Kembali Bergeliat Adu Layang-layang di Mahulu, UMKM Dapat Untung

TENGGARONG — Menjelang sore, langit di Jalan Selimpat, Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, berubah menjadi panggung raksasa penuh warna. Beragam layangan dengan berbagai ukuran dan warna menjuntai melayang bebas, saling serang, saling menghindar, saling ingin menjadi yang paling tinggi dan paling tangguh.

Di bawahnya, puluhan warga berdiri di pematang jalan, menatap ke atas dengan konsentrasi penuh, tangan terus mengulur dan menarik benang seolah memegang kendali atas takdir kecil yang terbang di ujung tali itu.

Sudah beberapa pekan terakhir, tempat tersebut kembali ramai. Setelah sekian lama hanya menjadi jalur alternatif warga, kini ruas Jalan Selimpat seperti hidup lagi. Tidak ada panggung megah, tidak ada perlombaan resmi, namun adu layang-layang yang dilakukan spontan oleh warga cukup untuk mengundang kerumunan.

Salah seorang pemain, Surya, menjadi satu di antara yang paling bersemangat. Ia sudah beberapa hari turun ke lokasi, membawa puluhan gulung benang dan setumpuk layangan yang ia susun sendiri dari rumah.

“Seru mas, lumayan buat hiburan,” ujarnya sambil tersenyum, tanpa mengalihkan pandangan dari langit.

Sore itu, Surya membawa 10 layangan. Sebagian sudah berguguran, putus saat beradu di udara. Namun baginya, kehilangan layangan bukanlah penyesalan, melainkan bagian dari kesenangan itu sendiri.

“Ada kepuasan tersendiri mas kalau kita menang waktu layangan kita beradu,” katanya, mata tetap menatap seolah mencari korban berikutnya.

Fenomena adu layang-layang di Maluhu tidak hanya menyatukan warga, tapi membuka pintu rezeki bagi para pengrajin dan pedagang. Di antara kerumunan, seorang pria memanggul puluhan layangan dengan warna menyala. Dialah Purwanto, penjual layangan musiman yang justru panen cuan (untung) saat angin bagus dan pemain datang bergantian.

Setiap sore, ia datang sebelum keramaian bermula. Tidak butuh lapak besar, cukup berdiri dengan ikatan layangan di tangan dan tulisan kecil Rp5 ribu, kemudian pembeli datang sendiri.
“Satunya Rp5 ribu buat yang kecil, kalo yang besar Rp10 ribu. Kalau lagi banyak orang main gini lumayan, bisa laku 30–50 sehari,” ungkap Purwanto.

Keberkahan tidak hanya dirasakan para penjual layang-layang. Di pinggir jalan tampak gerobak penjual jajanan yang tidak kalah ramai. UMKM kecil di Maluhu ikut merasakan manisnya angin musim layangan. Anak-anak membeli es setelah berlari mengejar layangan putus.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI