DALAM beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia perlahan mulai terbiasa dengan satu kenyataan baru. Terbang kini menjadi semakin mahal. Namun bagi Kalimantan Timur, persoalan itu jauh lebih serius dibanding sekadar kenaikan ongkos perjalanan.
Di provinsi yang tengah bersiap menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pesawat bukan hanya alat transportasi. Ia adalah urat nadi mobilitas, penghubung ekonomi, jalur distribusi manusia dan barang, sekaligus denyut utama aktivitas bisnis antardaerah.

Ketika harga tiket pesawat naik, dampaknya tidak berhenti di bandara.
Ia menjalar ke hotel-hotel yang mulai kehilangan tamu. Agen perjalanan yang penjualannya menurun. Pelaku usaha yang memangkas perjalanan bisnis. Investor yang mulai menghitung ulang biaya mobilitas. Hingga masyarakat yang terpaksa menunda perjalanan karena ongkos terbang dianggap tidak lagi masuk akal.
Fenomena itu kini nyata dirasakan di berbagai wilayah Kalimantan Timur.
Harga tiket penerbangan rute Balikpapan–Jakarta yang sebelumnya berkisar Rp1 juta hingga Rp1,2 juta kini bisa menyentuh Rp1,8 juta per orang. Untuk sejumlah rute tertentu, biaya perjalanan domestik bahkan disebut lebih mahal dibanding penerbangan ke luar negeri seperti Malaysia atau Singapura.
“Lebih murah ke luar negeri dibanding domestik,” keluh sejumlah agen perjalanan.
Kondisi tersebut muncul setelah pemerintah mengizinkan maskapai menerapkan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar menyusul lonjakan harga avtur global akibat eskalasi konflik Timur Tengah. Kebijakan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 1041 Tahun 2026 yang memperbolehkan maskapai mengenakan biaya tambahan hingga maksimal 50 persen dari tarif batas atas tiket ekonomi.
Belum selesai sampai di situ, pemerintah kini juga membuka peluang kenaikan Tarif Batas Atas (TBA) tiket pesawat domestik.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi secara terbuka menyatakan pemerintah sedang membahas penyesuaian TBA bersama maskapai dan kementerian terkait. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa harga tiket pesawat masih berpotensi naik dalam waktu dekat.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa harga tiket pesawat di Indonesia begitu mudah melonjak ketika harga avtur naik? Seberapa besar sebenarnya pengaruh bahan bakar terhadap tarif penerbangan? Mengapa masyarakat di luar Jawa menjadi kelompok yang paling terdampak? Dan apakah mahalnya tiket pesawat akan mengganggu geliat ekonomi serta pembangunan IKN?
Liputan Khusus Media Kaltim kali ini mencoba mengulik persoalan tersebut secara lebih mendalam.
Tim redaksi menelusuri bagaimana kenaikan harga avtur global berujung pada mahalnya ongkos penerbangan domestik. Bagaimana kebijakan fuel surcharge diterapkan. Apa yang sebenarnya terjadi di balik pengurangan rute dan jadwal penerbangan. Hingga bagaimana efek domino kenaikan tiket mulai terasa pada sektor perdagangan, hotel, pariwisata, inflasi daerah, dan mobilitas masyarakat di Kalimantan Timur.
Di Balikpapan misalnya, trafik penumpang Bandara SAMS Sepinggan mulai mengalami penurunan seiring berkurangnya frekuensi penerbangan. Di Penajam Paser Utara, pemerintah daerah mulai mewaspadai dampak kenaikan biaya distribusi terhadap harga kebutuhan pokok. Sementara di Kutai Timur dan PPU, okupansi hotel terus tertekan akibat berkurangnya perjalanan dinas dan tamu bisnis.
Bahkan di wilayah perbatasan dan pedalaman seperti Kutai Barat, transportasi udara tetap menjadi kebutuhan vital yang sulit tergantikan. Ketika harga tiket naik, masyarakat praktis tidak memiliki banyak pilihan alternatif.
Di sisi lain, pemerintah dan maskapai penerbangan juga menghadapi dilema yang tidak ringan. Maskapai mengaku terbebani lonjakan biaya operasional akibat mahalnya avtur dan fluktuasi global. Sementara pemerintah harus menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri penerbangan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Persoalan ini menjadi semakin kompleks karena terjadi di tengah momentum besar pembangunan IKN yang justru membutuhkan konektivitas udara kuat, stabil, dan terjangkau.
Melalui liputan khusus ini, Media Kaltim mengajak pembaca melihat persoalan kenaikan tiket pesawat bukan hanya dari sisi mahalnya harga perjalanan. Tetapi juga sebagai potret tentang bagaimana gejolak global dapat langsung mempengaruhi denyut ekonomi daerah, mobilitas masyarakat, hingga arah pembangunan Kalimantan Timur ke depan.
Sebab ketika langit semakin mahal, yang dipertaruhkan bukan hanya perjalanan seseorang menuju tujuan. Tetapi juga akses, pertumbuhan ekonomi, investasi, dan masa depan konektivitas wilayah di jantung baru Indonesia. (MK)





