TENGGARONG – Penunjukan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Kalimantan Timur 2026 menjadi kehormatan sekaligus tantangan besar.
Di balik rencana perhelatan akbar syiar Al-Quran itu, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kukar kini berpacu dengan waktu untuk memastikan seluruh aspek kesiapan berjalan selaras.
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kukar sekaligus Ketua Umum LPTQ Kukar, Sunggono, menegaskan persiapan tidak hanya berbicara soal panggung dan seremoni.
LPTQ Kukar harus memastikan pembinaan qori-qoriah, hafidz-hafidzah, hingga peserta seluruh cabang musabaqah berjalan konsisten dan merata.
Training Center (TC) menjadi tulang punggung agar kualitas kafilah tuan rumah mampu bersaing sekaligus menjaga marwah Kukar di hadapan daerah lain.
“Ini bukan hanya melihat ke belakang, tapi menyiapkan langkah ke depan. Kukar akan menjadi tuan rumah, sehingga semua harus terukur dan disepakati sejak awal,” ujar Sunggono.
Di sisi teknis, tantangan muncul pada penjadwalan berjenjang. MTQ tingkat kecamatan dan kabupaten harus rampung tepat waktu agar seleksi, pemetaan kekuatan, dan pemantapan peserta dapat dilakukan secara optimal sebelum MTQ tingkat provinsi digelar.
Aspek pembiayaan menjadi tantangan tersendiri. Kondisi fiskal daerah yang mengalami penyesuaian menuntut pengelolaan anggaran yang cermat.
LPTQ Kukar dituntut kreatif menjaga keseimbangan antara efisiensi pelaksanaan dan tetap memberikan penghargaan yang layak bagi peserta berprestasi.
“Seremonial harus disederhanakan, tapi pembinaan dan apresiasi prestasi tidak boleh turun. Itu yang harus kita jaga,” tegasnya.
Standar hadiah, bonus prestasi, hingga dukungan pembinaan harus disusun adil tanpa membebani keuangan daerah.
Selain itu, kesiapan sarana dan prasarana menjadi pekerjaan rumah. Venue lomba, akomodasi kafilah, transportasi, hingga dukungan logistik harus dipastikan memadai.
Sebagai tuan rumah, Kukar tidak hanya dinilai dari kelancaran lomba, tetapi dari kenyamanan peserta dan tamu yang datang dari seluruh kabupaten/kota se-Kaltim.
Koordinasi lintas sektor pun menjadi kunci. Sinergi antara LPTQ, pemerintah daerah, Kementerian Agama, tokoh ulama, hingga relawan lokal diperlukan agar penyelenggaraan MTQ berjalan tertib dan bermakna. Tanpa kolaborasi yang solid, beban persiapan akan terasa berat.
Meski tantangan tidak sedikit, optimisme tetap terjaga. Dengan persiapan bertahap dan pembinaan berkelanjutan.
Kukar menargetkan MTQ Provinsi Kaltim 2026 bukan sekadar sukses secara teknis, tetapi meninggalkan kesan mendalam sebagai ajang syiar Al-Quran yang berkualitas, berprestasi, dan membanggakan daerah.
“Kita ingin tampil sebagai tuan rumah yang bukan hanya sukses penyelenggaraan, tetapi juga kuat prestasinya,” jelasnya.
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





