garam selama hari raya menjadi faktor dominan. Di sisi lain, aktivitas fisik cenderung menurun, sementara waktu istirahat kerap terabaikan.

Kombinasi ini memicu peningkatan tekanan darah, lonjakan kadar gula, hingga gangguan metabolisme lainnya.

Namun, persoalan tidak berhenti pada momen Lebaran semata. Gaya hidup modern yang serba praktis, konsumsi makanan olahan, serta rendahnya kesadaran menjaga pola makan sehat memperparah kondisi tersebut.

Dalam konteks ini, Lebaran hanya menjadi “pemicu”, sementara akar masalahnya terletak pada kebiasaan jangka panjang.

Perubahan profil pasien menjadi sinyal penting. Jika sebelumnya PTM identik dengan lansia, kini kelompok usia produktif mulai mendominasi sebagian kasus.

Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran epidemiologi penyakit di tingkat masyarakat. Faktor seperti stres kerja, kurang aktivitas fisik, pola makan instan, serta kebiasaan begadang menjadi pemicu utama di kalangan usia muda.

Tanpa intervensi yang tepat, tren ini berpotensi meningkatkan beban kesehatan di masa depan, termasuk risiko komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.

Antara Kesadaran dan Beban Layanan

Di satu sisi, tingginya angka kunjungan mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan. Hal ini menjadi indikator positif dalam upaya deteksi dini.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa beban PTM di masyarakat masih tinggi dan belum terkendali secara optimal.

“Pasien yang datang kebanyakan memang kontrol rutin. Belum ada lonjakan signifikan untuk penyakit tertentu, tapi tren PTM ini tetap perlu diwaspadai,” jelas Sri.

Dengan jumlah peserta BPJS yang mencapai lebih dari 30 ribu orang, Puskesmas Teluk Lingga memegang peran strategis sebagai garda terdepan layanan kesehatan primer. Kapasitas layanan yang stabil menjadi kunci untuk menjaga kualitas pelayanan di tengah tingginya permintaan.

Di tengah lonjakan kunjungan, pelayanan kesehatan tetap berjalan normal tanpa penerapan work from home (WFH). Hal ini menegaskan bahwa sektor kesehatan merupakan layanan publik esensial yang tidak dapat berhenti dalam kondisi apa pun.

“Kami tidak mungkin menerapkan WFH karena pelayanan kesehatan adalah pelayanan publik di bidang kesehatan,” tegasnya.

Keberlangsungan layanan ini menjadi faktor penting dalam memastikan akses masyarakat terhadap pemeriksaan dan pengobatan tetap terjaga.

PHBS dan Deteksi Dini Jadi Kunci

Menghadapi tren PTM yang terus meningkat, upaya promotif dan preventif menjadi strategi utama. Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pemeriksaan kesehatan rutin dinilai sebagai langkah efektif untuk menekan risiko penyakit.

Kesadaran untuk melakukan deteksi dini menjadi krusial, mengingat banyak kasus PTM berkembang tanpa gejala yang jelas.

“Jangan menunggu sakit untuk berobat. Kadang orang merasa sehat, padahal sudah ada gejala. Karena itu, pemeriksaan rutin sangat diperlukan,” ujar Sri.

Lonjakan kunjungan pasca Lebaran di Sangatta menjadi alarm yang tidak boleh diabaikan. Ia mencerminkan siklus tahunan yang berulang, sekaligus menunjukkan tantangan besar dalam mengubah perilaku kesehatan masyarakat.

Tanpa perubahan pola hidup yang konsisten, risiko PTM akan terus meningkat dan berpotensi menekan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.

Lebaran mungkin telah usai, tetapi pekerjaan rumah di sektor kesehatan justru baru dimulai: membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kesehatan bukan hanya kebutuhan sesaat, melainkan investasi seumur hidup. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI