SAMARINDA – Saat ini di tengah masifnya pembangunan infrastruktur kota, potret buram fasilitas pendidikan di Kota Samarinda masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.
Komisi IV DPRD Kota Samarinda menyoroti adanya sejumlah gedung sekolah yang kondisinya memprihatinkan, bahkan beberapa di antaranya masih berbahan dasar kayu dan mengalami kerusakan berat pada bagian atap.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, menyatakan pihaknya telah turun langsung ke lapangan untuk memvalidasi laporan masyarakat mengenai kerusakan fasilitas pendidikan tersebut.
“Kami telah melakukan tinjauan lapangan ke beberapa titik sekolah. Faktanya, kita masih menemukan bangunan sekolah yang masih berbahan kayu, atapnya bocor di mana-mana, sehingga sangat mengganggu kenyamanan siswa saat hujan turun,” ungkap Ismail Latisi saat ditemui di ruangannya, Rabu (6/5/2026).
Selain kondisi fisik bangunan, Ismail menyoroti masalah rasio daya tampung sekolah yang tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah peserta didik di wilayah perkotaan.
“Bukan hanya soal atap bocor, kami juga melihat ada ketimpangan antara jumlah murid dengan ketersediaan ruang kelas. Kapasitasnya sudah tidak mencukupi lagi. Jika ini dibiarkan, kualitas penyerapan materi pelajaran oleh siswa tidak akan maksimal karena kondisi kelas yang terlalu sesak,” tegasnya.
Ia menambahkan kunjungan lapangan tersebut dilakukan bersama jajaran Dinas Pendidikan untuk memastikan perencanaan perbaikan tahun depan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan skala prioritas di masing-masing sekolah.
Meski secara regulasi anggaran pendidikan telah ditetapkan sebesar 20 persen dari APBD, Ismail mengingatkan tantangan terbesarnya adalah efisiensi alokasi agar mencakup seluruh aspek, mulai dari fisik hingga kesejahteraan pengajar.
“Anggaran pendidikan memang sudah dipatok 20 persen, tapi kita harus benar-benar jeli dalam penggunaannya. Tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan revitalisasi fisik sekolah yang rusak dengan pemenuhan kuota guru yang juga masih kurang,” jelas Ismail.
Selain itu, Ismail Latisi mendesak pemerintah kota melalui dinas terkait untuk segera memetakan sekolah-sekolah dengan kerusakan paling parah agar mendapatkan prioritas anggaran dalam waktu dekat.
“Kami di DPRD, khususnya Komisi IV, akan terus mengawal agar anggaran 20 persen tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa. Jangan sampai ada lagi anak-anak kita yang harus belajar di bawah atap bocor atau di kelas yang bangunannya sudah keropos dimakan usia,” jelasnya. (rm/adv)
Pewarta: Abdi
Editor: Yahya Yabo





