SAMARINDA – Pernah menjadi kebanggaan, kini menjadi kegelisahan. Begitulah nasib Jembatan Layang Air Hitam, flyover pertama di Kota Samarinda yang dulu dielu-elukan sebagai simbol kemajuan kota tepian. Setelah hampir satu dekade berdiri, wajah megahnya kini mulai memudar digantikan oleh retakan panjang yang menganga di dinding bawahnya.
Pantauan di lapangan memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Retakan memanjang di bawah jembatan terlihat jelas dengan kedalaman yang cukup untuk dimasuki tangan orang dewasa. Pemandangan itu bukan hanya mencoreng estetika kota, tetapi menimbulkan rasa cemas di kalangan warga yang melintas setiap hari.
Siko, salah satu pengguna jalan, tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Dengan nada serius, ia menunjuk ke arah celah yang tampak di antara beton.
“Dalam sekali retaknya. Bisa dimasuki tangan orang dewasa. Kalau begini terus dan tidak diperbaiki, saya takut jembatan ini bisa roboh,” ujarnya, Jumat (10/10/2025).
Ia menyebut setiap malam sekitar pukul 21.00 WITA, truk-truk besar kerap melintas di jalur tersebut.
“Beban dari truk besar itu mungkin yang membuat struktur jembatan makin lemah. Tapi yang lebih saya khawatirkan, tidak ada tanda-tanda perawatan. Sejak diresmikan, saya belum pernah lihat ada petugas yang memeriksa,” tambahnya.
Jembatan Layang Air Hitam diresmikan pada 22 Juli 2016, menjadi proyek infrastruktur penting yang kala itu disebut sebagai jawaban atas kemacetan di kawasan padat lalu lintas Samarinda. Kehadirannya menandai era baru transportasi perkotaan dan sempat menjadi kebanggaan masyarakat.
Namun kini, hampir sepuluh tahun berselang, simbol kemajuan itu seolah menjadi saksi bisu dari rapuhnya perhatian pemerintah terhadap pemeliharaan infrastruktur publik. Cat dinding yang dulu cerah kini memudar, bagian bawah mulai retak, dan keanggunan flyover itu perlahan terkikis waktu.
Ironisnya, di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang digadang-gadang membawa kemajuan baru bagi Kalimantan Timur, jembatan yang berdiri di jantung Kota Samarinda ini justru tampak dilupakan.
“Kalau sampai ambruk, bukan cuma bahaya bagi orang, tapi memalukan. Ini dulu jadi kebanggaan kita, sekarang malah dibiarkan seperti ini,” tutur Siko.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah daerah maupun instansi teknis terkait kondisi struktur jembatan tersebut.
Pewarta: Hanafi
Editor: Yahya Yabo





