Mahasiswa Rantau hingga Penumpang Domestik Mulai “Menyerah” Pulang

TINGGINYA harga tiket pesawat tidak hanya dikeluhkan pelaku usaha maupun aparatur pemerintahan di Kalimantan Timur. Mahalnya biaya penerbangan kini dirasakan langsung oleh mahasiswa rantau, pekerja, hingga masyarakat umum yang bergantung pada transportasi udara untuk bepergian antardaerah.

Di provinsi yang masih memiliki keterbatasan konektivitas darat seperti Kalimantan Timur, pesawat bukan lagi sekadar moda transportasi pilihan, melainkan kebutuhan utama. Ketika harga tiket melonjak, dampaknya tidak hanya terasa pada mobilitas masyarakat, tetapi juga kehidupan sosial hingga kondisi ekonomi keluarga.

Salah satu keluhan datang dari Rahman (23), warga Samarinda yang rutin menggunakan penerbangan domestik untuk bepergian ke luar daerah. Pengguna maskapai dari grup Lion Air Group itu mengaku harga tiket saat ini sudah terlalu tinggi untuk ukuran penerbangan dalam negeri.

Ia mengatakan sudah beberapa bulan terakhir memantau harga tiket penerbangan dari Bandar Udara APT Pranoto menuju Surabaya maupun penerbangan dari Balikpapan. Namun, harga yang muncul justru terus berada di level tinggi.

“Dengan harga Rp1,4 juta lebih untuk domestik rasanya cukup berat. Saya sudah lama bolak-balik cek aplikasi, sebelumnya pernah tembus Rp1,8 juta dari Samarinda, lalu dari Balikpapan sekitar Rp1,7 juta di awal Mei,” ujarnya.

Rahman mencontohkan, untuk penerbangan rute Samarinda menuju Bandar Udara Internasional Juanda pada 17 Mei 2026, dirinya harus membeli tiket seharga Rp1.499.700.

Menurutnya, mahalnya tiket penerbangan domestik kini mulai mengubah cara masyarakat menentukan tujuan perjalanan. Ketika selisih biaya perjalanan dalam negeri dan luar negeri semakin tipis, masyarakat bisa mulai mempertimbangkan bepergian ke luar negeri dibanding destinasi domestik.

“Harapannya tiket pesawat domestik jangan di atas Rp1 juta. Semoga harganya bisa turun atau stabil lagi, karena sekarang harganya hampir sama seperti keluar negeri, jadi orang bisa berpikir lebih baik sekalian liburan ke luar negeri,” katanya.

Mahasiswa Rantau Mulai Mengurangi Frekuensi Pulang

Dampak paling emosional dari mahalnya tiket pesawat justru dirasakan mahasiswa rantau. Bagi mereka, kenaikan harga penerbangan bukan hanya soal pengeluaran tambahan, tetapi juga menyangkut kesempatan bertemu keluarga.

Mira, mahasiswa asal Bontang yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta, mengaku kini harus mengurangi frekuensi pulang kampung akibat mahalnya biaya perjalanan udara.

“Kalau dulu masih bisa pulang satu atau dua kali dalam setahun, sekarang sudah tidak bisa. Karena tiket bisa sama dengan biaya hidup di sana untuk beberapa bulan,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Mira, kondisi tersebut membuat banyak mahasiswa memilih tetap tinggal di kota perantauan, bahkan saat ada kebutuhan keluarga. Biaya tiket dianggap terlalu mahal jika dibandingkan dengan kebutuhan kuliah dan biaya hidup sehari-hari.

Untuk menyiasati keadaan, mahasiswa mulai berburu tiket promo, memesan jauh hari, hingga memilih penerbangan transit agar lebih murah. Namun upaya tersebut sering kali tidak cukup membantu karena harga tiket tetap tinggi, termasuk di luar musim liburan.

“Kalau mendekati Lebaran atau akhir tahun biasanya tiket cepat habis dan harganya melonjak. Kadang kami kesulitan dapat tiket yang sesuai budget,” tambahnya.

Bagi mahasiswa asal Kalimantan, transportasi udara menjadi kebutuhan vital karena perjalanan darat menuju daerah asal memerlukan waktu sangat panjang dan tidak selalu tersedia.

“Pesawat jadi pilihan utama karena lebih cepat dan tidak terlalu capek. Kalau tiket mahal, tentu sangat menyulitkan kami sebagai mahasiswa rantau,” katanya.

Situasi itu membuat sebagian mahasiswa harus menunda kepulangan meskipun ada keperluan keluarga, demi menjaga biaya pendidikan tetap aman.

Avtur Melonjak, Maskapai Sesuaikan Tarif

Di balik kenaikan tiket pesawat, maskapai penerbangan menghadapi lonjakan biaya operasional akibat naiknya harga avtur. Sejak 1 April 2026, harga avtur domestik dilaporkan meningkat sekitar 70 hingga 80 persen, dari Rp13.656 per liter menjadi Rp23.551 per liter.

Kenaikan tersebut dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak terhadap harga minyak dunia. Dalam industri penerbangan, avtur menjadi salah satu komponen biaya terbesar sehingga perubahan harga sangat memengaruhi tarif penerbangan.

Kepala Kantor Badan Layanan Umum Unit Penyelenggara Bandar Udara Bandar Udara APT Pranoto, I Kadek Yuli Sastrawan mengatakan, sejauh ini kenaikan harga tiket belum berdampak signifikan terhadap jumlah penumpang.

“Sejauh ini kita belum melihat adanya penurunan jumlah penumpang, untuk saat ini masih stabil, bahkan beberapa penerbangan tetap penuh,” ujarnya.

Menurut Kadek, penerbangan rute Samarinda–Jakarta maupun sebaliknya masih memiliki tingkat keterisian tinggi. Hal itu menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi udara masih besar meski harga tiket mengalami kenaikan.

Ia menegaskan, pihak bandara tidak memiliki kewenangan menentukan harga tiket karena tarif sepenuhnya menjadi ranah maskapai penerbangan.

“Penetapan tarif sepenuhnya menjadi kewenangan maskapai penerbangan sebagai badan usaha, sementara kita hanya sebagai operator bandara,” katanya.

Kadek menjelaskan, maskapai tidak dapat menyimpan stok avtur dalam jumlah besar seperti sektor perdagangan lain. Akibatnya, ketika harga bahan bakar naik, biaya operasional langsung terdampak dan akhirnya dibebankan melalui penyesuaian tarif tiket.

“Maskapai itu tidak bisa menyimpan stok avtur, jadi ketika harga naik, otomatis biaya operasional ikut naik dan ini berpengaruh ke tarif,” tutupnya.

Lonjakan harga tiket pesawat kini mulai memunculkan kekhawatiran lebih luas. Jika kondisi berlangsung lama, mobilitas masyarakat dikhawatirkan menurun dan berdampak terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pariwisata domestik.

Masyarakat dengan penghasilan menengah mulai berpikir ulang untuk bepergian menggunakan pesawat. Sementara mahasiswa rantau harus memilih antara menjaga biaya pendidikan atau pulang bertemu keluarga.

Di daerah seperti Kalimantan Timur yang sangat bergantung pada konektivitas udara, mahalnya tiket pesawat tidak lagi sekadar persoalan transportasi. Ia telah berubah menjadi persoalan sosial yang memengaruhi hubungan keluarga, kesempatan pendidikan, hingga kualitas hidup masyarakat sehari-hari. (MK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI