TENGGARONG – Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini menjadi contoh nyata bagaimana desa bisa bangkit dari potensi lokal. Dari yang dulunya bergantung pada pertanian tradisional, kini Margahayu menjelma pusat ekonomi baru berbasis perkebunan karet dan sawit.
Transformasi tersebut bukan terjadi dalam semalam. Perubahan besar dimulai lebih dari satu dekade lalu ketika pemerintah menyalurkan bantuan bibit karet. Langkah kecil itu kini tumbuh menjadi penggerak utama roda ekonomi desa.
Kepala Desa Margahayu, Rusdi, menyebut keberhasilan itu terasa saat hasil kebun warga mulai panen dan memberi dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
“Alhamdulillah, bantuan bibit dulu sekarang sudah membuahkan hasil. Warga bisa merasakan manfaatnya,” ujar Rusdi, Kamis (2/10/2025).
Dari sekitar 1.200 Kepala Keluarga (KK), 35 persen kini menggantungkan hidup dari hasil kebun karet dan sawit. Sementara sisanya tetap setia di sektor pertanian padi yang menjadi warisan budaya tani Margahayu.
Untuk menjaga kesinambungan ekonomi, pemerintah desa menggagas peran aktif BUMDes Mandiri Sejahtera sebagai penghubung antara petani dengan industri pengolahan. Model ini dinilai mampu memotong rantai distribusi dan memberi harga jual lebih baik bagi petani.
“Kami ingin petani fokus produksi. Urusan distribusi biar BUMDes yang urus, supaya lebih efisien,” tegas Rusdi.
Tren baru muncul di kalangan pemuda desa. Generasi muda kini banyak terjun ke perkebunan sawit karena melihat peluang pasar yang semakin terbuka. Sekitar 10 persen lahan produktif telah dialihkan menjadi kebun sawit yang dikelola anak-anak muda.
Kehadiran pabrik PT Niaga Emas di sekitar wilayah menjadi katalis perubahan. Industri ini memberi harapan baru bahwa sawit akan menjadi motor ekonomi desa, mendampingi karet yang lebih dulu mapan.
“Anak-anak muda sekarang melihat sawit sebagai peluang besar. Pasarnya jelas, pabriknya dekat,” tambah Rusdi.
Kini, Margahayu memiliki 20 kelompok tani aktif yang telah memiliki legalitas resmi. Namun, tantangan tetap ada terutama soal biaya distribusi karet yang tinggi akibat jarak ke pabrik.
Sebagai solusi, pemerintah desa menyiapkan pelatihan pengolahan hasil perkebunan agar masyarakat tak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk turunan bernilai tambah.
Dengan semangat gotong royong, dukungan pemerintah, dan inovasi BUMDes, Margahayu melangkah mantap menuju kemandirian ekonomi. Desa ini tidak sekadar tumbuh, tapi membangun fondasi kokoh menuju masa depan sejahtera berbasis potensi lokal. (adv)
Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo





