Masjid Agung Tenggarong Fokus ke Ibadah dan Layanan Sosial Saat Ramadan 1447 H

TENGGARONG – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, denyut persiapan mulai terasa di Masjid Agung Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Tenggarong. Namun tahun ini, bukan gemerlap pasar atau festival yang menjadi sorotan utama, melainkan penguatan pelayanan ibadah dan sosial bagi jamaah.

Ketua Bapel Masjid Agung SAMS, Muhammad Bisyron, memastikan seluruh struktur kepanitiaan Ramadan sudah terbentuk. Polanya hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, karena agenda Ramadan merupakan rutinitas tahunan yang sudah terorganisir rapi.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, karena ini kegiatan rutin tahunan, kami sudah terbiasa. Kepanitiaan otomatis sudah kami siapkan untuk menyambut bulan Ramadan,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Salah satu perubahan signifikan terjadi pada Lorong Pasar Ramadan. Selama tiga tahun terakhir, lorong tersebut menjadi magnet ekonomi warga di kawasan depan masjid. Pada Ramadan 2026 seharusnya memasuki tahun keempat.

Namun kebijakan pemerintah daerah untuk mempromosikan kawasan baru membuat lokasi Pasar Ramadan dipindahkan ke Tangga Arung Square.

“Namun ada kebijakan pemerintah daerah untuk promosi Tangga Arung Square yang baru, sehingga Pasar Ramadan yang biasanya di depan Masjid Agung digeser ke sana,” jelas Bisyron.

Selain itu, Irma Ramadan Fair yang sebelumnya rutin digelar tidak dilaksanakan tahun ini akibat rasionalisasi anggaran. Padahal kegiatan tersebut biasanya menjadi bagian dari destinasi wisata khas Ramadan di Tenggarong melalui kolaborasi dengan Dinas Pariwisata.

Keputusan itu praktis mengubah wajah Ramadan di kawasan masjid. Tidak lagi bertumpu pada keramaian festival, tetapi kembali ke esensi spiritual.

Meski ada penyesuaian kegiatan pendukung, pelayanan sosial justru diperkuat. Setiap hari, pengurus masjid menyiapkan 250 hingga 350 paket buka puasa gratis bagi jamaah.

Pada 10 malam terakhir Ramadan dari malam ke-21 hingga akhir puasa, kegiatan ditambah dengan sahur bersama untuk sekitar 200 jamaah.

“Alhamdulillah kalau di sini ramai, Mas. Buktinya kami itu kekurangan terus untuk buka puasa. Untuk buka puasa yang kami siapkan 250-300 itu selalu kurang,” ujarnya.

Antusiasme jamaah, terutama pada awal Ramadan, kerap melampaui jumlah paket yang tersedia. Meski di pertengahan Ramadan jumlah jamaah sedikit berkurang karena mudik dan sebaran masjid yang semakin banyak di Tenggarong, Masjid Agung tetap menjadi salah satu pusat ibadah favorit warga.

Tidak hanya fokus pada jamaah dewasa, Masjid Agung menggelar pembinaan generasi muda melalui lomba anak saleh, tartil Al-Quran, hingga lomba azan.

“Rajin salat selama Ramadan. Lomba anak saleh itu salat lima waktu di masjid, anak-anak SD dan SMP yang libur gitu ‘kan,” kata Bisyron.

Program itu diarahkan untuk membiasakan anak-anak memakmurkan masjid sejak dini, memanfaatkan momentum Ramadan sebagai ruang pendidikan karakter.

Menjelang Idulfitri, Masjid Agung SAMS kembali membuka penerimaan zakat dan infak untuk disalurkan kepada mustahik yang telah didata. Distribusi tidak hanya menjangkau empat hingga lima kelurahan sekitar masjid, tetapi wilayah luar Tenggarong.

Salah satunya Desa Jonggon, Kecamatan Loa Kulu. Dalam dua tahun terakhir, masjid secara konsisten menyalurkan 135 paket zakat ke wilayah tersebut.

“Bahkan kita mengirimkan hasil kumpulan zakat infak ini dan beras itu ke Desa Jonggon,” katanya.

Tidak berhenti di sana, kolaborasi sosial berlanjut hingga Iduladha melalui pengiriman satu ekor sapi kurban setiap tahun ke Jonggon.

Pewarta: Ady Wahyudi
Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

CATATAN AGUS SUSANTO

INFO GRAFIS

OPINI